My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
53. Mendekati Alex



Arsi berjalan menyusuri koridor kampus, matanya sejak tadi mencari sosok Alex.


"Kemana sih tu bocah" lirih Arsi.


Gadis yang mengekan stelan sederhana namun masih terlihat sangat cantik melirik kiri kanan.


"Loe cari siapa? " tanya Alex, pria yang sejak tadi di cari Olehnya.


"Astagaaa ketemu juga ni bocah" ucap Arsi.


Alex mengangkat alisnya bingung, ia tak menyangka Arsi yang selama ini ia kejar kerja malah mencarinya.


"Loe nyari gue? " tanya Alex.


Arsi gelagapan, tak tahu mau jawab apa pada alex.


"Iya.. kenapa? "ucap Arsi jutek, agar tidak mencurigakan.


Alex mengangkat bahu acuh, raut wajah yang awalnya bingung kini berubah menjadi senyum bahagia, gadis yang selama ini di kejar kejarnya kini malah mencarinya.


Arsi menatap wajah Alex, terlihat sangat jelas wajah tampan Alex sangat mirip dengan wajah wanita yang pernah ia lihat di foto.


" Pantesan gue merasa tak asing dengan wajah wanita itu"batin Arsi.


"Hei.. " panggil Alex melambaikan tangannya didepan wajah Arsi hingga gadis itu kaget dan tersadar.


"Eh iya"


"Loe kenapa sih? " tanya Alex bingung.


Arsi menggeleng sembari tersenyum manis, "Loe mau makan gak? "


"Boleh, kebetulan gue lagi laper" jawab Alex santai, tak curiga terhadap perubahan sikap Arsi.


"Yaudah yuk ke kantin" ajak Arsi menarik lengan Alex.


Mark yang tak sengaja melihat Arsi menarik lengan Alex menjadi bingung. Tak seperti biasanya Arsi bersikap seperti itu terhadap laki-laki.


Mark mengikuti keduanya ke kantin, rasa penasaran nya sungguh besar.


"Mark loe mau kemana? " tanya Agus yang sejak tadi bersama mark.


"Guru laper" jawab mark berjalan meninggalkan agus.


"Memang aneh" gerutu Agus.


Arsi duduk di sebuah meja setelah memesan makanan untuk mereka berdua. Alex tak merasa curiga sedikit pun, ia hanya menikmati perhatian Arsi padanya saat ini.


"Loe tinggal sama siapa? " tanya Arsi setelah beberapa menit mereka duduk dalam diam.


Pertanyaan Arsi mulai menjurus pada penyelidikan nya.


"Kenapa? kok tumben loe nanyain gue, biasanya loe acuh banget sama gue" tanya balik Alex mulai curiga.


Arsi sedikit kaget melihat Alex terlihat mulai curiga, Arsi memutar otak nya memikirkan sesuatu agar Alex tidak curiga.


"Gue merasa gak enak aja, udah lama kenal sama loe, tapi gue gak tahu apa apa soal loe" jawab Arsi panjang lebar. Alex mengangguk mengerti, dan Arsi bersyukur akan hal itu.


"Gue sama nyokap, sejak kecil udah berdua " jawab Alex santai.


"Bok... " tanya Arsi terhenti karena pelayan kantin datang mengantarkan pesanan mereka tadi.


"Yuk makan" ajak Alex mulai melahap ayam goreng nya. Sementara Arsi menahan dirinya agar tidak terburu-buru.


"Sabar Arsi, jangan terlalu terburu-buru untuk mengetahui semuanya" batin Arsienghibur dirinya agar tidak terlalu terburu-buru.


"Gimana kuliah loe? " tanya Alex.


"Yah gitu deh" jawab Arsi mulai cuek, ia tidak ingin terlalu terlihat perubahan nya sekarang.


"Sejak kecil loe udah di sini? " tanya Arsi santai seperti obrolan ringan.


"Gak sih, gue disni setelah lulus SMA" jawab Alex.


"Jadi sebelum nya loe dimana? " tanya Arsi lagi.


"Yah sebelum nya gue di luar negeri" jawab Alex tidak menyebutkan nama negara dimana ia tinggal dahulu, tentu saja Arsi sedikit kesal akan hal itu.


"Bentar bentar... " ucap Alex merasa sedikit aneh.


"Kok tumben banget loe mau tahu tentang gue? " tanya Alex menatap Arsi penuh selidik.


Gadis imut yang duduk di depannya pun salah tingkah ditatap intens seperti itu.


"Ya.. ya ya biasalah, gak enak juga kan udah lama deket gue gak tahu soal loe" kila Arsi.


Alex diam, ia terlihat berpikir sejenak.


"Loe suka sama gue?? " tanya Alex berbinar, ia benar-benar jatuh hati pada, gadis yang sebenarnya mamanya ingin balas dendam.


"Ih apaan sih, kagak lah" jawab Arsi cepat.


"Huh? " bengong Alex.


"Gue pengen tahulah tentang orang orang yang ada di sekitar gue" jawab Arsi meluruskan agar Alex tidak kecewa dan tidak menjauhi nya lagi.


"Oo gitu" lirih Alex kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti karena obrolannya dengan Arsi tadi.


Mereka pun makan dalam diam, Arsi tidak tahu mau bertanya apalagi, ia benar-benar buntu ingin mengetahui apa lagi dari Alex.


Setelah merasa kenyang dan menghabiskan makanan nya Arsi pamit pulang terlebih dahulu pada Alex.


"Ternyata bener yah, Si Alex anak dari musuh keluarga gue" lirih Arsi. Ia berjalan gontai melewati koridor.


"Ahkkk" pekik Arsi kaget tiba-tiba tangannya di tarik seseorang. lalu di bawa ke bawah tangga yang jarang di lewati mahasiswa lain.


Mata Arsi melebar ketika melihat Mark yang menarik tangannya.


"Kenapa loe narik gue kesini? " tanya Arsi sinis.


"Gue mau ngomong" jawab Mark.


"Loe mau ngomong atau mau nyiksa gue? " tanya Arsi sembari mengusap pergelangan tangannya yang terlihat memerah.


"Sorry" lirih Mark, ia tidak bermaksud menyakiti Arsi.


"Yaudah buruan ngomong" desak Arsi, ia saat ini lagi capek memikirkan tentang berbagai masalah yang menimpa keluarga nya, termasuk siapa Mark dan mengapa banyak orang yang ingin menghancurkan keluarga nya.


Arsi sedikit menjaga jarak antara dirinya dan Mark. Mengingat peringatan Bayu dan Viki agar menjauhi kedua laki-laki yang sangat berbahaya untuk nya.


"Kenapa? " tanya Mark bingung melihat Arsi sedikit menjaga jarak.


"Buruan ngomong" desak Arsi lagi mengabaikan pertanyaan Mark.


"Loe kenapa dekat deket Alex? " tanya Mark to the poin.


"Itu bukan urusan loe! " bentak Arsi mulai tak suka.


"Tapi gue mau tahu! " balas Mark balas membentak Arsi.


"Loe kenapa bentak gue? " tak Arsi tak percaya melihat Mark yang baru beberapa bulan mengenal nya.


"Sorry, gue cuma khawatir sama loe" jawab Mark.


"Khawatir? siapa loe" tanya Arsi sinis, ia tak Terima alasan Mark yang menurutnya tidak masuk akal itu.


"Gue gak mau loe deket deket sama cowo itu!! " ucap Mark lagi.


Arsi juga sedikit terkejut melihat sikap mark yang terlihat tulus mengkhawatirkan nya.


"Mana bahaya loe atau dia! " ucapan Arsi, lalu meninggalkan Mark yang termenung dengan ucapan Arsi.


Mark tidak menahan Arsi, ia membiarkan Arsi pergi begitu saja.


"Yang pasti gue gak mau orang lain mencelakai loe" lirih Mark setelah bayangan tubuh Arsi tak terlihat lagi. Mark juga tidak tahu kenapa ia sangat khawatir dengan Arsi, sisi terdalamnya tengah berdebat memikirkan apa yang harus ia lakukan, rencana atau hati.


Benar readers, Alex dan mark terjebak akan dendam orang tua dan hati mereka sendiri.


Kasian bukan? karena dendam anak mereka menjadi korban.


Maaf yah kakak semua, aku lama up, soalnya sibuk banget kerja. Ini aku sempetin biar bisa update. Kangen gak sama Viki... Arsi???


Ikutin terus yah.


...T E R I M A K A S I H...