My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
42. Jangan Katakan apapun



Viki menatap paparan lautan, ia masih belum bisa mencerna semua yang terjadi dalam hidupnya. Secara tiba-tiba, semua terjadi di luar kendali. Awalnya Viki tak bisa mencerna keadaan, ia hanya berpikir dan mengingatkan dirinya agar tak muda tertipu oleh permainan lawan.


Sudah seminggu ia menyelidiki berita yang tersebar, akhirnya Viki terduduk dan terkulai menahan sesal. Hatinya hancur, ia gagal menyelamatkan mama dan papa yang selama ini sangat mencintainya.


"Maafin aku Ma, Pa. " lirih Viki memejamkan matanya, membiarkan beningan air mata mengalir di pipinya.


"Viki ayo! " ajak Desta menepuk bahu keponakannya. Secara spontan Viki memalingkan wajah nya lalu menghapus cepat air matanya.


Viki mengangguk, lalu mengikuti desta kembali ke mobil. Penyelidikan tentang pesawat itu terus berlanjut, ternyata memang benar itu adalah pesawat yang di tumpangi oleh Davin dan Sakira.


Setibanya di mobil, Viki masih saja tetap diam membisu. Ia mulai memikirkan apa yang akan ia katakan pada Arsi nanti.


"Sudah Viki, kamu gak usah khawatir. Uncle yakin semua akan baik baik saja" ucap Kevin menyemangati Viki agar tetap tegar dan tidak terlalu memikirkan semua nya.


"Tapi.... aku tidak tahu apa yang akan aku jelasin pada Arsi" lirih Viki.


"Biar uncle yang akan menjelaskan pada Arsi" bujuk Desta.


"Dia pasti sangat sedih" lirih Viki, tatapannya masih lurus kedepan.


"Ayo jalan! " titah Kevin pada supir.


Mobil pun melaju menuju ke kediaman Ricardo. Dalam perjalanan Viki hanya diam menatap jalanan. Ini mungkin muda baginya, tapi tidak untuk Arsi.


Mobil yang membawa Viki dan kedua Uncle nya memasuki perkarangan rumah. Viki keluar dari mobil, matanya menatap rumah besar yang sudah terlihat sepi seolah tak berpenghuni. Biasanya akan banyak orang menyambut ke pulangannya, ataupun ke datangannya. Viki merasa sangat sedih sekarang. Ia tak menyangka akan secepat ini, ia masih berharap semua ini mimpi.


"Ayo masuk" ajak Desta, lalu masuk lebih dulu meninggalkan Viki yang masih menatap rumah nya. Begitu juga dengan Kevin, ia menepuk bahu Viki pelan seolah memberikan semangat dan berkata semua akan baik baik saja.


Terasa cukup berdiri disana, Akhirnya Viki memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Viki masih belum siap untuk bertemu dengan Arsitektur, ia masih bingung akan mengatakan apa pada adiknya. Viki berjanji pada Arsitektur bahwa berita itu palsu dan akan membawa kedua orang tua mereka pulang.


Di sisi lain, masih pada tempat yang sama Arsi menunggu kakaknya pulang. Ia duduk di sofa tanpa beranjak kemanapun, dan memakan apapun. Sindi dan yang lainnya sudah berusaha membujuk Arsi agar tetap makan dan beranjak tidur.


"Sayang, ayo makan" bujuk Seila, mengangkat 1 sendok nasi dan berusaha menyuapi Arsi. Namun Arsi masih sama, diam dan membisu.


"Masih belum mau makan? "tanya Kevin.


Mendengar suara Kevin Arsi langsung menoleh dan berdiri. Wajah penasaran dan khawatir terpancar di wajahnya.


" Uncle.... "ucap Arsi menghampiri Kevin.


Pria itu tidak tahu akan mengatakan apa, kevin menoleh pada Desta yang juga diam.


" Dek.... "Lirih Viki, membuat Arsi menoleh padanya. Sudah di duka, lutut Arsi sudah mulai terasa lemes. Ia tahu apa yang akan mereka katakan, Arsi sudah mampu menebaknya.


" Dek... mama.. papa-"


"Sudah kak, jangan katakan apapun" potong Arsi. Pandangan Arsi mulai mengaburkan, air mata yang sedari tadi ia tahan kini berkumpul di pelupuk matanya bersiap terjun ke pipinya.


Brukkk...


Arsi ambruk ke lantai yang langsung di sambut Viki yang juga ikut ambruk di lantai. Di rengkuh nya Arsi kedalam pelukan nya dan membiarkan Arsi menangis di dalam pelukannya.


"Kak Sakira... " lirih Seila menutup mulutnya, bukan hanya Arsi yang syok saat ini, Seila yang hanya memiliki Sakira keluarga satu satunya juga merasa sangat sedih saat ini.


Sementara Arsi masih menangis dalam diam, hanya isak tangis yang terdengar darinya. Kevin memeluk istri dan mamanya yang juga ikut sedih.


"Semua akan baik baik aja" bisik Viki semakin mengeratkan pelukannya pada Arsi seolah berusaha menguatkan Arsi.


"Hikss.... hikss... Mama.. " lirih Arsi.


"Stt.. Semua akan baik baik saja" bujuk Viki.


"Nggak!!!! " bentak Arsi mendorong tubuh Viki hingga pelukan mereka terlepas. Arsi langsung berdiri dan menatap Viki.


"Loe pikir gue bakal baik baik aja??? setelah di tinggal Mama papa?? " teriak Arsi histeris.


"Loe masih ada gue!! " jawab Viki.


"Huh... loe? " ulang Arsi tersenyum, lalu menghapus kasar air matanya.


"Loe bukan kakak kandung gue!! dan gue percaya jika loe itu bakal jaga gue?? " ucap Arsi tersenyum getir.


"Gue pasti jaga loe! " jawab Viki yakin.


"Loe sendiri yang ajarin gue agar tidak percaya sama siapapun, dan sekarang loe nyuruh gue buat percaya sama loe?? "


"Sayang, kamu gak sendiri, kamu punya oma, aunty Celly, Seila uncle Kevin dan juga Desta.


" Gue pasti akan menjaga loe! "jawab Viki kembali meyakinkan Arsi.


" Andaikan loh gak halangin gue waktu itu, mama papa gak bakal pergi!!!! " bentak Arsi menyalahkan Viki.


"Arsi ini di luar dugaan! " jawab Viki membela diri.


"Ini semua Salah loe!!! karena loe terlalu egois dan selalu benar!!! Loe jahat!!!!! " teriak Arsi, lalu berlari menuju kamarnya.


"Arsi!! Arsi..... " Panggil Viki ingin mengejar Adiknya namun di tahan oleh Desta.


"Biarkan Arsi tenang dulu, dia masih syok" ucap Desta. Viki diam dan mengangguk mengikuti saran Desta.


Arsi masuk kedalam kamarnya lalu mengunci kamar nya. Tangisnya pecah, Arsi terduduk di balik pintu nya.


"Mama jahat!! "


"Papa jahat!! "


Bergelung di lantai memeluk tubuhnya yang sudah mulai terlihat kurus.


"Kenapa secepat ini, kenapa mama sama papa meninggalkan Arsi sendiri" lirih Arsi.


"Mama jahat... siapa yang akan bangunin Arsi, yang masakin nasi goreng enak kalo mama gak ada" lirih Arsi lagi, tangisnya makin pecah mengingat akan sangat kesepian hidupnya tanpa ada mama dan papanya. Arsi tak tahu harus bagaimana setelah nya.


...T E R I M A K A S I H...