
Tak seperti biasanya, Arsi hari ini berangkat kuliah menggunakan mobil sendiri. ia masih marah pada Viki. Ia merasa kesal karena Viki tak pernah memberitahu nya soal calon istri nya. Bukan hanya itu, Arsi merasa perasaannya sedikit berbeda, ia tidak yakin jika hanya itu yang membuatnya marah pada Viki.
Arsi sengaja berangkat kuliah pagi pagi sekali, di Viki masih mandi. Ketika keluar kamar berniat ingin membangunkan Arsi, eh malah Arsi nya udah gak ada di kamar.
Viki menghela nafas pasrah, Arsi sengaja berangkat lebih awal karena ingin menghindari Viki.
Hari ini Viki tidak ada jadwal mengajar di kelas Arsi, ia hanya fokus pada perusahaan.
Hari ini jadwal meeting Viki sangat padat, perusahaan nya sedang melakukan pembukaan cabang baru di pusat kota.
Sudah 1 jam Viki termenung memikirkan kesalahan apa yang telah dia lakukan sehingga Arsi menjadi marah padanya.
"Pak... " panggil Luna sopan.
Viki tak bergeming, ia masih sibuk dengan pikiran nya yang berkecamuk memikirkan Arsi.
"Aiss.... apa sih salah gue! " dengus Viki menggubrak meja kesal. Luna yang masi berdiri di depan meja Viki menjadi kaget.
"Maksudnya gimana pak? " tanya Luna takut takut.
Viki mengerjap ngerjapkan matanya menatap Luna yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruangan nya.
"Sejak kapan kamu ada disini? " tanya Viki menatap Luna cengoh.
"Sejak tadi pak" jawab Luna jujur.
"Ada apa? " tanya Viki merapikan jasnya, ia tidak ingin terlihat konyol di depan pegawainya.
"Meeting akan di lakukan 10 menit lagi pak" ucap Luna mengingatkan, dan Viki harus berada di ruang meeting sebelum rapat di mulai.
"Baiklah" jawab Viki tegas.
"Saya permisi pak" pamit Luna menunduk lalu bergegas keluar dari ruangan Viki.
"Ah sial, gara-gara gadis nakal itu" gerutunya sembari menyapukan telapak tangan nya ke seluruh area wajah.
Di kampus, Arsi terlihat sangat badmood. Semua pria yang menyapanya tak ada di sahutinya. Termasuk Egi dan bayu, mereka sejak tadi berusaha mengajak Arsi ngobrol, eh malah di cuekin.
"Loe kenapa sih Ci? " tanya Meri kesal plus plus penasaran.
"Gue gak papa" jawab Arsi singkat.
"Badmood kenapa? ada yang gangguin loe?? bilang sama gue ci, biar gue hajar" Ucap Egi kaya orang kesambet oen mukul orang, pria itu menarik lengan bajunya bersiap untuk berkelahi.
"Apaan sih" ucap Arsi melirik Egi dengan lirikan mematikan.
"Diem duluu Egii" serga Meri memukul bahu Egi hingga mengadu kesakitan.
"Sakit Meri..begeee"
"Lu nya juga gak jelas gitu"
"Namanya juga gue mau lindungin dia" ucap Egi membela diri.
"Udah tekat bege... ntu orang kalo gangguin Arsi paling jadi bakwan sama si tomboy ini" cerocos Meri panjang lebar. Memang benar, mana ada yang berani mengganggu Arsi jika tidak ingin babak belur.
Arsi menatap Meri dan Egi bergantian, kepalanya semakin pusing melihat kedua sahabat nya malah bertengkar di saat mood sedang tidak baik.
"Aduhhh kenapa jadi kalian berdua yang ribut sih, pusing ini... " ucap Arsi sembari bangkit dari duduknya.
"Eh tunggu, jan tinggalin gue sama kupret ini" teriak Meri mengejar Arsi yang sudah berjalan duluan.
"Arsi... " Panggil Alex berhenti tepat di hadapan Arsi.
"Ada apa lex? " tanya Arsi santai.
"Gue mau ngomong sama loe" ungkap Alex.
"yah ngomong aja lex" jawab Arsi.
"Oh sorry, gue bisa nunggu loe di mobil kok ci" ucap Meri tak enak.
"Gak papa kok, dia sahabat gue. " ucap Arsi menahan lengan Meri agar tetap berdiri di samping nya. Arsi tak ingin berdua saja dengan alex, apalagi taman sedikit lebih sepi.
"Loe ada hubungan apa sama Pak Viki? "
Deg.
Tubuh Arsi seketika menegang, cengkraman tanganya pada lengan Meri semakin kuat. Meri melirik tangan Arsi pada lengan nya, ia juga sedikit kaget mendengar pertanyaan Alex barusan. Arsi tak pernah cerita padanya soal ini.
"Gue gak ada apa apa sama tu dosen" jawab Arsi sedikit gugup, namun dapat ia kontrol dengan cepat.
"Oo bagus lah, gue kira loe dekat sama tu dosen, karena gue pernah liat loe bareng dia" ucap Alex lagi.
"Cuma mau ngomong itu? " tanya Arsi malas, Alex mengangguk.
"Yaudah gue pergi dulu, ada hal penting ini" ucap Arsi menarik Meri ikut bersamanya.
Alex tak merespon apapun, ia hanya menatap kepergian Arsi bersama Meri. Ia tahu jika Arsi menyembunyikan sesuatu. Namun Alex tak ingin bertanya lebih banyak lagi, suatu saat Arsi pasti akan mengatakan padanya, dan Alex juga menunggu waktu berbicara berdua bersama Arsi.
Sementara di lain sisi Meri merengut kesal karena merasa ketinggalan sesuatu.
"Loe ada rahasia sama gue? " tanya Meri menghempaskan lengannya, ia tak bisa menahan rasa penasaran nya lagi.
"Gue bisa jelasin di mobil! " jawab Arsi kembali menarik tangan Meri, ia berniat akan menceritakan semuanya pada Meri termasuk jati dirinya. Meri tak merespon lagi, ia menurut mengikuti Arsi ke parkiran.
"Ikut Gue! " ucap seseorang tiba-tiba menarik lengan Arsi.
"Eh" kaget Meri melihat Viki.
"Apaan sih, lepasin! " bentak Arsi.
"Gue hubungin kenapa gak loe angkat? " tanya Viki penuh emosi, ia sengaja menghampiri Arsi ke kampus, bahkan Viki meninggalkan meeting hanya karena mendapat laporan bahwa seorang laki-laki berniat mendekati Arsi.
"Gak penting! " blas Arsi kembali menarik lengan Meri hendak masuk ke adalam mobilnya. Meri tak dapat berkata-kata lagi, pikirannya pusing memikirkan apa yang sedang terjadi. Perkataan Alex bergentayangan di benak Meri.
"Ahk.. " pekik Arsi tiba-tiba tubuhnya Melayang di udara.
"Eh mau di bawa ke mana?? " teriak Meri panik melihat Arsi di gendong oleh dosen kiler. Meri tak tahu harus berbuat apa.
"Aduhhhh, tuh anak ngapain berurusan sama tu dosen sih! " gumam Meri menggigit jarinya sembari mondar mandir di depan mobil Arsi, sementara Arsi sudah menghilang di bawa oleh Viki masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa? " tanya Bayu tiba-tiba, membuat Meri terlontljak kaget.
"Astaga!!! Bayuuuu, loe bisa gak sih datang gak tiba-tiba! " pekik Meri mengusap dadanya.
"Alah, lebay loe! " dengus Bayu.
"Bantuin gue dong. Si Arsi di bawa dosen kupret itu" mohon Meri.
"Yaudah biarin ajah" jawab Bayu santai.
"Ihh kok loe gitu sih, entar kalo Arsi di apa-apain gimana!! " teriak Meri tak habis pikir dengan reaksi Bayu.
"Udah, Arsi gak bakal kenapa kenapa" jelas Bayu menenangkan Meri.
"kok loe seyakin itu? " tanya Meri penasaran.
"Entar loe juga bakalan tahu" jawab Bayu melenggang memasuki mobil Arsi, kemudian menjalankan nya.
" Loh kok malah pergi!!! woy!!!! gue ketinggalan!! "teriak Meri menghentak hentakan kakinya kesal. Arsi di bawah kabur, Bayu malah ninggalin dia. Apes banget nasibnya hari ini.
" Gue pulang sama siapa sihhhh" rengek Meri kesal, ia hari ini sengaja tidak membawa mobil karena pagi pagi sekali sudah di jemput Arsi.
...T E R I M A K A S I H...