
"Kak... lu mau bawa gue kemana sih! " rengek Arsi mengikuti Viki dari belakang, sejak tadi Viki terus berjalan di depannya melewati persawahan dan mendaki Bukit yang menurut Arsi sedikit seram namun membuat dirinya merasa nyaman.
"Sudah sampai" ucap Viki berhenti di pinggir tebing, lalu berbalik menatap Arsi yang masih belum menyadari dimana mereka sekarang.
Arsi membukuk bertumpu pada lututnya menahan lelah dan pegal di kakinya. Ia sungguh merasa sangat lelah, deru nafasnya sudah tidak teratur sekarang.
"Udah cukup, gue gak sanggup lagi... " ucapan Arsi menyerah.
Viki tak menjawab, ia hanya diam menatap Arsi sembari menunggu reaksi Arsi setelah menatap kedepan.
"Loe... Wahhhh bagus banget!!!!!!! " pekik Arsi kaget ketika matanya di suguhkan keindahan langit dan keindahan pemandangan pemungkinan rakyat dan juga deretan sawah. Arsi tak memperdulikan Viki, ia langsung mengeluarkan ponselnya, lalu mengambil foto dirinya di berbagai sisi.
"Sumpah ini tempat yang bagus banget"decak kagum Arsi melihat hasil jepret nya. Ia lupa akan kehadiran Viki di sini.
" Udah selesai? "sindir Viki membuat Arsi mematung.
" Astaga, gue sama manusia kutub" gumam Arsi kembali menyimpan ponselnya. ia benar-benar lupa jika ia datang kesini bersama Viki.
"Maaf gue lupa tadi" lirih Arsi nyengir.
"Gimana? kamu suka? " tanya Viki lembut, ia sengaja memasang waja kesal ketika Arsi asik berfoto tanpa mengajaknya.
"Suka banget lah, pemandangan nya indah banget, udaranya seger banget" ucap Arsi penuh semangat.
"Aku sering kesini, di saat aku merindukan mu" lirih Viki sembari mengalihkan pandangan nya pada pemungkiman warga yang terlihat sedikit lebih kecil.
Deg~
Mendadak Arsi menjadi kaku ketika Viki mulai berbicara dengan bahasa aku kamu, bahkan Viki berbicara sangat lembut sekarang.
"Bu sumi adalah ibu kandung ku" lirih Viki lagi, pelan namun dapat di dengar oleh Arsi dengan jelas.
"Gue gak tahu apa aja yang udah loe lakuin" sahut Arsi, jujur saja gadis itu tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.
"Panggil aku kakak, atau.... Sayang" titah Viki sedikit manja, membuat Arsi mengangkat alisnya sebelah ke atas. Sikap Viki sungguh sulit ia tebak, Kadang menyebalkan, kadang membingungkan.
"Sejak kapan lo.. umzp maksud aku Kakak tahu soal ibu sumi? " tanya Arsi menatap Viki dari samping.
"Sejak Sma, ini adalah hadiah terindah yang di berikan Mama papa ke aku" jawab Viki.
Keheningan terjadi, tak ada satupun yang berani memecahkan keheningan itu. Viki dan Arsi sama sama sibuk dengan pemikiran nya sendiri.
"Sejujurnya Aku sangat bingung dengan keluarga kita, apa yang terjadi, ini dan itu terjadi begitu cepat dan membingungkan" ungkap Arsi panjang lebar, sebenarnya sejak lama ia merasakan hal ini.
Mendengar ucapan Arsi, Viki langsung menarik Arsi menghadap padanya dan menatap lekat mata gadis yang sudah lama ia cintai.
"Masih banyak yang belum kamu ketahui, jangan percaya sama siapapun" peringatan Viki.
"Kenapa? apa sebenarnya yang terjadi? aku ingin tahu" desak Arsi.
"Belum saatnya, nanti kamu pasti akan tahu" jawab Viki.
"Kenapa kalian tidak menjelaskan saja pada ku! " desak Arsi melepaskan cengkraman tangan Viki di bahunya.
"Satu hal yang harus kamu tahu, Aku sangat mencintai mu sejak kamu lahir" ucap Viki tulis, Arsi pun dapat merasakan hal itu.
"Kak... aku ingin tahu semuanya!! aku tahu kalian menyembunyikan semuanya dariku kan? kalian mendukung ku untuk menutupi identitasku, aku tahu juga bertanya-tanya mengapa kalian tidak melarang nya. " ucap Arsi panjang lebar.
Viki tak menjawab apapun, ia hanya merengkuh tubuh Arsi masuk ke dalam pelukannya
"Jangan salah paham, nanti kamu akan tahu, percayalah kami akan melindungi mu" bujuk Viki menenangkan Arsi yang mulai terisak.
"Huh? " Viki merenggangkan dekapannya untuk melihat wajah imut Arsi yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Maksudnya percaya sama aku, mama papa dan keluarga kita! " lanjut Viki.
"Gimana sih, katanya jangan percaya, sekarang malah gini" dengus Arsi kesal.
"Yaudah terserah, yup balek, dah terlalu sore kaki, nanti jalannya gelap di dalam hutan" ajak Viki yang di setujui oleh Arsi. Hubungan mereka kembali membaik meski Viki masih sering membuat Arsi kesal.
Di rumah kecil yang sederhana itu, wanita yang berjabatan sebagai ibu kandung Viki tengah menyiapkan makan malam. Ia sudah lama merindukan makan bersama dengan putranya.
"Wahhh keliatannya enak banget... hummmm aromanya juga enak" puji Arsi ketika sampai dirumah di suguhkan dengan makanan yang menggiurkan.
"Kalian sudah pulang? " sapa bu Sumi tersenyum lembut, sama seperti Safira, Arsi merasa nyaman jika berada di dekat ibu kandung Viki.
"Ayo duduk, kita makan malam" ajak bu Sumi mempersilahkan mereka untuk duduk di meja makan.
"Terimakasih tante" jawab Arsi sopan.
"panggil ibu aja, sama seperti Viki" jawab bu Sumi sembari menyendokan Arsi nasi dan dilanjutkan untuk Viki.
"Umh ibu tinggal di sini sendirian? " tanya Arsi di sela makannya.
"Makan dulu baru ngomong" sanggah Viki membuat Arsi mendelik kesal.
"Tidak apa sayang" ucap bu Sumi tersenyum.
"Ibu disini sendiri sayang" jawab bu Sumi lembut.
"Kenapa tidak ikut kami saja? " usul Arsi, namun dijawab gelengan oleh bu Sumi.
"Kenapa? "desak Arsi penasaran.
"Suatu saat kamu akan tahu, dan ibu akan berguna disini" jawab bu Sumi lagi.
"Tapi, ibu sudah tua, nanti kalau sakit siapa yang jaga? " ucap Arsi lagi, ia benar-benar memikirkan soal bu Sumi saat ini, bukan ambil muka atau berusaha untuk dekat dengan ibu kandung Viki.
"Tidak sayang, banyak yang akan menjaga ibu disini" jawab bu Sumi lagi, masih dengan nada yang lembut dan penuh senyuman.
Siapa ibu ini sebenarnya, kenapa aku merasa ada yang sedang di tutupin ya. Aku yakin bu Sumi bukan orang sembarangan. Batin Arsi sembari menatap bu Sumi dengan tatapan sulit di artikan.
"Sudah habiskan makanan mu, suatu hari nanti pertanyaan dalam pikiran mu akan terjawab" tegur Viki seakan tahu apa yang sedang Arsi pikirkan.
Arsi menoleh pada Viki yang fokus dengan makanannya, tatapan mencurigakan terpancar dari sorot mata Arsi.
"Loe... bisa baca pikiran gue? " tanya Arsi polos.
Bukannya menjawab, Viki malah melirik Arsi tajam.
"Eh maksud Aku kak Viki bisa baca pikir ay aku? " ulang Arsi memperbaiki kalimat nya.
"Makan saja, jangan banyak bicara" titah Viki tak terbantahkan. Mau tak mau, dengan kesal Arsi melanjutkan makan malamnya.
Bu Sumi hanya terkekeh melihat tingkah lucu anaknya dan juga calon menantunya. Jauh dalam lubuk hatinya, bu Sumi selalu memanjatkan doa agaf mereka selalu bahagia, terutama Viki. Putra yang selama ini ia terlantarkan.
...T E R I M A K A S I H...
Crazy up yah, jangan lupa tetap setia, author selalu berusaha agar bisa membuat kalian nyaman. ikutin terus yah perjalanan kedua sejoli ini. 😘