My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
Part bonus



17 tahun kemudian


"Mama!!!!!!!! " teriak seorang anak remaja memanggil mamanya. Arkan Ricardo, putra dari Viki Ricardo dan Arsi Ricardo.


"Hei bocah ingusan, ada apa teriak teriak? "


Arkan menoleh pada sumber suara, matanya memutar malas melihat papanya yang tengah memeluk sang mama. Arsi tak bisa menyahut panggilan putranya karena Viki membekap mulut Arai dengan bibirnya.


"Sungguh contoh yang tidak baik" gerutunya Arkan kesal, papanya selalu seperti ini. Pria remaja itu duduk di sofa satunya lagi di depan Arsi dan Viki.


"Kamu teriak teriak di itu kenapa? " tanya Arai menatap putra semata wayang nya.


"Arkan mau melanjutkan sekolah di luar negeri" pinta Arkan.


Arsi langsung berdiri, melepas rangkulan suaminya begitu saja.


"Tidak Arkan! mama gak setuju Mama gak mau pisah jauh dari kamu"


"Tapi mah, Arkan mau ke Harvard" kekuh Arkan.


"Universitas di dalam negeri juga tak kalah bagusnya sayang dari yang luar. Mama gak mau kamu jauh dari mama" tolak Arsi, ia tidak mau putranya seperti suaminya dulu.


Viki menghela nafasnya berat, ia Bingung ingin membela siapa, di sisi lain istri nya bersikap seperti ini adalah karena nya. Dan jika menolak permintaan Arkan, putra nya berhak memilih dimana ia akan sekolah.


"Sayang, Arkan pergi hanya untuk menuntut ilmu, bukan pergi selamanya" bujuk Viki mencoba memberi pengertian pada sang Istri.


"selamat siang!!!!! "


Gadis berwajah mungil memasuki rumah besar Arsi, gadis tinggi berwajah imut dengan rambut tergerai panjang menambah nilai kecantikannya. Gadis itu langsung bergelayut manja di lengan Arkan.


"Kak Arkan mau kuliah di mana Aunty? " tanya Yundia.


"Katanya mau... "


"tidak ma, jangan di beritahu" ucap Arkan memotong ucapan Arsi.


"Kenapa tidak boleh? " tanya Viki menatap putranya bingung.


"Aku tidak ingin gadis ingusan ini mengikuti ku" Arkan menepis tangan Yundia, yang bergelayut di lengannya.


"Baiklah, jika kamu mau kuliah di sana. Mama mau Yundia juga ikut bersama mu" tutur Arsi tersenyum pada gadis yang juga tersenyum padanya


"Yeeee aunty Arsi berada di pihak ku, kau pasti akan kalah Arkan" kekeh Yundia bersorak menang.


"Mamaaaaa" rengek Arkan kesal.


Viki terkekeh pelan, istri nya ada ada saja memberi syarat pada Arkan.


Yundia adalah putri pertama Bayu dan Meri entah mendapat kutukan atau bagaimana Keluarga Arsi berbelit belit di sana saja.


"Udah lah Arkan, kau tidak bisa mengelak, kemanapun kamu pergi. Akan ada Aku dan selalu ada aku. "


"Tidak!! aku tidak akan pernah mau! " bantah Arkan kesal, lalu bangkit dari duduknya meninggalkan ruang keluarga.


"Ihh Arkan!!! " teriak Yundia mengikuti Arkan.


"Jangan ikuti aku!! "teriak Arkan kesal. Namun tetap Yundia ikuti, ia adalah gadis keras kepala yang memiliki tujuan utama mengejar Arkan.


" Dasar anak muda, nanti setelah berjauhan baru menyesal" gumam Arsi geleng kepala.


"Seperti kamu" ucap Viki kembali memeluk Arsi. Mereka sudah merasa sangat bahagia saat ini.


Di sisi lain Mark tengah menatap foto keluarga, disana terdapat Arsi yang tengah tersenyum.


"Mungkin cinta itu tak selamanya harus memiliki" gumam Mark mengusap usap foto yang di bingkai sangat bagus.


"Masih di liatin aja? " tanya seseorang.


Mark langsung menyimpan bingkai foto yang berukuran 4X4 itu ke bawa lacinya. matanya menatap sang mama yang sudah mulai menua.


"Mama sejak kapan masuk? " tanya Mark mengalihkan pembicaraan.


"Sayang, mau sampai kapan kamu begini?? cobalah untuk move on dan mencari pendamping" lirih Sumi.


Terdengar helaan nafas Mark dalam, pria itu bukan tidak mau mencari pendamping. Tetapi hatinya sudah tertutup untuk satu otak. Yaitu Arsi, gadis yang membuat nya pertama kali terpesona.


😁😁sampai disini dulu yah, part bonusnya.