
Arsi masih merajuk, tidak mau makan dan tidak mau berbicara dengan Viki. Sejak tadi Arsi hanya berbaring di ranjang. Viki kehabisan akal, semua sudah di cobanya untuk membujuk istrinya ini.
"Dek.... makan yukk" bujuk Viki.
"Aku gak laper" jawab Arsi ketus, membalikkan tubuhnya membelakangi Viki.
"Ayolahhhh, udah gede juga, masa merajuk kaya anak kecil sih"
"Aku gak merajuk"
"Trus kenapa gak mau makan? "
"Karena aku gak laper! " kata Arsi menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Viki menghela nafas berat, istri nya sangat keras kepala. Sakira menatap iba pada Viki yang terlihat lelah, semalam Viki tidak tidur demi membujuk istri nya yang juga tidak tidur.
"Apa masih belum mau makan? " tanya Sakira. Viki menggeleng, meletakkan piring yang masih penuh dengan nasi ke meja makan.
"Tumben banget loh Arsi sekeras ini, biasanya Arsi selalu mau di bujuk, apalagi Viki" pikir Davin.
Sakira berpikiran sama dengan suaminya, terasa aneh jika Arsi marah karena hal kecil seperti ini.
"Kamu cek deh istri kamu" titah Sakira, ia berpikir sesuatu yang mungkin saja terjadi.
"Arsi gak sakit ma" jawab Viki.
"Bukan ke dokter kesehatan tubuh, tetapi ke dokter kandungan" kata Sakira sukses membuat Davin dan Viki melongo.
"Kok ke kandungan ma? " tanya Viki tak mengerti.
"Arsi terlihat aneh, emosinya tak biasa. Mama pikir dia itu sedeng ngidam" kata Sakira.
"Kak... " panggil Arsi mengalihkan perhatian ketiganya. Arsi berjalan cepat mendekat pada Viki, lalu memeluk Viki erat.
Viki menyambut dengan hangat, Arsi sudah kembali seperti semula. Tidak jutek ataupun dingin.
"Mau makan? " tawar Viki, namun lagi lagi Arsi menolaknya.
"Aku mau makan bakso, gak mau makan nasi" kata Arsi merengek manja. Sakira merasa semakin yakin jika Putri nya sedang mengalami masa ngidam.
"Huh?? bakso? " ulang Viki.
"Udah cepet cari... " titah Davin, ia mulai bisa mencerna ucapan istri nya tadi.
"iiiyaa" kata Viki bergegas.
"Aku mau mang baksonya di bawa kerumah" kata Arsi pelan.
"Ha?? bagaimana mungkin" kata Viki tak percaya dengan permintaan istrinya. Davin menutup mulutnya menahan tawa.
"Yaudah deh Aku ikut aja, mau liat mang baksonya buat bakso" kata Arsi mengubah permintaan nya.
"Udah Viki kamu turuti saja, nanti anaknya ngences" celetuk Sakira.
"Maksudnya mama? " tanya Arsi bingung.
Viki dan Arsi pun pergi mencari bakso yang di minta Arsi. Sudah keliling keliling mencari bakso di siang bolong, Arsi belum menemukan bakso yang di minati, sudah 10 tukang bakso yang mereka lewati, tapi Arsi tidak menginginkan makan di sana.
"Sayang.... Sebenarnya mau bakso atau mau apa? " tanya Viki menepikan mobilnya ke pinggir.
"Aku mau bakso itu aja deh" putus Arsi menunjuk tukang bakso di pinggir jalan di samping mini market.
"Yakin yah, sampe sana pasti makan kan? " kata Viki meyakinkan Arsi.
"Ihh kak Viki kok malah marah marah sih" kata Arsi mulai sesegukan. tiba-tiba hatinya merasa sangat sedih dengan keluhan suaminya.
"Eh eh, kakak gak marah sayang, kakak hanya kasian liat kamu lama lama di perjalanan" bujuk Viki mengusap pipi istrinya lembut.
"Yaudah yuk makan bakso" kata Viki memarkirkan mobilnya di dekat gerai bakso yang terlihat lumayan ramai.
"Aku tunggu disini aja" kata Arsi.
"Loh, katanya mau lihat mang bakso buat baksonya"
"Gak jadi, maunya di mobil aja" kata Arsi datar.
"Yaudah, mau bakso apa?? telur, atau beranak? " tanya Viki takut salah.
"Beranak aja kak, yang pedes" pesan Arsi.
Viki keluar dari mobil, memesan bakso beranak permintaan Arsi. Setelah 5 menit menunggu, akhirnya pesanan selesai, Viki kembali ke mobil.
"Loh, Arsi nya mana? " tanya Viki tidak menemukan istrinya di dalam mobil. Viki melirik kanan dan kiri mencari sosok Arsi yang mungkin saja ada di sekitar sana.
"Astaga, kemana lagi sih tu bocah" dengus Viki meremas rambut nya bingung.
Arsi berlari memasuki mini market, matanya terus tertuju pada sosok wanita tua yang sempat membuatnya menangis. Entah kenapa Arsi sangat ingin memeluk wanita itu.
"Oma... " lirih Arsi langsung memeluk Mina dari belakang. Yakin jika ia tidak salah orang.
Glek~Tubuh mina menegang, seseorang memeluknya dari belakang. Mendengar suaranya membuat Mina bergetar.
Perlahan Mina berbalik menatap seorang gadis berdiri di belakang nya. Matanya berbinar, cucu yang selalu ia rindukan hadir di hadapan nya. Senyum yang awalnya mulai mereka berubah menjadi kerutan dan tatap tajam.
"Kamu salah orang" kata Mina tersadar dengan dosa yang pernah menyakiti anak cucunya.
Mina sedikit mendorong Arsi hingga memberinya jalan untuk lewat.
"Oma.. kenapa bersikap seperti ini? " tanya Arsi setengah berteriak.
"Aku bukan oma kamu! " balas Mina berjalan cepat, namun terus di ikuti oleh Arsi.
"Oma!!! oma nya Arsi kan?? aku yakin gak mungkin salah orang! " teriak Arsi menahan Lengan Mina agar tidak pergi.
Brak~ seseorang mendorong Mina hingga berjarak dengan Arsi. Gadis itu tampak kaget, berbeda dengan Mina yang tak berani mengangkat kepalanya.
...T E R I M A K A S I H...