
Arsi melaju menaiki taxi menuju kampus, ia sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi di kampus. Rasa penasaran Arsi membuat dirinya tidak membuka ponselnya.
Ponsel Arsi kembali berdering, tapi kali ini bukan dari Meri atau sahabat nya yang lain, tetapi Viki. Rasa kesal masih menghinggapi hatinya, Arsi memilih untuk mengabaikan panggilan dari kakaknya.
Arsi tiba di depan kampusnya, ia keluar dari taxi setelah membayar pada supirnya.
Berbagai pasang mata menatap Arsi dengan berbagai macam ekspresi.
kenapa mereka, liatin gue begitu?. batin Arsi merasa risih di tatap oleh mereka.
"Gak nyangka yah"
"Kok bisa sih"
"Cantik cantik tapi murah"
"Pantes barang barang nya bermerk semua"
"Ih gue sih ogah"
Berbagai macam bisikan terdengar di telinga cantiknya, Arsi tak mengerti dengan ucapan mahasiswa yang menatap aneh padanya. Ada juga yang sengaja membicarakan nya tepat di depannya.
"Ikut Gue" ucap Meri yang langsung menarik pergelangan Arsi. Gadis yang masih bingung dengan situasi kampus hanya menurut mengikuti kemana sahabat nya membawanya.
"Loe gak papa? " tanya Bayu khawatir, ia memriksa setiap inci tubuh Arsi.
Meri hanya melihat saja apa yang dilakukan oleh Bayu, Egi pun ikut menatap sikap Bayu yang begitu khawatir dengan Arsi.
Sementara Arsi hanya diam menatap lurus ke depan, ia masih mencerna ucapan demi ucapan yang ia dengar tadi. Arsi tidak bodoh, ia yakin jika mereka sedang membicarakan nya.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi, kok mereka bicara gitu sama gue? " tanya Arsi menatap teman teman nya satu persatu.
"Loe belum liat majalah kampus? " tanya Meri melupakan kebingungan nya menatap sikap Bayu. Sejujurnya ia menyimpan rasa pada Bayu.
"Emang ada apa? " tanya Arsi langsung memeriksa ponsel nya.
"Bangsat! siapa yang lakuin ini!! " umpat Arsi menahan emosinya. Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya tengah di gendong oleh seorang pria masuk ke dalam sebuah apartemen.
"Ini loe kan? " tanya Meri menatap Arsi penasaran.
"Ini emang gue" jawab Arsi.
"Beneran loe?? " tanya Egi kaget.
"Siapa dia? " tanya Meri lagi.
"Jangan bilang itu dosen baru? " tebak Meri membuat Arsi tak jadi menjelaskan, ia malah menjadi gagu. Jika ia ngaku, maka semua nya akan terbongkar, mungkin sahabat nya akan marah padanya.
"Bukan lah, masa gue di gendong dosen sih. Nga-ngaco loe" elak Arsi.
"Dia abang nya Arsi" jawab Bayu tiba-tiba, membuat semua mata menatap ke arah Bayu, terutama Arsi, ia menatap Bayu kaget karena mengatakan yang sebenarnya. Masih untung di foto itu wajah Viki tidak terlihat jelas.
"Kok loe tahu? " tanya Egi membuat jantung Arsi berdegup kencang, ia menatap Bayu penuh harap. Jika Bayu mengatakan yang sebenarnya maka Egi dan Meri pasti akan kecewa.
"Loe lupa? gue dan Arsi sudah kenal sejak kecil " jawab Bayu datar, Arsi pun bernafas lega.
"Iya, i ituu abang gue. Kemarin saat gue selesai urusan sama tu dosen, abang gue jemput dan gue ketiduran di mobilnya" jawab Arsi menjelaskan nya.
"Syukur deh, gue kira lu beneran tidur sama tu cowo" celetuk Egi yang langsung mendapat pukulan maut dari Meri.
"Sakit Mer Mer" ringis Egi mengusap bahunya yang mendapat pukulan dari Meri.
"Rasain, siapa suruh mulut loe gak ada rem" jawab Meri ketus.
"Udah udah, sekarang pikirin cara gimana menyelesaikan gosip itu" sanggah Bayu menghentikan aksi Egi dan Meri. Mereka langsung mengangguk dan berpikir.
"Siapa sih yang udah buat tu berita! " dengus Arsi kesal. Mereka sekarang berkumpul di ruangan band kampus yang kepala pengurus nya adalah Bayu.Jadi mereka bisa sepuasnya di sana tanpa ada yang mengganggu.
"Trus siapa yah" gumam Meri mencoba berpikir siapa yang sudah melakukan hal ini.
"Soal berita itu aman, gue bakal suruh orang untuk hapus dari media sosial" ucap Bayu.
Mereka mengangguk, Bayu memang tidak menutupi identitas nya, ia dikenal sebagai putra satu satunya Kevin dan Celly, investor terbesar setelah Davin Ricardo.
"Good job man... " ucap Egi menepuk bahu Bayu.
"Eh siapa tu yang nelfon loe? " tanya Meri menatap ponsel Arsi yang terlihat menyala dan menampilkan panggilan dari Viki. Masih untung Arsi tidak membuat nama Viki di sana, ia memberi nama kontak Viki dengan sebutan Es Batu.
"Es Batu? " gumam Egi meraih ponsel Arsi dari atas meja, belum sempat ia menekan tombol hijau untuk menjawab, Arsi lebih dulu merebut ponsel nya.
"Ini dari abang gue" jawab Arsi, lalu menempelkan ponselnya ke telinga nya dan sedikit menjauh dari sahabat nya.
"Ada apa? " tanya Arsi ketus.
"... "
"Gue aman" ucap Arsi menjawab pertanyaan dari dalam ponselnya.
".... "
"Gue bisa atasi sendiri" jawab Arsi, lalu memutuskan sambungan telfon secara sepihak.
"Sial! " umpat Viki menatap ponselnya yang sudah tidak terhubung lagi dengan Arsi. Ia menyesal meninggalkan Arsi dan membiarkan Arsi keluar dari apartemen nya.
Ketika berada di kamar, Viki terkejut melihat berita utama yang terpampang jelas di dinding majalah kampus.
Mahasiswi yang terkenal cantik dan pintar tengah di gendong oleh seorang pria masuk ke sebuah apartemen dalam keadaan tidur.
Viki sangat marah dan menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki siapa yang sudah melakukan hal ini.
Sementara di kampus Arsi masih belum di ijinkan oleh ketiga sahabatnya untuk keluar dari ruangan band. Meskipun berita itu sudah di hapus, tetap saja tanggapan mahasiswa lain masih belum berubah.
"Kalau gue tahu orang nya, abis tu anak! " gumam Arsi penuh tekat.
"Loe tenang ajah, masalah ini akan kelar" ucap Meri menenangkan Arsi.
"Loe punya kita kok" sahut Egi tersenyum tulus, ia merasa sangat kasian pada Arsi. Dikira menjual diri demi uang. Meskipun di kampus Arsi terkenal sebagai orang biasa, tapi Arsi memakai dan menggunakan benda benda yang bermerek dan sangat mahal.
Meri melirik Bayu, sejak tdi Bayu hanya diak dan fokus pada ponselnya. Terlihat di mata Meri jika Bayu sangat peduli pada Arsi.
Beruntung banget Arsi, dapat perhatian dari banyak cowo yang tulus seperti mereka. batin Meri dalam hati, ia juga menatap Egi yang sejak tadi berusaha menenangkan Arsi.
Meri tersenyum ketika Bayu melirik nya sekilas, kemudian kembali fokus pada ponselnya.
08xxx
Gimana? apa berita nya bagus?
Arsi meremas ponselnya kuat membaca isi pesan yang ia yakin jika itu dari pelaku yang sudah menyebar berita itu.
"Sial!!! " umpat Arsi mengundang perhatian ketika sahabat nya. Bayu langsung merebut ponsel dari tangan Arsi.
"Dia pasti orang nya! " ucap Bayu menahan geram. Sementara Meri hanya melirik Bayu yang tengah menatap ponsel Arsi.
"Ada apa? " tanya Egi penasaran.
"Sial!! berani sekali dia" gumam Egi memperlihatkan pesan yang baru saja di Terima Arsi pada Meri. Gadis itu tak terlalu merespon, ia hanya mengangguk menyetujui ucapan Egi.
Hai.... jangan lupa Vote!! like!! komen!! dukung terus yah, doain semoga aku bisa up tiap hari.
...T E R I M A K A S I H...