
Pukul 19.20 Arsi tiba di rumah. Gadis itu dengan santai memasuki rumah tanpa bersuara dan langsung menuju kamarnya.
"Dari mana aja loe? " tanya Viki.
Pria itu berdiri di ruang tamu menatap Arsi dengan tangan terlipat di dadanya. Mata hazel Viki menatap tajam Arsi yang terlihat santai.
"Loe ngomong sama gue? " tanya balik Arsi yang sebelumnya melirik kiri kanan nya.
Viki menggeram, berbicara dengan Adiknya ini memang harus menyediakan tenaga ekstra.
"Kenapq tidak masuk ke mata kuliah gue? " tanya Viki lagi.
"Gue ada urusan" jawab Arsi singkat.
"Urusan yang paling penting untuk loe itu kuliah! belajar yang bener! " omel Viki.
"Udah lah Viki, dia baru pulang juga gak usah di omelin" ucap seorang wanita yang muncul dari dapur.
"Wanita itu?? " batin Arsi mengingat Nisa, gadis yang pernah datang ke apartemen kakanya.
"Loe adiknya Viki kan? gue Nisa sahabat Viki" ucap Nisa memperkenalkan diri pada Arsi.
Tak menjawab, Arsi malah berbalik dan melangkah menuju kamarnya.
Nisa menarik tangannya yang sudah terulur, telapak tangan nya mengepal menahan amarah. Ia merasa sangat di permalukan.
"Mungkin dia capek" lirih Nisa tersebut pada Viki.
"Maaf kan adik ku" sesal Viki atas sikap adiknya pada sahabat nya.
"Tidak apa apa" jawab Nisa.
Viki kembali duduk di sofa, sementara Nisa kembali ke dapur membantu Seila memasak makan malam.
Arsi masuk ke dalam kamarnya, wajah cantik itu masih terlihat mengerut dan kesal.
"Wanita itu ngapain kerumah ini sih! " gerutu Arsi sembari membuka bajunya lalu meraih handuk dam langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, Arsi turun dengan penampilan rumahnya yang sederhana. Meskipun hanya mengenakan piama tidur, kecantikan Arsi masih sangat terlihat.
"Kakakk....... " teriak si kembar.
Mata Arsi berbinar melihat adik kembarnya yang sudah lama tidak ia lihat. Mereka sudah 3 bulan berada di bandung bersama nenek mereka, karena Seila ingin anak anaknya juga dekat dengan keluarga dari suaminya.
"Kok adek kakak baru dateng sih.. " rengek Arsi merajuk.
Aldo mendekat, lalu memeluk Arsi dengan erat.
"Kakak yang sabar yah, aku selalu ada untuk kakak cantik aku" ucap Aldo menyentuh sekali.
"Ehhh aku jugaa" teriak Aldi.
Si kembar yang nakal nya minta ampun menjadi baik ketika bersama Arsi. Nisa yang melihat kedekatan Arsi dengan anggota keluarga membuatnya sedikit iri.
"Kak... kakak itu liatin kakak terus" bisik Aldi.
Arsi melirik Nisa, namun tidak mendapati Nisa melihat ke arahnya.
"Nggak tuh, kamu salah lihat kali" bisik Arsi paa mereka.
"Hee sudah sudah ayo makan" ajak Seila melerai acara bisik bisik Arai dengan kedua bocah kembar itu.
Arsi menarik kursi di samping Viki, namun belum sempat ia duduk, Nisa sudah duduk duluan.
"Ini Air minumnya" ucap Nisa pura-pura menuangkan Air minum ke gelas Viki.
"Ini tempat duduk gue! " ucap Arsi ketus.
"Eh sorry gue gak tahu" jawab Nisa ngeles, padahal ia melihat sendiri Arsi sudah menariknya dan sengaja ia mendahului Arsi duduk di sana.
"Yah minggir" usir Arsi.
"Udah lah, loe duduk aja!! makan aja repot! " ucap Viki.
Nisa tersenyum lebar, Viki membelanya. Sementara Arsi mendengus kesal la mengambil duduk di antara Aldi dan Aldo.
"Aldi mau yang makan ini gak? kakak yang masakin loh" tawar Nisa ingin menyendokkan ke Piri Aldi.
"Gak perlu, Aku gak suka itu" tolak Aldi.
Arsi gak ambil pusing lagi, ia benar-benar lapar saat ini. Informasi yang di dapatnya dari Edo dan Syanaz membuat otaknya berpikir keras.
"Ini biar kakak ambil kan, kak Arsi nya lagi makan" ucap Nisa mencoba mengambil muka pada Aldo.
"Gak usah, kak Arsi aja" jawab Aldo datar.
"Sayang gak boleh gitu" tegur Seila tak enak pada Nisa.
"Gak papa tante, namanya juga anak anak" ucap Nisa.
"Ini, makan yang banyak" ucap Arsi menyendokkan sayur dan ayam paa piring kedua bocah nakal itu.
Viki tahu jika Arsi merasa tak enak dengan kehadiran Nisa, tapi gadis itu sangat nekat dan maksa Untuk datang ke rumah nya.
Makan malam pun selesai, Arsi langsung menuju ke taman belakang. Sementara Nisa membantu Seila membereskan semua piring kotor. Jika tidak ingin mengambil hati satu satu nya keluarga Viki, Nisa tak akan melakukan ini.
Kembali pada Arsi, gadis itu duduk di taman belakang rumah nya. Menatap langit yang menaburkan beribu bintang disana.
"Kenapa keluarga gue seperti ini yah" gumam Arsi.
Cling... ponsel Arsi berbunyi pertanda SMS Masuk.
Perlahan Arsi membuka SMS yang ternyata dari Edo. Isi dari pesan itu adalah sebuah Foto.
Arsi pun mengamati foto itu dengan saksama.
"Siapa wanita ini? kenapa wajahnya tidak terasa asing? " batin Arsi
"Sendirian? " sapa seseorang membuat Arsi langsung menutup ponselnya.
"Kok di tutup? dari pacar loe YAB? " tanya Nisa sok akrab.
"Bukan urusan loe! " jawab Arsi ketus.
Arsi pun berdiri dari duduknya hendak pergi dari taman.
"Loe harus tahu, Viki milik gue dan gue bakalan jadi kakak ipar loe! " ucap Nisa.
Nisa masih belum tahu jika Arsi dan Viki bukanlah saudara kandung. Ia berjalan mendekati Arsi yang menghentikan langkahnya, namun masih membelakangi Nisa.
"Mau gimana pun, loe gak bakal bisa musuhin gue selamanya" ucap Nisa.
"Huh. ternyata loe suka sama kakak gue? " dengus Arsi membalikkan tubuhnya menghadap Nisa yang juga menatapnya. Sedikit lebih pendek dari Arsi, Nisa menengadah melihat padanya.
"Kalau iya kenapa! " tantang Nisa.
Arsi tersenyum miring, lalu berjalan mendekat pada Nisa.
"Kakak gue cuma anggap loe temen" bisik Arsi.
Brakk~tubuh Nisa tiba-tiba terdorong ke belakang dan terjatuh ke rumput.
"Aww... " ringis Nisa kesakitan.
Arsi mengerut bingung dengan apa yang di lakukan Nisa. Tangan Arsi sedikit pun tidak menyentuh tubuh gadis itu, tapi dia malah terjatuh.
"Arsi!! loe apa apan sih! " bentak Viki membantu Nisa berdiri.
Arsi mengerti sekarang, perempuan ular itu berakting seolah ia mendorong Nisa agar Viki salah paham.
"Gak papa, Arsi mungkin gak sengaja" ucap Nisa Seola membela Arsi.
Tak berkata apa apa, Arsi malah pergi begitu saja. Namun Viki langsung menarik lengan Arsi sehingga Arsi tertarik ke belakang dan kembali menghadap pada mereka.
"Loe harus minta maaf sama temen gue! " bentak Viki.
"Loe bentak gue?? " tanya Arsi dengan nada tak percaya.
"Kenapa? yang salah tetap salah! " jawab Viki.
"Gue gak akan minta maaf sama perempuan Ular ini! " ucap Arsi menolak perintah Viki. Lalu dengan kesal Arsi menghempaskan cekatan tangan Viki dan berlalu begitu saja.
"Arsi!!! Arsi!!! " panggil Viki.
"Udah gak papa, gue kan gak kenapa kenapa" ucap Nisa meyakinkan Viki.
Nisa tertawa di dalam hatinya karena berhasil membuat Viki marah pada Arsi. Ia benar-benar kesal dengan sikap Arsi yang menolak kehadirannya.
"Loe lihat aja, gue bakal buat Viki benci sama loe" tekat Nisa di dalam hatinya.
...T E R I M A K A S I H...