My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
35. Tunangan????



Arsi berjalan santai menuju kelasnya, jam kuliah masi ada 1 jam lagi. Malas berdebat dengan Viki terus menerus Arsi memilih untuk datang lebih Awal.


"Arsi!!!! " panggil seseorang, merasa namanya di panggil Arsi pun berhenti lalu berbalik.


"Ada apa Lex " tanya Arsi.


"Kemana aja lu? " tanya Alex santai, sudah lama ia mencari Arsi, namun alex tak melihat Arsi di kampus.


"Gak kemana mana, gue di sini aja" jawab Arsi.


"Apaan, gue cariin jugak, tapi gak nemu" balas Alex mencibir.


"Iya Iya maaf, gue abis kuliah langsung balik, trus dateng cuma pas ada jam kuliah doang" jelas Arsi tersenyum manis.


"Yaudah deh yuk ke kantin"ajak Alex


"Yaudah deh" jawab Arsi pasrah menerima ajakan Alex, jam kuliah masih ada setengah jam lagi.


"Ahk.. -" pekik Arsi meringis menahan sakit di lengannya.


"Pak Viki apa apaan sih! " bentak Alex menarik Arsi agar cengkraman Viki terlepas. Namun, bukannya melepaskan Viki malah semakin memperkuat cengkraman nya, tatapannya lurus menatap Arsi yang berusaha melepaskan cengkraman kakaknya.


"Lepasin pak, sakit! " ringis Arsi.


"Pak!! bapak gak boleh bersikap seperti itu! " bentak Alex mendorong Viki hingga terlepas cengkraman nya.


"Jangan ikut campur, ini urusan saya dan dia! " ucap Viki dingin penuh penekanan. Matanya mengkilat menahan amarah ketika Alex menggenggam tangan Arsi.


"Ingat pak! Bapak itu hanya dosen di sini! " balas Alex menantang dengan suara kerasnya.


Awalnya terlihat biasa saja, kini suasana menjadi rame, banyak yang berhenti dan sengaja melihat adegan pertengkaran Alex dan dosen tampan.


"Seru nih" gumam mahasiswa lain.


Mark yang kebetulan lewat juga ikut berhenti menyaksikan adegan itu.


sementara Arsi menggigit bibirnya melirik kanan dan kiri, ia merasa malu sekarang.


"Ikut gue!! " bentak Viki menarik lengan Arsi.


"Pak!!! lepasin Arsi!!! " tolak Alex menahan Arsi.


"Loe gak tahu apa apa, lepasin dia!! "


"Bapak cuma dosen, gak berhak melakukan hal ini sama mahasiswi"


Arsi memejamkan matanya tak tahan mendengarkan perdebatan mereka.


"Apaan sih!!!! lepasin gue!!! " bentak Arsi menghempaskan kedua tangannya yang di tarik oleh Viki dan Alex. Arsi sudah tidak tahan lagi dengan sikap kedua lelaki ini.


"Lihat pelacur itu, sok kecentilan" cibir Maya meremas botol minuman yang sedang ia pegang. Sangat marah melihat Arsi menjadi rebutan pria kaya dan idaman di kampus ini.


"Wajar lah dia kan cantik" ceplos angle kacung Maya.


"Cantik apaan, lebih cantik gue lah!! " bentak Maya kesal meninggalkan kedua temannya.


"May.... tungguin" teriak angle mengejar Maya.


"Viki??? " Mark mengangkat alisnya bingung, apa hubungan gadis yang menarik perhatiannya dan pria yang sangat di benci mamanya.


"Loe ikut gue!!! " bentak Viki kembali menarik lengan Arsi.


"Bapak gak boleh kurang ajar yah" ucap Alex kembali menahan Arsi.


"Ini urusan saya dan Tunangan Saya!! " ucap Viki tegas dan penuh penekanan.


"Apa?? " tanya Alex kaget, bukan hanya dia Arsi dan seluruh mahasiswa yang yang menyaksikan pertengkaran mereka ikut kaget.


"Tuu.. Tunangan??? " ulang Arsi. Viki melirik sekilas pada Arsi, kemudian kembali menatap Alex yang masih menahan lengan Arsi.


"Loe gak usah ikut campur!! " ulang Viki lagi.


"Bapak, sejak kapan tunangan sama Arsi? " tanya Egi.


"Itu bukan urusan kamu! " jawab Viki dingin.


"Ikut gue sekarang! " ucap Viki menarik tangan Arsi. Mau tak mau Arsi yang masih kaget pasrah di bawa kemana oleh Viki.


"Eh pak!! " teriak Egi ingin mengejar mereka, namun di tahan oleh Meri.


"Udah biarkan aja" cegah Meri.


"Tapi Arsi... " ucapan Egi terhenti, otak nya mulai mencerna situasi. Suatu pemikiran singgah di otaknya, membuat Egi langsung menatap Meri dan Bayu bergantian. Biasanya jika ada yang mengganggu Arsi, Meri dan Bayu lah yang pertama kali maju mengatasi semuanya, Dan sekarang??? Meri dan Bayu diam saja membiarkan Arsi di bawah oleh dosen killer yang selalu bermasalah dengan Arsi.


"Apa gue ketinggalan sesuatu?? " ucap Egi penuh selidik.


"Ah, Bayu kita lupa membayar makanan di kantin tadi" ucap Meri mencari alasan untuk kabur.


"Ah iya" jawab Bayu bergegas pergi sebelum Egi menginterogasi mereka.


"Awas saja kalau kalian menyembunyikan sesuatu dari gue!!! " teriak Egi mengejar Meri dan Bayu.


"What??? sejak kapan wanita itu tunangan dengan pak Viki? "


"Wah beruntung banget dia"


"Aku iri!!! "


"Aku pengen jadi pak Viki!!! "


"Apa sih yang di pake wanita itu, semua lelaki keren dan kaya di kampus ini menggilai nya"


Itulah bisik bisik mahasiswa lain, ada yang iri dan juga senang. Sementara Alex masih diam membisu menatap arah kepergian Arsi yang sudah tak terlihat lagi.


"Hmm.. apa ini alasan mu menghilang" gumam Alex yang hanya ia sendiri yang dapat mendengar nya.


Di sisi lain Arsi mulai meronta pada Viki yang membawanya ke dalam mobil.


"Loe apa apaan si kak!! " bentak Arsi.


"Kenapa loe bilang ke dia kalo kita tunangan!! " bentak Arsi lagi, ia sudah tak tahan Viki bukannya menjawab, ia malah diam dan melakukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"LOE MAU BUNUH GUE!!! BERHENTI BODOH!!!!! " teriak Arsi ketakutan.


Cittttttttttt


tiba-tiba Viki menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, tubuh Arsi yang belum siap akan hal itu terhuyung kedepan. Untung Arsi mengenakan sabuk pengaman, kalau tidak mungkin kepalanya terhantuk ke depan.


"Kalau mau mati, mati aja sendiri!! " serga Arsi sembari mengusap dadanya.


"Kalau loe gak bisa diem, gue masukin mobil ini ke jurang!! " ancam Viki tanpa menoleh padanya.


"Loe gila!!! loe itu Akkkhhh!!!! " pekik Arsi ketika Viki kembali menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Dasar anak pungut! " sungut Arsi melirik Viki kesal membuat Viki menambah kecepatan mobilnya. Hingga Arsi tak membuka mulutnya lagi, Viki mulai mengurangi kecepatan.


Tak ada yang membuka mulut, perjalanan mereka di hiasi dengan keheningan. Arsi sudah pasrah mengikuti kemanapun Viki membawanya, Arsi sudah tak peduli lagi.


Sudah 1 jam lebih mereka menempuh perjalanan, Arsi merasa matanya mulai berat. Matanya menatap pemandangan luar yang sudah asing di matanya. Ingin rasanya Arsi bertanya pada kakaknya, namun di urungkan oleh nya.


Bruk..


Arsi menoleh pada Viki yang tiba-tiba melempar jaket padanya.


"Pake, disini cuacanya dingin! " jawab Viki tanpa Arsi bertanya. Awalnya Arsi tersenyum, namun kembali cemberut mendengar kelanjutan ucapan Viki.


"Gue gak mau ngerawat orang sakit"


Tak berkata lagi, Arsi memakai jaket itu dengan kesal. Mau tak mau ia harus memakainya, benar kata Viki cuaca di daerah sini memang dingin. Akhirnya entah sejak kapan, Arsi mulai terlelap dengan menikmati kehangatan jaket Viki.


...T E R I M A K A S I H...