
Pria tampan berkulit putih susu menatap gedung yang menjulang tinggi. Impiannya akhir nya tercapai bisa melanjutkan pendidikannya di Harvard university.
Arkan melangkah masuk ke dalam gedung itu, namun tiba-tiba teriakan seseorang membuat langkahnya terhenti.
"Arkan!!!!!! "
Arkan melihat ke arah gadis yang tengah berlari mendekat padanya, seketika tatapan Arkan berubah menjadi dingin. Menghela nafas berat, mengapa gadis ini selalu ada setiap Arkan melangkah.
"Huh huh huh, Kok kamu ninggalin aku sih tadi" gerutu Yundia sembari mengatur nafasnya.
Setelah merasa nafasnya sudah teratur, Yundia menggandeng lengan Arkan.
"Yuk masuk"
Arkan menepis tangan Yundia,
"Bisa tidak kamu gak usah ngikutin aku!!! " bentak Arkan kesal.
"Apa? aku hanya ingin masuk bersama dengan mu"
"Tapi aku tidak mau!! " bentak Arkan lagi, lalu pergi begitu saja meninggalkan Yundia yang menatapnya nanar.
"Yasudah kalo gak mau, gak harus teriak teriak" cibir Yundia ikut melenggang masuk ke kampus.
Yundia, tubuh tinggi langsing. Wajah cantik khas wanita Indonesia. Kecantikan yang memancar dari wajah Yundia, membuat banyak para bule melirik ke arahnya.
"Hai" sapa Yundia tersenyum Rama pada mereka semua.
"Haaaa" mereka klepek klepek mendapat lambaian tangan wanita cantik seperti Yundia.
Sementara Arkan, dengan gaya cool melewati koridor kampus.Tak jauh berbeda dengan Yundia, para gadis berteriak histeris ketika melihat Arkan. Pria tampan dengan aurah dingin melewati mereka seolah melewati koridor sepi.
"Hi Arkan"
Segerombolan cewe cewe cantik menghampiri Arkan. Mereka terlihat tertarik dengan pesona ketampanan Arkan. Namin Arkan tidak menanggapinya, ia terus melangkah melewati mereka.
"Jangan sombong sombong dong" ujar mereka mengikuti Arkan, seketika mereka menjadi pusat perhatian.
"Wah, angle sudah dekat sama mahasiswa tampan itu"
"Apa mereka pacaran? "
Mendengar penuturan teman temannya membuat Angle mengangkat dagu sombong.
"Idih, dasar centil " sungut Yundia melirik mereka dari jauh.
Brak~
"Aw"
"Sorry sorry, aku gak sengaja" seorang pria yang tak sengaja langsung membatu meme bere akan buku bujur yang Yundia bawa, lalu membantu gadis itu bangun.
"Iya gak papa"sahut Yundia memberikan rok nya.
Pria itu menatap Yundia, ia belum pernah melihat Yundia sebelum nya.
" Kamu anak baru? "
Yundia mengangkat pandangannya, membalas tatapan si pria tampan.
"Aku baru semester pertama di sini" jawab Yundia.
Roy Antrainso, mahasiswa semester 2 jurusan bisnis. Roy adalah orang Indonesia yang menetap di Amerika. Semua keluarga nya berada di Indonesia, kecuali dirinya yang di beri kepercayaan mengelola anak cabang perusahaan dari ayahnya.
Hidung mancung, mata coklat kucing. Tubuh tinggi dengan kulit sawo matang, membuat Roy terlihat seperti orang Asia asli.
"Dia tampan, tapi lebih tampan Arkan dari dia" pikir Yundia membandingkan kedua pria tersebut.
"Oh iya, aku Roy Antrainso"
"Yundia"
Mereka bersalaman memperkenalkan diri masing-masing.
"Cantik banget" batin Roy menatap wajah Yundia tak berkedip.
"Maaf, aku harus masuk" cicit Yundia menarik tangannya dari genggaman Roy.
"Eh sorry" Roy langsung mengangguk dan Melepaskan tangan Yundia.
Menatap gadis yang sudah berlari menjauh karena sebentar lagi akan masuk kelas.
"Aku harus mendapatkan nya" tekat Roy. Kemudian pria itu kembali melanjutkan tujuannya yang tadi terburu buru. Roy lupa jika dirinya harus menghadiri rapat.
"Yundia!!!!!! "
Yundia menengok ke sumber suara. Seketika matanya berbinar melihat sahabat kecilnya ada di sana.
Yundia berlari kecil menghampiri Wirda, gadis cantik teman Yundia semasa SMP.
"Wahh aku gak nyangka bisa ketemu kamu di sini" ujar wirda.
"Iya aku juga, jurusan apa? "
"Aku jurusan desain"
"Wah sama!!! " teriak Yundia senang.
Mereka berjalan bersama masuk ke dalam kelas.
...----------------...