My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
11. Musuh Lama



Arsi keluar dari ruangan band, ia tak ingin lebih lama bersembunyi dari masalah yang bukan ia lakukan. Jika Arsi terus bersembunyi makan mereka akan berfikir jika Arsi benar-benar melakukan hal itu.


"Arsi, gue rasa kita di dalam aja dulu" bujuk Meri.


"Gue gak bisa sembunyi terus, lagian gue gak salah! " jawab Arsi tetap pada pendirian nya.


Langkah demi langkah Arsi sedikit merasa risih, setiap mahasiswa/i yang melihat nya mereka terus berbisik.


Bruk~


tubuh Arsi terhuyung ke belakang, seseorang tiba-tiba menghadangnya sehingga ia tak sempat menghindar.


"Loe apa apaan sih! " hardik Meri tak Terima melihat Arsi di dorong tanpa alasan.


"Diem loe! " balas Sintia teman gadis yang dengan sengaja mendorong tubuh Arsi tadi.


Arsi yang sudah berdiri menatap heran dengan ketiga wanita yang berdiri dengan angkuh menatap ke arah nya.


"Pelacur seperti loe gak pantes kuliah di sini! " ucap Rena.


"Jaga yah tu mulut!! " Bentak Meri lagi.


Arsi tersenyum, mencoba untuk tidak terpancing emosi nya oleh Maya and the gengs.


"Gue gak nyangka yah, pelacur labrak pelacur! " jawab Arsi santai, masih dalam keadaan tersenyum Arsi menatap ketiga wanita yang selalu mencari masalah dengan nya sejak SmA.


"Heh, yang murahan disinih cuma elo! " valas Maya.


"Gak salah? " tanya Arsi dengan nada remeh, ia tahu bagaimana kelakuan Maya dan teman-teman nya. Mereka adalah mahasiswa yang suka di ajak jalan oleh om om, sedikit lebih berbeda, Maya hanya mau di ajak kencan oleh kakak seniornya yang tajir dan menggilai nya. Apalagi ia tahu jika para senior laki-laki nya banyak yang mengagumi Arsi.


"Gue tahu sekarang, pasti loe kan yang buat fitnah di medsos itu!! " tuduh Meri menunjuk Maya.


"Gue? " tanya Maya menunjuk diri nya, lalu tertawa keras.


"Tanpa gue lakukan hal itu, mereka juga tahu kalo loe itu pelacur! " lanjut Maya menatap Arsi dengan senyum miring nya.


"Setidaknya gue gak sehina kalian! " balas Arsi melangkah kan kakinya pergi dari sana. Arsi sengaja menabrakan bahunya ke bahu Maya.


"Sialan" umpat Maya menatap kepergian Arsi dan Meri.


"Gue akan balas loe! " gumam Maya lagi. Ia berniat untuk menghina Arsi yang selama ini selalu ia benci. Gadis yang selalu merebut cowo yang ia sukai.


Arsi berjalan menuju parkiran, ia berniat untuk pulang kerumah.


Arsi berjalan mengabaikan tatapan mereka yang masih saja membicarakan nya.


"Gue balik" ucap Arsi pamit pada Meri yang sudah mengantarnya ke parkiran. Tadinya mereka berniat untuk ke ruang Viki, karena tadi Meri mendapat perintah dari Viki untuk mengajak Arsi ke ruangan nya.


Meri cukup kaget mendapat perintah dari Viki, dosen baru sudah berani mendekati sahabat nya. Meskipun Viki tampan, Tetap saja Meri ingin sesuatu yang baik untuk sahabat nya.


"Hati hati!! " ucap Meri melambaikan tangannya pada Arsi yang sudah melaju menggunakan taxi. Mobil asri kemarin sudah di kirim Viki pulang ke rumah, sehingga membuat Arsi terpaksa menggunakan taxi untuk kemana-mana.


"Siapa sih yang udah buat berita kurang kerjaan seperti itu! " gerutu Arsi mengingat tanggapan teman teman kampusnya yang langsung berubah drastis.


Arsi menatap ke luar jendela melihat pemandangan kota yang lumayan terlihat padat, karena memang sekarang belum waktunya jam pulang kerja.


"Terimakasih pak" ucap Arsi turun dari dalam taxi, ia melangkah cepat memasuki rumah besarnya.


"Mama!!!! " teriak Arsi mencari keberadaan mama Safira yang biasanya duduk santai di sofa.


Mata Arsi melirik kesana kemari mencari sosok mama. Arsi membuka pintu kamar mama Sakira berharap mamanya ada di kamar.


"Ma.... " panggil Arsi, namun tidak ada sahutan dari mama Sakira pertanda beliau tidak ada.


"Kemana sih! " dengus Arsi kembali menutup pintu.


Gadis itu kembali melangkahkan kakinya yang kini menuju kamarnya, Arsi tak lagi mencari mamanya, ia yakin jika mama Arsi sedang keluar. Biasanya Arsi cukup memanggil mamanya 2 kali langsung mendapat sahutan.


"Kenapa loe gak nemuin gue! " ucap seseorang dengan nada dingin.


Arsi pun menghentikan langkahnya yang sudah berada di depan kamar.


"Gak penting " balas Arsi kembali melanjutkan langkah nya.


"Gue akan menemukan pelakunya! " ucap Viki lagi, membuat langkah Arsi kembali terhenti.


"Gak usah sok peduli, gue gak butuh kasihani dari loe" balas Arsi, lalu benar-benar masuk ke dalam kamarnya dengan menutup pintu dengan hempasan keras.


Viki tak berkata lagi, ia menatap pintu kamar adiknya yang ia yakin sekarang sangat butuh seseorang bersamanya. Viki juga lihat ketika Arsi mencari keberadaan sang mama tadi.


"Sorry" lirih Viki dengan tatapan yang sulit di artikan.


Asli, Viki merasa tidak berguna sekarang menjadi seorang kakak. Ia masih belum bisa melacak siapa dalang dari masalah ini.


"Gue gak mau mereka nyakitin loe" lirih Viki pelan, lalu memilih masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Arsi.


"Loe brengsek!!!! " Teriak Arsi keras. Teriakannya masuk ke dalam kamar Viki yang kini berdiri di balkon kamarnya. Arsi tidak sadar jika balkon kamar Viki juga terbuka dan juga ada kakaknya yang tengah mendengar isak tangis adiknya.


"Gue gak butuh belas kasihan dari loe!!! Siapa!!! " teriak Arsi lagi.


"Hiks hiks" isak tangis Arsi terdengar tertahan oleh telapak tangannya.


Arsi merasa kesepian, ia butuh seseorang untuk menjadi sandaran nya. Jika dulu Viki selalu membantu dan menenangkan Arsi ketika teman teman SD nya menjahili nya. Bahkan Viki selalu melindungi adiknya dari teman teman Arsi yang nakal.


Arsi berharap waktu kembali berputar, sehingga ia bisa memperbaiki sesuatu yang salah dan membuat dirinya menjadi tidak kesepian lagi.


Sementara di sebuah rumah besar, seseorang tengah tertawa keras mendengar laporan dari kaki tangannya. Semua yang di rencanakan olehnya berjalan lancar, sesuai ekspetasi ia merasa sangat senang mendengar kabar jika Arsila putri Ricardo mendapat masalah seperti itu.


Dia adalah si pembuat berita yang sengaja ia berikan pada penerbit majalah kampus idola itu.


"Lanjutkan, lakukan rencana B setelah saya beri aba aba" ucap seorang wanita tanpa menoleh pada anak buahnya yang menunduk hormat padanya.


"Baik boss" jawab anak buahnya menunduk hormat lalu pergi dari sana meninggalkan bosnya yang masih tersenyum bahagia.


"Kita lihat pertunjukan selanjutnya" Gumam wanita itu dengan tatapan misterius nya. Di tompangnya dagu di atas tangan yang di tumpukan di atas meja. Ia benar-benar tak sabar menantikan waktu dimana keluarga Davin hancur lebur.


...T E R I M A K A S I...