
Arsi masih termenung di dalam kamar, ia tidak bisa melarikan diri dari kurungan ini. Tempat mewah tetapi tidak menjamin kenyamanan.
"Gimana caranya gue keluar dari sini" gumam Arsi. Ia melihat sekeliling kamar namun tak melihat satu cela pun. Kamar ini tidak memiliki balkon, kamar nya terdapat trali.
"Dasar, bajingan!!! " teriak Arsi memukul-mukul trali.
"Mereka semua kemana sih, kenapa gak nyariin gue!! " batin Arsi kesal. sudah 3 hari ia di kurung di ruangan ini, namun tidak ada kabar jika Viki atau yang lainnya mencarinya.
"Bodoh! loe sedang di kurung, mana tahu loe mereka lagi cariin atau nggk" ucap Arsi menoyor jidatnya.
Gatal di pinggir telinga, Arsi mengusap keseluruhan telinganya hingga tanpa sengaja tangannya menyentuh antingnya.
"Anting? " gumam Arsi mengingat sesuatu.
Arsi membuka salah satu anting nya lalu mencari tombol kecil sangat kecil agar GPS yang pernah Viki pasang di sana aktif.
Setelah menemukan tombol merah di bandul anting itu Arsi langsung menekannya laku kembali memakainua kembali. Ia sangat berharap jika kakaknya bisa mendeteksi nya.
Benar, Viki mendapatkan lokasi Arsi.
"Uncle!! " teriak Viki keras.
"Ada apa?" tanya Kevin.
"Aku mendapat kan lokasi Arsi" ucap Viki.
"Ayo kita kesana" ucap Kevin.
Mereka pun bergegas menuju lokasi, Bayu dan Desta juga ikut menuju lokasi Arsi di sekap. Meski di sibukkan oleh urusan perusahaan Bayu dan Desta tetap ikut mencari Arsi.
"Semoga Arsi baik baik saja" gumam Seila memeluk Aldo dan Aldi melihat kepergian Mereka.
"Mamam... Ka Arsi pasti ketemu kan? " tanya Aldo terisak.
"Kita doain yah sayang" ucap Seila menenangkan kedua putra kembarnya.
"Bos, Mereka mendeteksi keberadaan kita" ucap salah satu penjaga.
"Keparat!!!! " umpat Lalisa marah.
"Sepertinya ada sebuah GPS aktif pada gadis itu" jelas penjaga itu.
"Periksa gadis itu sekarang juga, lalu bawa dia ke markas timur" titah Lalisa menahan amarah. Rencana nya belum berjalan.
Brak~
Pintu kamar penyekapan Arsi terbuka lebar, Membuat Arsi kaget.
"Kemari kau!! " ucap Lalisa marah.
"Si.. siapa kau? " tanya Arsi bergetar, namun Arsi berusaha untuk menutupi ketakutannya.
Dua orang pria mendekati Arsi, lalu memeriksa tubuh Arsi mencari GPS yang disembunyikan Arsi.
"Mereka pasti mencari GPS itu" batin Arsi berusaha menghindari setiap sentuhan pria itu pada tubuhnya.
"Diam!!! " bentak salah satu pria itu keras.
"Apa yang kau lakukan!!! " teriak Arsi ketika salah satu dari mereka menahan kedua tangan Arsi lalu salah satunya menggeledah Arsi. Mereka tidak sadar jika GPS itu ada pada anting Arsi.
"Bos, tidak ada apapun pada gadis ini" lapor pria itu, mereka tidak menemukan satupun barang pada diri Arsi.
"Bagaimana mungkin tidak ada satupun barang yang dia sembunyikan" ucap Lalisa menatap Arsi lekat.
Arsi bergerak gelisah ketika Lalisa menatapnya tajam, Arsi berharap jika mereka tidak melihat Antingnya.
Hancur sudah harapan Arsi, Lalisa menatap wajah Arsi intens.
"Angkat rambutnya! " titah Lalisa pada anak buahnya.
Rambut panjang Asri digulung keatas, membuat anting Arsi terlihat sangat jelas.
"Ambil antingnya" titah Lalisa.
"Baik bos"
Pria itu membuka kedua anting Arsi secara paksa karena Arsi berusaha menghalanginya.
"Benar Bos, GPS ini berasal dari anting ini" lapor pria itu.
Plak!!
Lalisa menampar Arsi kuat, tubuh mungil Arsi pun terhuyung ke samping.
"Bawa gadis itu pergi" titah Lalisa lalu pergi begitu meninggalkan ruangan itu.
"Apa salah ku pada mu!!!! " teriak Arsi. Lalisa yang sudah berada di ambang pintu menghentikan langkah kakinya.
"Kau memang tidak bersalah, tapi takdir mu yang salah" jawab Lalisa kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kau tidak bisa melakukan ini pada ku!! " teriak Arsi memberontak berusaha melepaskan diri dari kedua pria yang berpenampilan seperti bodyguard.
"Sudah nona, kau diam saja dan ikuti semua ini" saran mereka.
"Iya nona, agar kau tidak tersiksa seperti ini" sahut satunya lagi.
"Bukan kalian yang merasakannya" sahut Arsi pelan mengikuti kedua pria itu yang entah di bawa kemana
...T E R I M A K A S I H...