My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
48. Arsi Khawatir



Di ruang meeting, Viki, Kevin, Desta dan Bayu tengah berbincang masalah yang menimpa keluarga nya. Banyak sekali musuh yang ingin menghancurkan mereka terutama Davin.


"Aku fikir sebaiknya kamu menikah dengan Arsi" ujar Desta.


"Huh? " kaget Viki, ini terlalu cepat, Arsi pasti belum siap.


"Aku setuju, akan lebih muda untuk mu menjaga Arsi jika kalian sudah menikah" Sahut Kevin menyetujui usulan Desta.


"Tapi.. ini terlalu cepat bagi Arsi. Baru saja mengetahui fakta kami bukan saudara kandung saja dia sangat syok" jawab Viki.


"Ini jalan bagus kak, apalagi public tidak tahu kalau kalian Saudara. " ujar Bayu.


Memang benar, belum ada yang tau status Arsi yang sebenarnya kecuali sahabat nya.


Brak~~


tiba-tiba pintu ruang terbuka, menampilkan Arsi yang terengah. "Maaf Pak, saya sudah mencoba menahan gadis ini untuk masuk" ucap sekertaris Viki takut.


"Tidak apa" jawab Viki berdiri dari duduknya menghampiri Arsi.


"Kamu boleh pergi" titah Viki pada sekertaris nya, matanya lurus menatap Arsi yang berusaha mengatur nafasnya.


"Loe gak papa? " tanya Arsi memeriksa tubuh Viki seakan ada yang berkurang.


"Seharusnya gue yang nanya, loe gak papa? kenapa ngos-ngosan? " tanya Viki dingin, namun jauh di dalam hatinya ia begitu khawatir pada Arsi.


"Gak ada, gue hanya khawatir" jawab Arsi datar, nafas nya masih memburu. Ia berjalan mendekati Bayu yang masih duduk di meja.


"Gue minta, haus" ujar Arsi meraih air minum Bayu.


Desta dan Kevin saling melempar pandang, mereka masih belum bisa membaca situasi Arsi saat ini.


"Loe tadi nelfon gue ada apa? " tanya Bayu.


"Gak ada apa apa, gue cuma kangen" jawab Arsi asal. Viki menggeleng mendengar jawaban Arsi, ia berjalan mendekat pada Arsi yang duduk menempati posisinya.


"Jujur sama gue! " ucap Viki tegas.


"apa? " jawab Arsi acuh, ia pura-pura fokus dengan minuman nya.


Cling~~


Sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Arsi, tanpa menunggu lama, gadis itu langsung membukanya. Arsi yakin itu dari orang yang sama.


"Gila!!!!!!! " teriak Arsi pada ponselnya, membuat yang lainnya menatap aneh pada Arsi.


"Ada apa sayang? " tanya Kevin curiga, Arsi terlihat sangat marah pada ponselnya.


"Tidak ada apa apa Uncle" jawab Arsi datar.


Arsi kembali fokus pada ponselnya, ia membalas pesan yang di kirim oleh seseorang yang mengirimkan pesan teror sebelumnya. Hal yang membuat Arsi ngebut mencari keberadaan Viki adalah karena seseorang mengirimkan padanya Foto terbakarnya baju dan sepetu Viki. Teringat jika Bayu mengadakan meeting bersama Viki dan juga kedua uncle nya, maka Arsi cukup menanyakan keberadaan Bayu saja.


Masih fokus dengan ponselnya tanpa memperdulikan Bayu, Viki dan kedua uncle nya menatap ke arahnya.


"Kenapa menatap ku? " tanya Arsi risih dengan tatapan mereka.


"Apa yang sedang loe sembunyikan? " selidik Bayu.


"Gak ada"jawab Arsi datar.


" Jujur sayang "bujuk Desta.


" Gak ada uncle, tenang aja" jawab Arsi tersenyum terpaksa, lali bangkit dari duduknya hendak pergi.


"Mau kemana? " tanya Viki.


"Gue mau balik" jawab Arsi tanpa menoleh, ia fokus menuju pintu.


"Bareng gue, nanti gue mau mampir ke suatu tempat" ucap Viki membuat langkah Arsi terhenti.


Suatu tempat?? oh tidak aku harus ikut dengan nya sebelum orang lain menyakiti Viki. Batin Arsi, ia memutar tubuhnya lalu menghampiri sofa dan berbaring di atasnya.


"huh? " Bayu melongo, baru saja ketus dan tak terbantahkan Arsi malah merubah pikirannya dan tiduran di sofa.


"Good" gumam Viki mengulum senyum.


"Heran" lirih Desta.


"Udah lanjut aja meetingnya" ujar Arsi tanpa menoleh pada mereka, Arsi malah fokus pada ponselnya.


2 jam berlalu, Arsi tanpa sadar tertidur di sofa. Desta, Kevin dan Bayu sudah pulang terlebih dahulu. Tinggallah Viki yang dengan setia menatap Arsi tidur dengan pulas di sofa.


"Cantik" Gumam Viki mengulum senyum, ia selalu ingin berada di samping Arsi, menatap gadis itu tertidur, menatapnya ketika bangun. Namun, ada hal yang membuat Viki masih belum bisa mewujudkan keinginan nya.


Viki tak bisa memperlihatkan perhatian yang begitu khusus untuk Arsi di depan umum. Ada banyak musuh yang sedang mengintai keluarga nya. Bukan karena bisnis saja, Viki juga harus menyelesaikan urusan keluarga kandung nya.


Viki harus menjaga ibu kandung nya dan juga Adik yang seharusnya menjadi istri nya sekarang. Karena banyak nya masalah Viki harus menundanya.


"Tunggu hingga semua nya selesai" bisik Viki tepat di telinga Arsi, lalu mengecup mata, pipi dan... hampir ke bibir namun keburu Arsi menggeliat. Cepat cepat Viki langsung menjauh dari tubuh Arsi.


"engggg... Jam berapa sekarang" rancau Arsi. Ia masih belum sadar jika dirinya masih di kantor Viki. Matanya menatap ke sekeliling nya, mata nya menangkap sosok Viki yang menatap kearahnya.


"Kok ada dia sih, apa gue masih mimpi? " Gumam Arsi.


"Dia mimpiin gue? " batin Viki masih menatap ke arah Arsi.


Plak!


"Auu!!!kok sakit sih" ringis Arsi menampar pipinya sendiri.


"Bego kok kebangetan sih" cibir Viki.


"Gue pikir, gue masih mimpi" dengus Arsi mengusap usap pipinya.


"Oo jadi loe mimpiin gue? " Goda Viki membuat Arsi salah tingkah.


"Apaan sih, halu aja loe, gue mimpiin loe" elak Arsi merapikan bajunya yang sedikit acak acakan karena tidurnya yang memang lasak.


"Gak mau ngaku" cibir Viki.


"Emang gue gak mimpiin loe" sahut Arsi.


Viki terkekeh, meski Arsi berkata tidak Viki tetap tahu jika Arsi sedang berbohong.


"Yah kali gue mimpiin loe" gerutu Arsi, masih tidak terima di tuduh mimpiin Viki yang memang sebenarnya Arsi mimpiin Viki. Wajahnya sekarang sudah merah padam menahan malu.


"Mau kemana? " tanya Arsi menatap Viki berjalan menuju pintu.


"Balik lah, emang gue lu.. " sahut Viki.


"Nyaman tidur di sofa" lanjut Viki meledek.


"Ihhh apaan, gue juga mau balik lah" teriak Arsi mengejar Viki yang sudah keluar duluan dari ruangan.


Arsi pun mengekor kemana arah jalan Viki, pertama ke ruangan Viki untuk mengambil tas kerja Viki. Setelah itu mereka bergegas menuju parkir.


Tiba di dalam mobil, Arsi tidak mengendarai mobilnya, ia malah ikut masuk ke dalam mobil Viki. Meskipun Arsi pengen bawa mobil sendiri, Viki juga tidak akan membiarkan nya.


"Katanya loh mau ke suatu tempat? " tanya Arsi teringat dengan ucapan Viki tadi.


"Gak jadi" jawab Viki ketus, baru aja tadi suasana selow, eh sekarang udah dingin lagi. Arsi mendelik kesal pada Viki.


"Kenapa? " tanya Viki sesekali melirik Arsi sebentar lalu kembali fokus ke jalanan.


"Loe itu aneh" jawab Arsi.


"Aneh gimana? " tanya Viki penasaran.


"Loh tu yah, kadang cuek, kadang jutek kadang dinging... ah sudah lah bosen gue" ucap Arsi nyerah.


"Gue gak aneh, yang ada lu yang aneh"


"Lah kok gue! " tunjuk Arsi pada dirinya.


"Kenapa loe tiba-tiba ke kantor dengan buru buru dan..... " ucap Viki menghentikan ucapan nya. Ia melirik Arsi sembari tersenyum lebar.


"Dan apa? " tanya Arsi bingung.


"Jangan jangan....Loe khawatir sama gue? " goda Viki.


"Gue??? ahhahaha gak mungkin lah" sanggah Arsi tertawa canggung.


"Ngaku aja dehhh" goda Viki menatap Arsi dengan tatapan menggoda. Wajah Arsi sudah merah padam, ia tak dapat mengelak karena memang sudah ketangkap basa.


"Au ah serah loe deh" ujar Arsi nyerah, membuat Viki tertawa terbahak bahak berhasil membuat Arsi kesal.


...T E R I M A K A S I H...