My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
95.Kelahiran Viki Junior



Meri terlihat mondar mandir di depan pintu ruangan persalinan Arsi. Bayu merasa pusing sendiri melihat istri nya mondar mandir begitu.


"Sayang... duduk lah, aku jadi pusing liat kamu mondar mandir begitu" kata Bayu.


"Mana bisa, sahabat aku sedang berjuang di dalam sana. Mana bisa tenang aku" ucap Meri.


"Iya sayang, sebaiknya kita berdoa agar Arsi dan bayinya selamat yah" ujar Sakira.


Semua sudah berkumpul di rumah sakit, menantikan kelahiran bayi pertama Viki. Sementara di dalam Arsi sedang berjuang mati matian menahan sakit yang tak terkira. Tubuhnya terasa remuk dan lunglai.


"Sayang kamu pasti bisa, kamu harus semangat. " ucap Viki menggenggam tangan Arsi memberi semangat.


"Aeekkkkkkkkkk!!!!! " teriak Arsi mengejan kuat hingga terdengar suara tangis bayi.


Oekkk oekkkkk


Viki mengecup pucuk kepala istri nya yang meneteskan air mata mendengar tangis pertama bayi nya yang berada di gendongan Dokter.


"Selamat sayang kamu sudah menjadi ibu" bisik Viki masih menghujani Arsi dengan kecupan.


Arsi tersenyum dalam nafas tanggal tersengal,


"Selamat yah bu, pak, bayi kalian Laki-laki"ucap dokter memberikan selamat sembari memberikan bayi yang sudah di bersihkan ketangan Viki.


Viki langsung meraih putra pertamanya, senyum bahagia tak pernah pudar dari bibirnya.


" Sayang, putra kita tampan sekali "


Arsi tersenyum menatap putranya yang menggeliat di gendongan sang suami.


Arsi telah di pindahkan keruangan pasien VIP, keluarga boleh di persilahkan masuk karena di ruangan ini hanya Arsi yang menghuni nya.


"Wahhhh tampan sekali" Meri gemes melihat bayi Arsi.


"Bukankah tampan seperti ku? " kata Aldo pd.


"Tentu saja tidak, dia tampan seperti ku" ucap Aldi tak mau kalah.


"Heiii sudah jangan bertengkar, dia putra ku! mana mungkin mirip wajah jelek kalian! " lerai Viki mengambil bayinya dari ranjang, lalu membaringkan di samping Arsi.


"Sirik" cibir Aldo dan Aldi.


"Ngomong ngomong siapa namanya? " tanya Sakira.


"Aku akan memberikannya nama" ujar Aldo berdiri di depan Viki.


"Tidak aku akan memberinya nama" kata Aldi tak mau kalah.


"Hei.. ini keponakan ku, jadi aku yang akan memberi nya nama" ucap Meri.


"Enak saja, kak Meri gak boleh, yang harus ngasih nama tu laki-laki "


"Betul tuh, laki-laki kan pemimpin" ucap Aldi membantu saudara kembarnya, mereka kompak sekarang.


"Enak saja, bocil bocil kaya kalian gak bakalan dapat nama yang bagus untuk keponakan ganteng ku" tolak Meri.


"Heeee ini cucuku, jadi aku yang harus ngasih nama" ucap Celly menggendong bayi laki-laki itu.


"Gak... kita yang harus ngasih nama" bantah Meri.


"Ehhhh sudah sudah, gue bapaknya kok kalian yang ribut"


Viki menatap Arsi yang memutar mata, jengah melihat tingkah saudara dan aunty Celly.


"Aku yang koyak, gak seheboh kalian" cibir Arsi.


"Koyak? apanya? " tanya Aldi dan Aldi lugu.


Meri menyatakan kepala kedua bocil itu pelan, mereka selalu saja bertengkar setiap kali bertemu. Jadi mereka tidak heran jika Meri terus saja ribut dengan Aldo dan Aldi.


"Anak kecil mana tahu"


"Stop! kami bukan bocil! " bantah Aldo mengerucutkan bibirnya kesal.


"Lalu kalo bukan bocil apa?? "


Meri menjulurkan lidah mengejek keduanya membuat Aldo dan Aldi semakin kesal.


"Oma... lihat kak Meri.. " adu Aldi menunjuk Meri.


"Nah aunty, lihat Meri. Apa Meri semakin Cantik? "


"Meri terlihat sedikit berisi" ujar Sakira. Meri pun langsung mencari kaca dan melihat pipinya.


"Bhahahaha dasar gendut" ledek Aldo.


Meri sangat anti jika di bilang gendut, Bayu hanya bisa geleng kepala melihat tingkah sang istri.


"tidak, aku tidak gendut" Meri memperhatikan setiap sudut pipinya.


"Iya Mer mer, kau itu gendut.... "


"Tidak!!! " teriak Meri menatap Aldo dan Aldi tajam.


"Gendut!! "


"Tidak!!! "


"Gendut!!! "


"Tidak!!! "


Tak tahan lagi, Bayu sangat pusing melihat tingkah ketiganya.


"Sudah Stop!!!!! " teriak Bayu lebih keras dari teriakan Aldi Aldi dan Meri. Ketiganya terdiam tak berani mengeluarkan suara lagi.


"Sayang, jadi siapa namanya? "


Sakira mengusap pelan pipi Arsi, bahagia melihat kehadiran cucunya dan juga keselamatan putrinya.


"Aku udah menyiapkan sebuah nama yang bagus untuk nya"


"Benarkah? " tanya Viki.


"yah, aku rasa ini nama yang tepat untuk putraku"


Mereka menatap Arsi penasaran, namun Arsi tak kunjung menyebutkan siapa nama bayi laki-laki itu.


"Arkan Ricardo"


"Wahhh nama yang bagus"decak si kembar.


" Tentu saja, sesuai dengan wajahnya yang tampan"sahut Celly ya g menggendong si kecil.


"Heii Arkan, selamat bergabung di keluarga kita" ucap Kevin mengambil alih arkan dari istrinya.


"Cucu pertama ku" kata Kevin.


"Dari yang situ kapan? " sindir Celly pada putra dan menantunya.


Meri dan Bayu mulai bergeser, arah pembicaraan sudah tidak memberinya keamanan.


"Sayang, zona nya sudah mulai tak baik untuk kita" bisik Bayu pada Meri.


"Kita harus kabur" sahut Bayu menggandeng tangan istrinya.


"Eh kita ada tugas yah? "


Meri Pura-pura kaget mengingatkan suaminya, Bayu ikut bersandiwara agar bisa kabur secepat mungkin.


"Astaga, besok akan di kumpul" sahut Bayu.


"Yaudah deh Arsi, pak Viki kita harus segera pulang " kata Meri pamit.


"Mau kabur, lah tu" cibir Celly membuat mereka terkekeh mendengar nya.


"Dahh ibu mertua" pamit Meri mengecup pipi Celly.


"Dah semuanya" pamit Bayu juga, lalu mereka melesat cepat sebelum Celly menahan mereka.


"Dasar anak nakal!! "teriak Celly.


Arsi menggeleng melihat tingkah sahabat nya, meskipun begitu Arsi tahu Meri mampu bergabung di keluarga nya yang memeng rasa kekeluargaan nya sangat kuat.


" Nama yang bagus" ucap Viki mengecup bibir istrinya pelan.


"Terimakasih juga sudah menjadi suami terbaikku" balas Arsi.


...T E R I M A K A S I H...