
"Kamu harus menjauh dari nya"
Kata kata Viki terus saja menghantui benak Arsi, tanpa sebab yang jelas Arsi di minta oleh suaminya untuk menjauh seseorang yang tidak ia kenal.
"Siapa nenek itu? " pikir Arsi mengetuk ngetuk dagunya. Semalaman Arsi mencari tahu tentang nenek yang ia sendiri tidak tahu namanya.
Sempat Arsi memeriksa foto di dalam ponsel Viki dan mengirimnya ke whatsapp nya agar lebih mudah untuk melihat foto itu.
Di tatap nya dalam wanita yang sudah menua itu. "Wajahnya tidak asing" batin Arsi.
"Wanita ini pasti anggota keluarga gue, buktinya masuk ke dalam foto keluarga" gumam Arsi berbicara sendiri.
"Tapi kenapa aku harus menjauhinya? " tanya Arsi lagi tanpa ada yang menjawab.
"Siapa kau?? kenapa wajah mu tidak asing?? apa kita pernah bertemu? " tanya Arsi lagi mengingat ingat kejadian kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Arsi keluar dari kamar, sendirian di rumah juga membuatnya bosan. Viki sudah berangkat kerja 3 jam yang lalu.
Arsi melirik foto foto yang tertata rapi di sepanjang dinding menuju ruang tamu. Dinding yang di khusus kan untuk tata letak momen momen yang di abadikan.
"Papa... " lirih Arsi melihat foto papanya yang tersenyum lebar, di dampingi Sakira yang terlihat seperti ratu di sebelah nya.
"Pasangan yang serasi" ujar Arsi mengusap foto pahlawan hidupnya itu.
Puas menatap foto kedua orang tuanya Arsi memutuskan ke dapur, ponselnya masih terbuka menampilkan foto Mina.
"Hmmm.... mirip... " Gumam Arsi mengangkat ponselnya, lalu menyandingkan dengan foto prewedding Davin dan Sakira.
Arsi menutup mulut nya tak percaya dengan dugaan yang terlintas di benaknya.
"Oma?? " kata Arsi bersamaan dengan bunyi bel apartemen.
Ting... tong.....
Arsi berjalan cepat menuju pintu, melihat siapa yang datang bertamu.
"Gak ada orang? " Gumam Arsi tidak melihat siapapun di luar melalui lobang intip.
Ragu ragu Arsi membuka pintu, dengan was was Arsi melihat kiri dan kanan lorong apartemen. Tidak ada siapapun di sana.
"Eh ada surat" Arsi mengambil sepucuk surat tergeletak di lantai, lalu membawanya masuk ke dalam.
Arsi membuka surat itu, lalu membacanya.
*Hi Arsi.
Kau sudah dewasa sekarang, maaf oma tidak bisa hadir di pernikahan mu. Percayalah oma sangat menyayangi mu. Dosa dosa oma tidak bisa di maafkan. Oma tidak pantas melihat mu dan memelukmu. Maafkan oma sayang.
Sampai kan salam oma pada mama mu. Salam maaf yang selalu membencinya. semoga kalian semua bahagia.
Mina Ricardo*.
"Jadi ini dari oma? " pikir Arsi memeluk surat itu. Arsi sangat penasaran apa yang terjadi di masa lalu keluarga nya. Arsi pikir hanya Yuli penyebab kehancuran ke lu tnya yang terus membuat kekacauan.
Di ruang kerja, Viki tampak tidak fokus. Bayu memasuki ruangan pun Viki tidak menyadarinya.
"Kak... " panggil Bayu untuk yang kesekian kalinya.
"Eh Arsi kok kesini? " kata Bayu berbohong.
"Arsi?? " kaget Viki langsung berdiri mencari cari Arsi.
"Apa terjadi sesuatu antara kalian? " tanya Bayu.
"Sialan, adek durhaka! " dengus Viki.
"Loe sih ngelamun aja sejak tadi" gerutu Bayu terkekeh.
"Durhaka banget jadi adek, gue tua 7 tahun dari loe! " omel Viki.
"Iya iya maaf" sahut Bayu.
"Ada masalah apa?? kenapa kak Viki terhormat ngelamun? " tanya Bayu penasaran. Viki kembali duduk, tangganya terlipat di dada dan menyender di kursi kebesaran nya.
"Mina mulai muncul" lirih Viki, terdengar desahan nafas Viki sesak mengkhawatirkan sesuatu.
"Oma Mina maksud loe? " tanya Bayu memastikan. Viki mengangguk, ia benar-benar khawatir sekarang, Viki takut Mina masih ingin memisahkan mama dan papanya.
"Gue takut dia kembali ingin memisahkan mama dan papa" kata Viki lagi.
"Jangan khawatir, belum tentu oma masih memiliki niat jahat. buktinya dia selama ini tidak ada muncul lagi. Mungkin oma ingin melihat cucu cucunya" jelas Bayu.
"Aku berharap begitu" Lirih Viki.
"Aku harus bicara dengan papa" kata Viki langsung bangkit dan pergi ke ruang kerja Davin.
"Papa ada? " tanya Viki pada sekertaris Davin.
"Ada pak, sedang.. " kata Sekertaris Davin terhenti karena Viki sudah pergi begitu saja.
Arsi menatap Viki datar, tidak seperti tatapan biasanya. Ia sudah tahu semua kisah hidup papanya yang di tentang Oma Mina. Arsi juga tahu semakin jelas asal usul Viki semakin jelas.
"Kamu di sini dek? " sapa Viki berdiri di samping Arsi, namun Arsi bergerak sedikit menjauh.
"Kenapa? " tanya Viki bingung dengan sikap istrinya.
"Aku sudah tahu semua nya, aku sudah tahu siapa wanita itu" kata Arsi datar.
"Sayang, aku bisa jelasin. Ini semua - " jelas Viki terpotong.
"Cukup!! Sejahat apapun seseorang, tidak sebaiknya kita menilai diri mereka dengan kejahatan terdahulu. Oma sudah berubah, ia sudah menyesali perbuatannya" Jelas Arsi menggebu gebu. Nafasnya terlihat tidak teratur menahan emosi.
"Kakak tahu, tapi kakak hanya takut terjadi sesuatu pada kamu" kata Viki meyakinkan Arsi. Tetap saja Arsi menghindar dan menjauh setiap kali Viki mencoba mendekati nya.
"Sudahlah, itu hanya masalalu. Jangan sampai membuat kita kembali terpuruk" lerai Davin.
"Antar Arsi pulang" titah Davin.
"Nggak, Aku bisa pulang sendiri" tolak Arsi.
"Ehh lepas!! turun kan aku suami bodoh!! " teriak Arsi meronta gonta ketika di gendong Viki tanpa persetujuan Arsi. Tubuh mungil Arsi memudahkan Viki untuk mengangkatnya.
"Papa!!!! " teriak Arsi meminta pertolongan, namun tak di hiraukan Davin. Ia malah menggeleng melihat kelakuan kedua anaknya itu.
Davin mengeluarkan dompetnya, sebuah foto yang tercetak Jidan, Mina dan Davin. Senyum bahagia terlihat di sana. Hingga Davin beranjak dewasa dan mamanya mulai overprotective terhadap ke hidupannya. Viki tidak bebas meneng hidupnya, sejak itu Davin mulai dingin dan tidak terlalu terbuka lagi.
Arsi menutup wajahnya malu di lihat oleh seluruh pegawai kantor. Viki tidak mau menurunkan Arsi seblum sampai di mobil.
"Tetap duduk!! jangan coba coba untuk kabur! " ancam Viki dingin, memasang sabuk pengaman pada Arsi, lalu mengitari mobil dengan cepat dan duduk di bangku kemudi.
Mata hazelnya terlihat dingin, Arsi meneguk saliva susah payah. Bukannya marah, sekarang malah ketakutan
"Mau kerumah mama" ujar Arsi, Viki tak menjawab. Hingga mobil berjalan membelah padatnya jalan raya. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan.
Viki membawa Arsi ke rumah utama Ricardo. Tanpa banyak bicara Arsi langsung turun tanpa ijin pada Viki ketika sampai di depan rumah.
Nisa yang berada di taman menatap Arsi berlari memasuki rumah dengan ekspresi tidak bersahabat. Sama seperti Viki, nisa berjalan mendekat pada Viki yang baru saja keluar dari mobil.
"Apa terjadi sesuatu? " tanya Nisa.
"Tidak ada, hanya permasalahan kecil" kata Viki datar. Nisa tersenyum, ia merasa sedikit senang mendengar jawaban Viki. Terjadi nya hal ini membuat Nisa merasa mendapat angin untuk memiliki Viki.
"Arsi terlalu muda, dan karena berhutang budi kami menikahinya" lirih Nisa membuat Viki melirik tajam padanya.
Nisa tersenyum, Viki berjalan mendekatinya.
"Aku mencintai Arsi, tidak ada wanita lain selain Arsi di hatiku. Aku harap kamu mengerti" kata Viki dingin, lalu melangkah pergi.
"Kenapa kamu terlalu keras kepala!, Aku mencintaimu ,aku lebih baik darinya! " teriak Nisa terisak, membuat Viki yang masih berjalan beberapa berhenti, berbalik menatap Nisa.
"Aku tidak bisa berteman dengan mu lagi, sahabat ku Nisa sudah tidak ada. Ke masih seluruh barang barang mu. Ikut bersama orang tua mu, dan jagalah papa mu agar lekas sembuh" kata Viki datar, lalu melangkah memasuki rumah.
Lutut nisa terasa begitu lemas, hingga tak sanggup menahan tubuhnya. Hati nisa benar-benar hancur, hidupnya hancur ketika mendengar Viki mengatakan mencintai wanita lain. Menangis, hanya menangis yang bisa nisa lakukan saat ini.
Buka hanya Nisa dan Viki, Sakira menyaksikan pertengkaran Viki dan Nisa. Sejak awal Sakira tahu jika Nisa menaruh hati pada putranya, tetapi Sakira tidak ingin ikut campur. Ia yakin putra dan putrinya pasti bisa mengatasi masalahnya.
"Tante... " lirih Nisa menangkap sosok Sakura berdiri di depannya.
"Berdirilah" kata Sakira lembut.
Perlahan Nisa bangkit, menghapus semua air matanya.
"Kamu gadis yang baik, seseorang baik pasti ada untuk mu. " kata Sakira mengelus pipi Nisa.
"Aku yakin kelak kamu akan bahagia bersama orang yang tepat. Masa muda mu masih panjang. " lanjut Sakit.
Nisa tak menjawab, ia merasa sudah tak ada harapan lagi. kebahagiaan nya hanya bersama Viki.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, tapi cinta mu pada Viki hanya sebatas obsesi"
"Maafkan saya tante, tapi saya tidak bisa menahan hati saya" lirih Nisa.
"Tidak Nisa, kamu tidak salah. Mencintai itu tidak salah. Tapi kamu harus tahu, takdir sudah di tetapkan." kata Sakira tersenyum.
"Coba kamu renungkan lagi, apa kamu mencintai Viki dari hati? atau hanya sekedar kagum dan terobsesi ingin memiliki nya? " ujar Sakira. Nisa terdiam, ia memaksa mengukir senyum di wajahnya.
"Terimakasih sudah baik pada ku" lirih Nisa, lalu masuk ke dalam rumah untuk membereskan barang barang nya. Ia akan pergi dan mencoba untuk tidak mengganggu kehidupan Viki.
Haloooo makasih pembaca setia kuπππ
buat yang baru baca, makasih dan selamat datang di kehidupan rumit Arsi dan Viki. Silakan tinggalkan jejak. Biar lebih paham, baca dulu yah BECAUSE BABY, biar nyambung ceritanya. bagi yang belum yah. πππjangan lupa. ada giveaway nantinya seperti novel aku yang sebelumnya.
ikutin terus, jangan lupa share juga.πππ
...T E R I M A K A S I H...