My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
69. Tetap menjadi Bunda ku[Mark]



Pintu penjara terbuka, terlihat Lalisa meringkuk di sudut penjara. Matanya yang terpejam mulai terbuka meski sangat berat.


"Apa yang membawa mu kesini" kata Lalisa datar. Meskipun menanamkan dendam selama ini pada hati Mark, namun Lalisa memiliki sedikit rasa sayang pada Mark.


"Aku hanya ingin melihat mu bahagia" ucap Mark datar.


"Cih... rencana apa yang sedang kau rencanakan? bukan kah kau sudah menemukan keluarga mu? " decih Lalisa menatap Mark remeh.


"Aku tahu, seumur hidup mu tak pernah merasakan ketenangan, kau hanya kesepian. " kata Mark.


"Walau bagaimana pun, kau tetap bunda ku. Aku berharap kau bisa menikmati hari tua mu" lirih Mark lalu pergi meninggalkan penjara.


"Dasar anak nakal" lirih Lalisa menunduk menatap lantai penjara, apa yang di katakan Mark benar. Selama ini ia hanya merasa kesepian dan merasa terluka.


Beberapa menit kemudian, penjaga penjara datang menghampiri Lalisa.


"Nyonya lalisa, tuan muda Mark menitipkan ini untuk anda" ucap penjaga mengulurkan sebuah amplop coklat.


"Apa ini? " tanya Lalisa, namun tidak di jawab oleh penjaga, mereka sudah keluar terlebih dahulu.


Lalisa membuka amplop itu, melihat isi dari amplop. Sebuah tiket pesat menuju Amerika, di dalamnya pun terdapat secarik kertas.


"Semoga bunda bisa menikmati hari tua dan menyembuhkan kedua kaki bunda" kata lalisa membaca isi surat itu. Air matanya menetes seketika, ia telah membesarkan seorang anak yang memiliki hati yang baik.


"Maafkan aku" lirih Lalisa penuh penyesalan.


Di sebuah kafe, Arsi terlihat murung mengaduk aduk minumannya.


"Loe kenapa sih Arsi, dari tadi gue lihat muara terus" kata Egi.


"Gue gak papa, udah lanjut aja makannya" balas Arsi. Egi menatap Meri dan Bayu bergantian.


"Mingu depan Arsi bakalan tunangan" ujar Bayu santai.


"Apa?? "


"Apa?? " kaget Meri dan Egi serentak.


"Beneran Ci?? loe bakal nikah??? " tanya Meri tak percaya.


"Sama siapa??? gue belum siap Ci... " sahut Egi membuat Meri dan Bayu mencebik.


"Apaan sih, berisik deh" dengus Arsi kesal.


"Eh egi, siapa yang nikahin loe sama Arsi? " cibir Meri.


"Lah trus sama siap? " tanya balik Egi.


"Yah sama pak dosen lah, sama siapa lagi" celetuk Meri.


"Pak Viki? " tebak Egi, Meri pun mengangguk.


"Bayu!!! " panggil seseorang.


Arsi dan yang lainnya menoleh kaget melihat maya dengan mentel berlari mendekati nya.


"Ngapain loe kesini" ucap Meri sinis.


"Bukan urusan loe" balas Maya tak kalah sinis, lalu kembali manja menatap Bayu.


"Apaan sih maya, geli tahu gak" celetuk Bayu merasa jijik dengan tingkah Maya, entah apa penyebabnya membuat maya bersikap seperti ini pada Bayu.


"Sejak kapan loe pelihara nenek lampir yu" cibir Arsi tersenyum remeh.


"Jaga mulut loe yah!! " bentak Maya.


"Kenapa? Loe iri sama mulut gue? " balas Asri bangkit dari duduknya lalu berdiri tepat di depan Maya.


"Iiuuuu Cewe udik kaya loe jangan deket deket sama gue" ucap Maya menjauh dari Arsi lalu semakin merapat pada Bayu.


"Ih apaan sih" kata Bayu menghindar.


Arsi menggeleng melihat tingkah Maya seperti wanita kecentilan. "Loe kaya orang kurang kasih sayang banget" cibir Arsi lalu pergi begitu saja, di ikuti oleh Meri dan Egi.


"Arsi tunggu!! " teriak Meri.


"eh gue juga" sahut Egi.


"Ihhhh kok loe pergi sih! Arsi aja loe mau deketin dia" gerutu Maya menghentak hentak kan kakinya.


Malas masuk kelas, Arsi memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Loh sayang udah pulang? " tanya Sakira melirik jam. Putrinya pulang terlalu awal.


"Arsi lagi gak ada jam kuliah Ma" ucap Arsi beralasan.


"Ooo gitu, yaudah yuk makan siang" ajak Sakira tersenyum hangat.


"Wahhh kebetulan Arsi lagi laper ma" sorak Arsi langsung berjalan ke meja makan.


"Viki!!!! ayo makan, makanannya udah siap" teriak Sakira memanggil Viki. Arsi melotot tak percaya, bagaimana mungkin Viki bisa ada dirumah.


Cepat cepat Arsi mengambil makanan dan ingin membawanya ke ruang olahraga agar tidak bertemu dengan Viki.


"Mau kemana loe? " tanya Viki.


"Bukan urusan loe" ketus Arsi.


"Kenapa sayang? " tanya Sakira bingung.


"Ma, kok Arsi ada di rumah? " tanya Viki menahan tangan Arsi yang hendak kabur.


"Kata Arsi dia gak ada jam kuliah sayang" jawab Sakira jujur sesuai jawab Arsi tadi.


"Aduh, mati gue" rutuk Arsi kesal.


"Gak ada jam kuliah? " ulang Viki.


"Gue emang gak ada jam kulia kok" jawab Arsi membela diri.


"Sekarang itu jam kulai sama gue! dan gue ngajar secara virtual" kata Viki dengan nada menyudutkan Arsi.


Deg~ "Mati deh gue" batin Arsi panik. Ia tidak tahu jika sekarang adalah jam kuliah Viki.


"Loh, kok Arsi gak masuk? " tanya Sakira.


"Itu ma, aku... " jawab Arsi gagu, ia pusing mencari alesan.


"Dia bolos ma, karena sok pinter dan gak ngerjain tugas" sela Viki.


"Iss.. gue lagi malas aja" jawab Arsi kesal, ia sudah kepergok bolos sama mamanya.


"Gak bener ini, kamu memang harus menikah secepatnya sama Viki. Biar kakak kamu bisa memantau kamu belajar dengan baik" ucap Sakira panjang lebar ceramah siang pun dimulai.


"Ma,, mana ada hubungan nya dengan pernikahan" sela Arsi


"Gak ada cerita, nanti mama bicarakan sama papa " ucap Sakira marah, lalu berlalu dari ruang makan.


"Gara loe mama marah! " bentak Arsi kesal.


"Kok gue! loe nya aja pemalas! " sahut Viki acuh.


"Kalau bukan karena loe, gue gak bakal di tindas"


"Emang kenapa kalo kita nikah? " lirih Viki.


Trang~ bunyi sendok terjatuh.


"Loe bilang apa? " tanya Arsi tak mendengar jelas ucapan Viki.


"Bilang apa? gue gak ada ngoyo" elak Viki datar pergi dari sana.


"Aneh, kok malah ninggalin gue sih" gerutu Arsi di tinggal sendiri di ruang makan, padahal tadi dia yang ingin kabur.


"Nikah atau pun gak sama saja" dumel Arsi duduk, kemudian melahap hidangan dari mamanya tadi.


Viki tersenyum melihat Arsi dari jauh, ia sangat senang karena mama dan papanya mendesak mereka menikah. Tanpa Viki minta papa dan mamanya akan menikahkan mereka, dan Viki akan memiliki Arsi seutuhnya.


"Bersabarlah, kita akan bersama" lirih Viki senang.


...T E R I M A K A S I H...