My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
18. Terpesona.



"Udah lama ya kita gak kesini" ucap Meri.


"Apaan baru juga semingguan" sahut Egi mencibir Meri yang terlalu lebay.


"Seminggu itu lama Egi... "


"Apaan lama, baru juga 7 hari" cibir Egi lagi, membuat Meri mulai tersulut emosi dengan tanggapan Egi yang terus saja mencibirinya.


"Bilang aja karena loh dah lama gak bareng Egi" sahut Bayu membuat Meri dan Egi menatapnya. Jarang jarang loh, Bayu ikut nimbrung pembicaraan mereka. Biasanya cuma diam doang dan menikmati kekacauan yang mereka timbulkan.


Di tengah tengah keributan mulut Egi dan Meri, tiba-tiba Arsi berdiri dari duduknya.


"Mau kemana? " tanya Bayu, pandangan Meri dan Egi beralih menatap Arsi yang sudah berdiri.


"Gue mau ke toilet" jawab Arsi singkat.


"Gue temenin gak? " tanya Meri bergerak ingin bangkit dari duduknya, tapi di cegah oleh Arsi.


"Gue bisa sendiri kok, loe bisa disini bareng mereka"


"Tapi.. "


"udah deh, gue bukan anak kecil tahu" cibir Arsi melenggang begitu aja.


"Yaudah deh" jawab Meri pasrah dan tetap duduk di meja bersama kedua pria tampan itu.


Seperti biasanya, Arsi selalu saja memasang wajah datar dan ekspresi biasa saja ketika para cowo bersiul atau secara terang terangan memanggilnya.


"Cantik yah"


"Buset, cantik banget tu cewe"


"Gue yakin tuh cewe anak orang kaya"


"Ihh skincare apa sih tu cewe pake"


Begitulah ucapan yang keluar dari pengunjung lain, ada yang iri dan juga mengaguminya. Arsi sudah terbiasa dengan hal itu, ia memilih untuk mengabaikannya saja. Hingga seseorang merasa penasaran ketika tanpa sengaja mendengar gumaman pengunjung lain.


Mark menolehkan kepalanya pada pusat perhatian teman teman nya yang juga ikut mengagumi seseorang.


"Kalian liat siap-" ucap mark terhenti ketika matanya menangkap sosok cewe yang waktu itu tak sengaja di tubruk nya.


itu kan cewe kemarin. Cantik banget.


Batin mark, mata nya menatap kagum pada sosok Arsi yang sudah hampir terlihat seperti malaikat di matanya.


"mark.... " panggil Candra teman Alex.


"Woy mark!!! " teriak Agus lebih keras di bandingkan panggilan Candra, dan berhasil, Mark gelagapan menatap kedua teman temannya.


"loe terpesona juga liat tu cewe? " tanya Candra penasaran.


"Wahhhh seorang Mark terpesona?? ini hal yang luar biasa nih" sahut Agus tak percaya karena Mark diam saja tanpa menyangkal ucapan Candra. selama ini Alex masih betah sendiri dan menolak setiap cewe yang dengan suka rela melempar diri pada nya.


"Apaan sih lebay deh" elak Mark, namun tak dapat di pungkiri, ucapan teman temannya memang benar.


"Arsi!! " panggil Agus.


Tentu saja hal itu membuat Candra dan Mark terkejut, bagaimana mungkin Agus mengenal gadis itu.


"Aduh kok loe manggil dia sih" bisik Candra yang langsung mengeluarkan sisir dan menyisir rambutnya.


Arsi menoleh pada ketiga cowo yang salah satunya pernah ajak dirinya kenalan. Arsi bukan tipikal cewe songong sok kecantikan, jika mereka datang baik baik dan berniat ingin berteman dengan nya. Maka Arai akan sambut dengan senang hati.


"Ada apa? " tanya Arsi menatap Agus.


"Loh sendiri? " tanya Agus.


"Hai Arsi" sapa Candra memamerkan senyum sok kegantengannya. Sementara Mark diam tak bergeming menatap Arsi.


"Gue sama yang lain tuh" jawab Arsi menunjuk dengan dagunya dimana teman temannya duduk.


"Ohh kirain loe sendiri, mau ajak gabut gitu" ucap Agus malu malu. Jantung nya berdebar tak karuan ketika Arsi menatapnya.


"Yaudah deh gue cabut dulu yah" pamit Arsi.


"Oh iya silakan" jawab Agus.


"Ikut... " rengek Candra genit.


Setelah Arsi kembali ke mejanya, Mark masih saja menatap dan memperhatikan gerak gerik Arsi. Bibirnya ikut tersenyum ketika Arsi tertawa bersama teman temannya.


"Cieeee" goda Agus membuyarkan Mark dan langsung mengalihkan pandangannya dari Arsi.


"Apaan sih" elak Mark meneguk kopinya sampai kandas tak bersisa. Matanya kembali menatap Arsi yang masih tertawa bersama teman temannya. Mark tersenyum, ia berpikir akan menimbang ulang permintaan bundanya.


"Loh tertarik sama tu cewe? " tanya Candra serius.


Mark menatap bingung Candra, tak biasanya pria ini bersikap seperti ini. "Emang kenapa? " tanya Mark penasaran.


"Arsi itu cewe baik baik, kalo loh cuma mau permainkan dia mending gak usah" ucap Candra.


"Yaelah Candra, loe udah kaya bapaknya dia aja" ledek Agus.


"Gue cuma peringatin doang. Kalo loe suka dia gue ikhlas" lanjut Candra.


Mark dan Agus saling pandang, lalu kembali menatap Candra.


"Bhahahahaha" Mark dan Agus tertawa bersmaan. Candra terlihat seperti seorang kekasih yang iklasin kekasih nya pada teman sendiri.


"Gue serius tahu, gue emang bukan siapa siapanya dia. Tapi se brengseknya gue, gak pernah gue gangguin cewe baik baik seperti Arsi. " jelas Candra serius, Agus mengakui kebenaran ucapan Candra. Namun Mark masih bingung, di tambah lagi dia baru pindah ke Indonesia.


"Gue penasaran sama tuh cewe" gumam Mark.


"Tapi tadi loe manja manja menjijikkan gitu sama dia" ucap Mark, membuat Candra nyengir.


"Yah,, namanya usaha" jawab Candra.


"Beeee sama aja "


"Kalau gue dapet Arsi, beehhh gak bakal gue lepas, gue jagain hingga halal" Sahut Candra lagi, kini nada bicaranya sudah seperti biasa, bercanda.


"Gue mah gak perlu di jagain hingga halal, tapi gue halalin langsung" balas Agus.


Mark terdiam, ia semakin penasaran dengan Arsi. Telinganya masih saja fokus mendengarkan celotehan kedua temannya ini. Sesekali matanya melirik pada Arsi yang memang terlihat sangat cantik.


Di sisi lain, Viki duduk di sofa dengan gelisah. Mama dan papanya sudah berangkat ke Amerika tadi siang. Arsi belum tahu soal ini, sebenarnya Viki tadi ingin memberitahu kepergian mendadak orang tua mereka.


"Den, ini di minum" ucap bi Nana meletakkan teh hangat pada meja di depan Viki.


"Iya bi makasih" jawab Viki. Ia terus saja memperhatikan jam, pintu dan ponselnya. Berharap Arsi mengabari dirinya atau melihat sosok Arsi muncul di depan pintu.


"Udah jam 9" gumam Viki.


Pria tampan itu langsung bangkit dan mengambil kunci mobilnya. Viki berniat untuk mencari Arsi dan langsung menyeret gadis itu pulang.


Brmmmm....


Viki menoleh dan langsung mengintip di jendela memastikan suara mobil itu berasal dari mobil Arsi.


Benar, Viki melihat Arsi keluar dari mobilnya dan langsung bergegas memasuki rumah.


Ceklek!!.


"Baru pulang? " tanya Viki ketika Arsitektur sudah masuk kedalam rumah.


Arsi tak bergeming, ia terus berjalan lurus tanpa menoleh pada sang kakak yang menatapnya tajam. Bagi Arsi hal ini sudah biasa dan tak perlu di khawatir kan.


"Arsi!!! " bentak Viki.


Arsi yang hendak menaiki tangga terhenti, perlahan berbalik menatap kakaknya yang juga menatap kearahnya. Sorot mata mereka memiliki arti yang berbeda.


"Ada apa lagi sih? " tanya Arsi bosan, ia sudah sangat berusaha mengikuti sikap kakaknya yang cuek dan seola menganggapnya tidak ada.


"Loh gak denger tadi gue nanya sama loh? " ucap Viki berjalan mendekati Arsi.


"Oh loe ngomong sama gue?" jawab Arsi mengalihkan pandangan matanya kearah lain, ia tak berani menatap wajah Viki yang semakin mendekat padanya.


"Loe kenapa sih, gue kakak lo! Kenapa loe seperti gak anggep gue ada? " ucap Viki kesal, akhir akhir ini sikap Arsi sangat menyebalkan menurutnya. Terkesan seperti mengabaikannya dan menganggapnya tidak ada.


Mendengar ucapan Viki mengatakan sesuatu yang seharusnya Arsi yang katakan, gadis itu mengangkat wajahnya menatap Viki lekat. Jarak wajah mereka sangat dekat karena Viki berdiri tepat di depan Arsi.


"Huh, loe nanya sama gue??" tanya Arsi tersenyum getir, di jawab anggukan kepala oleh Viki.


"harusnya loe ngaca" ucap Arsi lagi lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan panggilan Viki padanya.


...T E R I M A K A S I H...