
Arsi duduk di sofa sambil menonton televisi. Hari ini adalah hati terbahagia bagi Arsi, tidak ada tugas, tidak ada kuliah.
Kesenangan itu tak bertahan lama, tiba-tiba ponsel Arsi berdiri nyaring.
Arsi melirik layar ponselnya yang berkedip menampilkan nama Viki.
"Hallo, Ada apa? " kata Asri kesal.
"Dokumen ku tinggal, tolong antarkan ke sini" pinta Viki di sebrang sana.
"Suruh supir saja, aku malas keluar" tolak Arsi.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus mengantarnya segera"
Klik. sambungan telfon terputus.
Haris menatap ponselnya dengan kesal, ia sangat sangat kesal sekarang. Meskipun begitu, Arsi tetap bangkit dari duduknya menuju kamar Viki.
"Dimana dokumen itu" gumam Arsi mencari cari dokumen yang Viki minta.
Mata Arsi menatap meja kecil, sebuah map berwarna coklat tergeletak di atas sana.
"Mungkin map itu"
Arsi pun bergegas pergi menuju kantor Viki yang terletak lumayan jauh dari rumah. Arsi memilih membawa mobil sendiri.
Arsi mengenakan kaos oblong lengan pendek di pasangkan dengan celana jeans panjang. Rambut di ikat asal membuat Arai terlihat seperti gadis biasa.
Di depan kantor Viki, Arsi langsung memarkirkan mobil dan langsung masuk ke dalam gedung menjulang tinggi. Arsi masuk ke dalam lift dan menekan tombol 10 letak ruangan Viki.
Di dalam lift terlihat beberapa pegawai wanita yang menatap sinis padanya, namun Arai mengacuhkannya saja.
Tiba di lantai 10 lift pun terbuka, arsi bergegas keluar lift dan langsung menghampiri resepsionis.
"Kak, ruangan Viki dimana yah? " tanya Arsi.
"Ada perlu apa? apa sudah buat janji? " tanya mbak resepsionis ketus.
"Bilang saja saya ingin bertemu" kata Arsi datar karena tidak suka melihat sikap mbak resepsionis itu.
"Adek siapa? dan ada perlu apa? " tanya mbak resepsionis.
"Katakan saja Arsi ingin bertemu"
"Maaf yah dek, pak Viki sedang ada rapat, silakan datang lain waktu" jawab mbak resepsionis mengusir Arsi.
Tak lama kemudian datang seorang wanita berpakaian serba pendek. Rambut sebahu, baju kemeja yang kancing depan di sengaja terbuka 2 sehingga memperlihatkan belahan dadanya.
"Ada apa ini? " tanya wanita itu.
"Ini bu, adek ini maksa bertemu dengan pak Viki" jelas mbak resepsionis.
Wanita itu menatap Arsi, kemudian mendekati Arsi. Menatap Arsi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan sederhana jauh dari dirinya membuat wanita itu tersenyum miring.
"Kamu siapa? pak Viki sibuk, " bentak wanita itu.
"Saya ingin bertemu dengan nya" kekuh Arsi tak kalah sinis.
"Gak usah mimpi deh, kamu gak bakal bisa bertemu sama pak Viki! "
Arsi melongo mendengar ucapan wanita itu, Arsi bukan wanita jalang seperti nya yang ngejar ngejar Viki.
"Security gimana sih, kenapa gadis seperti ini di biarkan masuk ke perusahaan" gerutu wanita itu.
Arsi melirik setiap pintu ruangan, ia mencari yang bertulisan CEO.
"Eh mau kemana? " cegah wanita itu menarik tangan Arsi kasar.
"Apaan sih! " bentak Arsi.
"Kamu gak boleh masuk seenaknya" kata Wanita itu membentak Arsi.
"Aku ingin bertemu Viki! " ulang Arsi.
"Kau pikir kau siapa, masuk seenaknya" bentak wanita itu.
"Jika kau tahu aku siapa, kau akan menyesalinya" balas Arsi kesal.
"Huh, menyesal? lihat lah gadis biasa seperti mu tak akan bisa menarik perhatian bos ku" remeh sekertaris Viki.
"Dek, sebaiknya adek kembali besok dan buat janji terlebih dahulu" kata mbak resepsionis lembut.
"saya mau bertemu Viki, kenapa kalian mencegah saya! " kata Arsi kesal.
"Karena kamu itu gak pantes buat ketemu pak Viki"
"Kamu tidak boleh masuk! " bentak Sekertaris Viki lagi ketika Arsi kembali mencoba menerobos.
"Ada apa ini? "
Davin kaget melihat putrinya di bentak oleh sekertaris Viki. Arsi mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
"Ini pak, gadis ini menerobos ingin masuk ke ruangan pak Viki" jelas wanita itu mengadu pada Davin.
Arsi berdecih melihat sikap wanita yang sangat kasar padanya, Wanita itu tidak tahu saja jika Arsi adalah anak dari pemilik perusahaan ini.
"Iya pakai, saya sudah menyuruh adek ini untuk menunggu dan membuat janji terlebih dahulu" kata mbak resepsionis.
Viki keluar dari ruangnya, Arsi yang tak kunjung datang membuatnya harus menjemput sendiri ke rumah.
"Loh Arsi, kok kamu gak masuk! " kata Viki.
Mbak resepsionis dan sekretaris Viki kaget melihat semua atasannya mengenali gadis ini.
"Papa, aku tidak suka melihat wanita ini bekerja di perusahaan kita! " kata Arsi menunjuk sekertaris Viki.
"Papa? " ulang sekertaris Viki.
"Iya, dia adalah putri saya! " kata Davin tegas.
"Ada apa ini? " tanya Viki tak mengerti.
"Pokoknya Arsi gak suka wanita ini bekerja disini! " ucap Arsi lagi.
"Ada apa sebenarnya ini? " tanya Viki lagi karena tak di jawab oleh Arsi atau pun yang lain.
"Dia berbuat kasar pada nona Arsi" jawab mbak resepsionis.
"Apa?? Julia! kau di pecat! " ucap Viki marah.
"Maaf Pak, saya tidak tahu jika nona ini adik bapak! " sesal Julia sekertaris Viki.
"Wanita kasar tidak beretika seperti kamu tidak pantas bekerja di perusahaan ini! " kata Arsi
Arsi masuk keruangan Viki lebih dulu,lalu di ikuti oleh viki.
"Aku gak mau tahu yah, kakak harus pecat dia! " kata Arsi.
Arsi masih sangat kesal dengan wanita itu, Viki menarik Arsi duduk di sofa dan menenangkannya.
"Ini juga salah mu" kata Viki.
"Kenapa aku pula yang salah" balas Arsi tak Terima.
Viki berdiri mengambil air, lalu memberikan nya pada Arsi.
"Kamu tidak pernah ke kantor, mana tahu mereka siapa kamu" jelas Viki.
Benar juga, Arsi tidak pernah mau di ajak ke acara perusahaan, bahkan di perkenalkan sebagai ahli waris pun Arsi enggan.
Sementara di luar Davin menatap Julia sinis, ia tak menyangka jika pegawai lamanya bersikap seperti itu.
"Saya tidak menyangka dengan sikap buruk kamu Julia, selama ini saya pikir kamu pekerja keras dan sangat Rama" kata Davin kecewa.
"Rama? di depan bapak saja" batin mbak resepsionis. Ia tahu bagaimana sikap Julia di belakang atasan besar, ia mengandalkan posisi pegawai senior untuk menindas pegawai pegawai baru atau rendah.
"Maafkan saya pak, saya hanya emosi, dan nona tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu" jawab Julia.
"Siapapun itu, kamu harus bersikap lembut, bukan pada atasan atau orang orang besar saja" kata Davin.
"Iya Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi" sesal Julia.
"Maaf, saya tidak bisa menerima mu di perusahaan ini lagi. Jika putri saya sudah tidak suka maka semuanya tak berlaku lagi" jawab Davin lalu pergi begitu saja.
"Sial! " umpat Julia.
Mbak resepsionis tertawa dalam hati, wanita jahat itu tak akan ada lagi di perusahaan ini.
"Apa lihat lihat! " sungut Julia kesal.
"Heh, silakan kemasi barang barang anda nona, karena anda bukan siapa siapa lagi disini" kata Mbak resepsionis dengan nada mengejek.
"Kurang ajar! " geram Julia.
Note: untuk semua yang membaca, jangan pernah kalian melihat orang lain dengan status sosial, sesungguhnya kita adalah sama, sama sama manusia biasa. Mau dia berpangkat tinggi, mau dia presiden, ataupun pemulung sekalipun, kita mesti saling menghormati.
...T E R I M A K A S I H...