
"Halo.... selamat malam... " Sapa Sindi tersenyum lebar, di dorong nya celly yang sedang duduk di kursi roda sembari menggendong bayinya. Sementara Kevin dan Bayu membawa koper dan seluruh barang barang yang di perlukan ketika tinggal di rumah ini.
"Loh, Viki sama Davin kok cemberut sih, gak senang yah kami ke sini? " tanya Celly dengan wajah sedihnya.
"Nggak kok, mereka senang kok. iya kan pah, nak.. " jawab Sakira melirik tajam seakan mengatakan tersenyum sekarang.
"Senang kok, kenapa kami gak senang" jawab Davin cepat.
"Iya, seneng banget" jawab Viki tersenyum paksa.
"Yaudah yuk kita masuk" ajak Sakira membantu mama sindi mendorong kursi roda. Sementara Bayu dan Kevin menahan tawa melihat sikap Viki dan Davin yang mereka sudah tahu apa penyebabnya.
"Selamat datang di rumah Aunty Sakira sayang"ucap Sakira pada putri kecil yang berumur 1 minggu.
"ngomong ngomong, Arsi mana? " tanya Kevin tidak melihat keponakan kesayangan nya.
"Ada kok uncle di kamarnya" jawab Viki.
"Oh iya, Arsi pasti belum tahu jika kalian sudah sampai" ucap Sakira teri nya kan pesan putrinya.
"Viki cepat panggilkan adik mu" titah Sakira. Tanpa disuruh pun Viki juga sudah berniat untuk memanggil Arsi.
"Senang lah tu" cibir Davin kesal pada Viki. Sementara Viki membalas dengan meleletkan lidahnya.
Di kamar, Arsi tengah berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya.
Tring~
Sebuah pesan masuk ke whatsapp Arsi, keningnya sedikit mengerut karena no tidak di kenal.
Awalnya Arsi tidak berminat untuk membuka pesan itu, ia berusaha untuk mengabaikannya
Tring~~pesan kedua masuk. Mau tidak mau Arsi membuka pesan yang di kirimkan oleh no asing itu.
"Siapa sih! " kesal Arsi.
pesan pertama.
Keluarga mu akan hancur!
"What?? apa apan sih ini!! " dengus Arsi geram. Lalu di bukanya pesan berikutnya.
pesan kedua.
Bersiaplah
Pesan kedua sedikit lebih aneh, karena di sertai dengan foto kehancuran pesawat.
"Kurang kerjaan banget" ketus Arsi langsung menghapus pesan itu.
"Ada apa? " tanya Viki tiba-tiba membuat Arsi spontan melempar ponselnya
"Astaga!!! " teriak Arsi.
"loe bisa gak sih, kalo masuk itu ngetuk pintu dulu!! " bentak Arsi kesal, ia benar-benar kaget, Viki seenaknya masuk ke kamarnya tanpa permisi.
"Kenapa? gak suka? " tanya Viki datar.
"Mau apa loe masuk kamar gue? " tanya Arsi mengabaikan pertanyaan tak bermakna Viki.
"Suka suka gua lah, mau masuk kesini kapan aja" jawab Viki membuat Arsi semakin kesal.
"Loe itu yah, kadang ngeselin kadang baik!! " denius Arsi memutar bola matanya.
Brak!!
Viki mendorong Arsi yang sedari tdi duduk di atas ranjang menjadi berbaring terlentang dengan kedua pergelangan tangan Arsi di tahan.
"Awh... Sakit bego! " berontak Arsi berusaha melepaskan cengkraman Viki.
"Gue udah bilang kan, hati hati memakai bahasa! " peringatan Viki dengan nada dinginnya, tatapan matanya lurus menatap mata Arsi yang tak sanggup menatap balik pada Viki.
Deg deg deg
"Mampusss kok gue bisa dalam posisi ini sih" batin Arsi.
"Maaf kak, bisa lepasin tangan gu... Aku gak? " mohon Arsi takut takut.
"Boleh, dengan 1 syarat" ucap Viki membuat Arsi mengerut bingung.
"Apa? " tanya Arsi penasaran.
"Cium gue! " jawab Viki santai, lalu memantulkan bibirnya ke depan.
"Ihhh apaan sih, loe gila yah!!! " bentak Arsi keras.
"Hahahaha... canda gue" jawab Viki tertawa lepas, tetapi masih mengurung Arsi di bawah tubuhnya.
"Gue kira loe beneran" cicit Arsi bernafas lega.
"Gue berubah pikiran" jawab Viki dengan suara dingin nya.
"Mak.. mak.. maksudnya? " tanya Arsi gagap, ia benar-benar gugup sekarang.
Dekat semakin dekat, Viki menatap bibir Arsi yang selalu saja menggoda imannya. Sementara Arsi terlena mendengar degup jantung nya yang sudah tak beraturan lagi.
"Sudah ku duga! " lirih seseorang membuat Viki terlontar kaget dan langsung menjauh dari Arsi.
"huhhhh Bayu!!! " sergap Viki kesal, ia pikir itu tadi mamanya. Jika itu Sakira, maka tamatlah riwayatnya.
"Hahaha lu pikir aunty? " tebak Bayu.
"Mampus gue kalo mama yang mergoki" jawab Viki bernafas lega. Lalu matanya menatap Arsi yang masi terbaring dengan tatapan bengong. Gadis itu masih belum sadar jika Viki sudah tidak di atasnya. tangan Arsi pun masih sama seperti Viki cengkram tadi.
"Belum sadar tu anak" cibir Bayu.
"Perlu di sadarin itu" jawab Viki tersenyum miring. Perlahan ia mendekat dan kembali berada di atas Arsi.
Cup~ mata Arsi membulat melihat wajah Viki yang begitu dekat dengan nya. Meski bibir Viki sudah tak menempel pada bibirnya.
"Gas pak Eko!!!!! " sorak Bayu menyemangati Viki.
"Akhhh!!!!!!!!!" Arsi baru sadar, kemudian mendorong tubuh Viki keras hingga Viki jatuh ke lantai.
Brak~~~
"Ahw... " ringis Viki mengusap pantatnya.
"Dasar mesum!! " teriak Arsi mengambil bantalnya, lalu melemparnya pada Viki dan Bayu bergantian.
Brak~
Brak~
"Ampun dek, ampun!!!! " teriak Viki menyerah mengangkat kedua tangannya.
"Dasar gak ada akhlak" dengannya kesal, lalu Arsi berjalan cepat ke luar dari kamar dengan wajah yang cemberut.
Tiba di bawah, Arsi di sambut oleh Oma Sindi dan juga auto Celly yang sudah duduk di sofa.
"Anak mama dah turun" ucap Sakira yang di angguki oleh Arsi.
"Viki sama batu mana? " tanya Davin, setiap yang ke atas langsung ngilang Awalnya Viki, sekarang Bayu, mereka sangat lama jika sudah di suruh memanggil Arsi ke kamar.
"Hadir pa" sahut Viki turun dari tangga bersamaan dengan Bayu.
"Kok lama? " tanya Davin.
"Sih Arsi lama buka pintu" jawab Viki asal.
"Bohong banget, mereka tu yang ngerjain Aku" sanggah Arsi melirik tajam pada mereka. Viki dan Bayu hanya diam pasrah akan semua cerita Arsi, jika di bantah makan mereka akan tamat.
...T E R I M A K A S I H...