
Pesta kecil kecilan di buat oleh Arsitek untuk merayakan kelulusan putranya dari sekolah menengah atas.
Tampak seluruh keluarga sudah hadir, namun, si pemilik acara tidak menampakkan dirinya.
"Arkan!!!! " teriak Yundia mencari sosok arkan di kamarnya.
"Sayang arkan tidak ada di kamar, mun dia ada di ruang musik" teriak Arsi memberitahu.
Yundia melangkah cepat menuruni anak tangga, langkah anggunnya terlihat terbirit-birit menuju ruang musik.
"Nah, ketemu!! " sorak Yundia menemukan Arkan yang sedang duduk di depan piano. Mata pria remaja itu menatap Yundia tajam. Gadis itu terlihat seperti anak anak meski dirinya sudah beranjak dewasa.
"Berhenti mengikuti ku!! dasar bocah! " bentak Arkan.
Senyum yang tadinya mengembang mendadak memudar, bahkan Arsi yang lewat di depan pintu ruang musik kaget mendengar bentaran keras putranya.
Arsi mendekati Yundia, lalu memeluknya erat.
"Kamu yang sabar yah, Arkan hanya lagi badmood. Dia tidak membenci kamu kok" bujuk Arsi agar Yundia tidak berkecil hati.
"Aku tahu kok aunty, Arkan tidak akan membenci ku sampai kapan pun tak! " semangat Yundia kembali tersenyum.
"Anak pintar" puji Arsi.
Semua tamu sudah berkumpul di taman, termasuk Arkan yang sudah ikut bergabung. Sejak tadi gadis tinggi dengan rambut tergerai panjang berdiri jauh dari arkan. ia tampak menyibukkan diri agar tidak mengganggu arkan.
"Oma biar aku bantu" tawar Yundia membantu seila membakar Daging.
"Wah rajin sekali " puji Sakira mengelus kepala Yundia penuh sayang. Gerakan demi gerakan, Arkan tak melepaskan tatapannya dari gerakan Yundia, menurutnya gadis itu hanya mengambil muka, lalu setelahnya akan menjatuhkannya.
"Kenapa natalin dia terus? " goda Mark.
"Liatin apa? " sangkal Arkan ketus.
"Aku tahu kau sedang memperhatikan gadis cantik itu" tunjuk mark pada Yundia.
"Cantik? kau gila paman. Pantes kau jomlo terus mata mu katarak" Arkan bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Mark yang melongo mendengar makian dari keponakannya.
"Hei, kenapa? kok bengong " Egi duduk di samping mark. Mereka terlihat kompak, wana kemeja Egi sama dengan warna cepat Mark. Begitu pula sebaliknya.
"Cieeee kompaan ni yeee" celetuk Meri menghampiri keduanya sembari menarik tangan Bayu.
"Wah, uncle serasi sekali" celetuk Yundia.
"Maklum saja, jomlo emang gitu" cibir Bayu.
Egi dan Mark saling melirik, lalu mengerang bersamaan. Egi sebenarnya sudah menikah, namun ketika satu tahun menjalani rumah tangga tiba-tiba istrinya mendapat serangan jantung, hingga merebut nyawanya.
"Sudah jelas tidak laku, malah di tanya" dengus Arkan. pria remaja itu memutuskan untuk membantu mamanya menyiapkan cemilan.
"Kok gak laku sih, wajah tampan emang gak terlalu di cari sih, apalg yang jutek" gumam Yundia yang menekan kan ujung kalimat nya pada Arkan.
"Nyindir Aku kamu!? " teriak Arkan, gadis itu langsung menggeleng takut. Mana mungkin ia mampu menyindir si tukang marah.
"Hahaha kalian ini lucu yah, aku berharap jodoh" doa Celly menatap keduanya.
Para tetua duduk santai meminum terhadap di kursi. Davin duduk di sebelah sakira, Minda dan jidan, Kevin dan Celly, cindy yang sudah tua dan menjadi nenek itu duduk bersama Sumi.
"Viki tolong ambilkan minum!! " teriak Davin.
"Aku tidak mau" tolak Viki!
Belum sempat pria itu beranjak kabur, tatapan mata Arsi sudah melotot padanya.mau tidak mau Viki memenuhi permintaan Davin.
Brak~
Yundia tidak sengaja menubruk tubuh Arkan, saos yang ada di tangan Yundia tumpah ke baju Arkan.
"Astaga" mereka menggugat bibir bawah menantikan kemarahan Arkan pada Yundia, satu satunya manusia yang membuat Arkan kalang kabut, kehabisan kesabaran dan tenaga.
"Anak kamu buat Arkan marah mulu" celetuk bayu menyikut Meri.
"Aku gak sengaja" cicit Yundia pelan, menatap takut pada Arkan yang masih terdiam.
"Mata tu ada buat di pake, bukan pajangan" dumel Arkan dingin, tatapan tajamnya seakan membelah mata hati Yundia.
"Aku kan bilang tidak sengaja" sangkal Tunda tidak Terima mendengar makian Arkan.
"Udah salah, ngebantah lagi! " ini Arkan.
Omelan itu hanya sebentar, Yundia merasa hantu perlu menutup telinganha menjelang omelan Arkan selesai.
"Bersihkan semuanya! " titah Arkan menatap Yundia sengit.
Bukan Yundia namanya jika ia langsung menurut.
"Kamu yang harus bersihin, karena kamu sdah menyinggung hati ku! " balas Yundia, gadis itu malah menyibukkan dirinya untuk mengerjakan hal hal lain.
"Dasar tidak bertanggung jawab" teriak Arkan.
Meri menghembuskan nafas lega, Yundia tidak menangis mendapat bentakan dari Arkan.
...----------------...