
Sudah pukul 7.30 Gadis cantik yang masih bergelung di dalam Selimut tebalnya.
Silauan cahaya matahari tak membuat tidur sang gadis terganggu.
Sementara di meja makan sudah duduk Davin, Mark, Sumi dan juga Sakira. Viki yang baru saja turun mengerut tidak melihat Arsi di sana.
"Ma, Arsi belum bangun? " tanya Viki.
"Belum Sayang" jawab Sakira sembari mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Mau kemana? " tanya Sumi bingung melihat Viki kembali menaiki tangga.
"Mau bangunin si kebo" jawab Viki singkat.
Di bukanya perlahan pintu kamar Arsi, Perlahan Viki melangkah masuk kedalam dengan membawa satu gayung air.
"Hm... pertunjukan akan di mulai" lirih Viki menahan tawa membayangkan bagaimana reaksi Arsi nanti.
"Banjir!!!! Banjir!!!! " teriak Viki.
Byur~
"Banjir.Banjir.Banjir" ucap Arsi spontan bangun dari ranjang sembari melompat lompat panik.
"Bhahahahaha" Tawa Viki pecah melihat kepanikan Arsi.
Arsipun membuka matanya sadar jika semua ini adalah kerjaan Viki.
"Loe ngerjain gue? " ucap Arsi marah.
"Bahahaha gue cuma bangunin loe aja" jawab Viki di sela sela tawanya.
"Kurang ajar!!! " ucap Arsi geram menatap Viki nyalang, ia tak Terima di kerjai seperti ini oleh Viki.
"Sudah Sana mandi" titah Viki.
"Loe kok jahat banget sih sama gue! " lirih Arsi pelan, lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak seperti biasanya gadis itu tak melawannya sedikit pun.
"Ada apa dengan nya? " gumam Viki.
Karena Arsi sudah bangun, Viki pun memilih untuk kembali ke ruang makan.
"Apa Arsi sudah bangun? " tanya Sumi.
"Udah bu, barusan mandi" jawab Viki tersenyum.
Lima menit kemudian, Arsi pun turun dengan wajah masam. Bibir sexy nya terlihat mengerucut imut.
"Eh ratu papa udah bangun yah" sapa Davin, mengelap bibirnya lalu mengecup pucuk kepala putrinya.
"Pagi pa, ma, bu dan... kak Mark" sapa Arsi melewatkan Viki.
"Eh tunggu!! " sanggah Viki.
"Kenapa Viki? " tanya Sumi.
"Kok loe manggil dia kakak sih? kenapa sama gue nggk" protes Viki tak terima.
"Suka suka gue lah, mau manggil siapapun dengan panggilan apapun" balas Arsi.
"Sudah sudah, ayo habiskan makanan nt" lerai Sakira.
"Yah sudah kalian lanjutkan makannya yah, papa berangkat kerja dulu" ucap Davin pamit, Sakira pun langsung meraih punggubg tangan Davin, lalu mengecupnya.
"Hati-hati di jalan sayang" ucap Sakira.
"Ayo buruan makan! " titah Viki kesal pada Arsi.
"Ih kok loe maksa maksa gue sih" dengus Arsi.
"Loe berangkat bareng gue! " ucap Viki meletakkan sendoknya.
"Siapa yang mau nebeng sama loe" tolak Arsi tak berperasaan.
"Loe gak boleh bawa mobil sendiri Arsi" tegur Viki.
"Gue tahu, tapi gue berangkat gak bareng loe" jawab Arsi tersenyum miring. Viki mengangkat alisnya bingung.
"Aku bareng kak Mark" lanjut Sakira. Mark yang tidak tahu soal ini mendadak keselek.
"Uhuk uhuk.... " Mark meraih segelas air yang di sodorkan Sumi kepadanya.
"Loe bareng gue? " tanya Mark memastikan.
"Umh.. gak boleh? " tanya Arsi sini.
"Boo.. bo. boleh kok" jawab Mark melirik tak enak pada Viki, seolah meminta persetujuan. Aksi itupun di tangkap oleh Arsi.
"Gak usah minta persetujuan dia, loe kan kakak gue juga! " ujar Arsi.
"Aku pamit ma. Bu" ucap Viki menggebrak meja, lalu pergi dari ruang makan dengan wajah dinginnya.
"Astga.... Viki pasti marah ni" gumam Mark merasa bersalah, entah dimana letak wajah jutek dan dinginnya yang selalu tak mau kalah. Mark kini telah berubah total, ia tak lagi memikirkan balas dendam dan menghancurkan lawan. Ia hanya ingin bahagia bersama keluarga nya.
Di kampus.
Mobil Mark melaju memasuki perkarangan kampus, semua mata tertuju padanya. Sebelum turun dari mobil Mark, Arsi memiliki sebuah pertanyaan yang mengganjal di pikiran nya.
"Loe seumuran dengan Viki? " tanya Arsi.
"Tentu saja, kami kan kembar" jawab Mark.
"Lalu, kenapa loe masih kuliah? " tanya Arsi.
Arsi bersiap membuka pintu mobil Mark, tapi tiba-tiba mark menahan lengannya.
"Ada apa? " tanya Arsi mengurung kan niatnya untuk keluar.
"Kenapa loe gak manggil gue kakak lagi? " tanya mark polos.
"Ooh itu, gue cuma ingin buat Viki kesal saja" jawab Arsi tertawa geli mengingat ekspresi Viki yang sesuai dengan ekspetasi nya.
"Tapi gue suka loe panggil kakak" ungkap Mark pelan.
"Gak terlalu buruk, mulai sekarang gue akan manggil loe kakak" ucap Arsi tersenyum padanya.
Mendengar ucapan Arsi membuat mark langsung menatap Arsi.
"Terimakasih" jawab Mark tersenyum.
"Kalau begitu gue turun dulu kak" pamit Arsi sembari menarik tangan Mark, lalu mencium punggung tangannya selayaknya adik pamit pada kakaknya.
"Hei... gue juga turun disini" sangga mark cepat cepat membuka sabuk pengamannya menyusul Arsi.
Seluruh mata melihat kearah mereka, pemandangan langkah melihat mark datang bersama mahasiswi yang terkenal dan sering di bicarakan di kampus.
"Wah.. Arsi memang hebat yah, kok bisa gadis itu barang Mark, si tampan nya aku" teriak salah satu mahasiswi.
Maya dan teman teman nya juga ikut berdiri menyaksikan tontonan ini.
"Dasar gadis murahan " ujar Maya pergi dari sana.
"Gue ke kelas dulu" ucap Arsi, lalu berjalan santai melewati mahasiswa dan mahasiswi yang memperhatikannya. Arsi sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Sementara Mark hanya menatap kepergian Arsi, lalu ikut berjalan menuju kelasnya.
"Aaaaa Arsi ku telah kembali" teriak Meri berhamburan memeluk Arsi.
"Loe lebai deh" gerutu Arsi.
"Gue khawatir banget Arsi, sama loe" ungkap Meri kembali memeluk Arsi.
"Tapi gak ada tuh kalian jengukin gue" cibir Arsi melepaskan pelukan Meri kesal.
Belum sempat Meri menjawab Egi pun datang dengan terburu-buru.
"Huh Arsi, akhirnya loe datang juga" ucap Egi senang namun nafasnya masih terengah.
"Kenapa ni bocah" sahut Arsi.
"Tumben loe banyak bawa buku" lanjut Arsi menatap buku buku berada di pelukan Arsi.
"Ini semua buku loe tahu, selama loe gak ada, kita kita mesti gantiin ngerjain semua tugas. Biar dosen dosen gak tahu kalo loe gak datang. " jelas Ego panjang lebar. Setelah itu Egi menarik nafasnya kemudian menghempaskan semua buku buku itu di atas meja Arsi.
"Akhirnya gue bebas" gumam Egi.
"Ini alasan kita gak bisa jenguk loe di rumah sakit" gerutu Meri, Arsi hanya bisa nyengir tak enak.
"Sorry... " Lirih Arsi merasa bersalah.
Egi duduk di kursinya yang berada di belakang Arsi dan Meri.
"hari ini sama siapa kita? " tanya Arsi.
"Pak Viki" jawab Meri tanpa menoleh pada Arsi, ia sibuk dengan buku tulisnya.
"Trus loe ngapain? " tanya Arsi pemasaran.
"Oh iya, tugas dari pak Viki buat loe belum gue kerjain Ci" sahut Egi dari belakang.
Arsi langsung berbalik menatapnya, matanya melotot tak percaya jika Viki memberikan mereka tugas. Kapan Viki melakukannya? padahal dia sibuk menyelamatkan nya dan juga menjaganya di rumah sakit.
"Tapi gak papa deh, Pak Viki kan tahu gue baru keluar dari rumah sakit" Gumam Arsi lega.
Cling...
Arsi meraih ponselnya melihat pesan yang baru saja masuk.
Viki ~
Gue bakal masuk 30 menit lebih lambat dari biasanya. Jadi loe harus menyelesaikan semua tugas loe.
"What?? " pekik Arsi tak percaya membaca pesan dari Viki.
"Ada apa? " tanya Meri merebut ponsel dari tangan Arsi.
"Wahhh romantis sekali" puji Meri berbinar.
"Dengkul loe romantis? ini membunuh namanya" dengus Arsi kesal.
Arsi pun mulai mengerjakan tugas tugas nya, mau tak mau ia harus menyelesaikan tugas yang entah harus di mulai dari mana. Tugas tugas ini sungguh tak di mengerti nya.
"Viki sialan!!!!!!!!!!! " teriak Arsi kesal.
...T E R I M A K A S I H...
hallo reader setia ku, terimakasih udah setia mengikuti Viki dan Arsi. untuk itu author akan berusaha untuk update lebih sering.
oh iya, author mau minta tolong boleh??
boleh dong yah.
author bingung nih, sama novel Author yang judulnya MY MATE. tolong baca yah, trus kasi komentar.
Layak atau tidak untuk di lanjutin. kalau gak layak katakan tidak layak yah. biar Author hapus dari daftar novel Author di noveltoon. Terimakasih 😘😘 di tunggu komentarnya di novel MY MATE YAH