My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
43. Ayo makan



Sudah 1 minggu Arsi mengurung diri di kamar, sejak kepergian kedua orang tuanya Arsi tidak terlalu memperhatikan kondisi tubuhnya. Terbaring di kasur dengan air mata mengalir setiap kenangan bersama orang tuanya melintas di benaknya.


Tuk!!! Tuk!!


"Arsi!!! buka pintunya sayang" panggil Celly mengetuk pintu kamar Arsi.


Tak ada jawaban, masih tetap sama seperti sebelumnya. Arsi tak menjawab ataupun membukakan pintu.


"Sayang, kamu harus makan! " bujuk Celly.


Arsi tak bergeming, ia hanya mendengarkan panggilan aunty Celly di depan pintu kamarnya tanpa berniat untuk bangkit.


"Sayang.... " panggil Celly lagi tanpa putus asa.


"Aunty... " panggil Viki.


"Eh Viki" sahut Celly.


"Masih belum mau makan? " tanya Viki yang di jawab anggukan oleh Celly.


"Sini biar Viki aja yang bujuk" pinta Viki. Mau tak mau Celly memberikan nampan yang berisi makanan uy Arsi kepada Viki. Ia berharap jika Viki yang berikan Arsi akan luluh.


"Tolong yah sayang, Arsi belum makan sejak pagi tadi" ucap Celly.


Viki pun mengangguk, lalu menatap kepergian aunty Celly.


Setelah aunty Celly turun, Viki pun kembali menatap pintu yang masih tertutup rapat.


"Gue gak maksa lo buat makan kok" ucap Viki namun sedikit lebih keras. Arsi yang sejak malam dimana Viki membawa kabar bahwa kedua orang tuanya terjebak kecelakaan pesawat itu tak pernah bertemu.


Arsi sedikit kaget mendengar suara aunty Celly yang berubah menjadi suara yang sebenarnya sangat ia rindukan.


"Buka! atau loe gak bakalan punya pintu kamar lagi! " ancam Viki.


Arsi tak bergeming, ia malah menyelimuti tubuhnya dengan selimut agar tak mendengar ancam Viki.


"Satu.... " Viki mulai berhitung.


Arsi masih tak peduli. Ia masih tetap diam dalam selimut nya.


"Dua..... " Masih sama.


Ti.. -"


Ceklek.


Pintu kamar Arsi terbuka sedikit, tapi tidak memperlihatkan penghuni nya. Viki tersenyum lebar karena ancaman berlaku untuk Arsi.


Tak menunggu Arsi keluar, Viki langsung masuk ke kamar Arsi membawa nampan yang di berikan Celly. Sudah bisa masuk saja Viki udah bersyukur, langkah emas baginya bisa membujuk Arsi untuk membuka pintunya.


"Taro di meja" lirih Arsi ketus tanpa menoleh sedikitpun.


Bukannya menuruti perintah Arsi, Viki malah duduk di samping Arsi yang duduk di atas ranjangnya.


"Ayo makan! " ajak Viki.


Arsi tak bergerak, beralih menatap Viki saja tidak.


Tak kehabisan akal, Viki malah bersimpuh di depan Arsi, mengapit kedua kaki Arsi dengan lututnya agar Arsi tak bisa bergerak.


"Jika loe gak mau makan! maka gue juga gak bakalan makan" ancam Viki tak masuk akal, pada tubuhnya saja Arsi gak peduli, apalagi dengan dirinya. Tapi kepercayaan dirinya lebih tinggi dari rasa malunya🤣.


"Loe apa apaan sih! kaya bocah gini! " bentak Arsi mulai emosi. Moodnya benar-benar hancur sejak orang tuanya di kabarkan tewas. Emosinya tak terkendali sekarang, kadang marah dan kadang sedih.


"Mogok makan karena masalah itu lebih dari anak kecil! " balas Viki.


"Gue gak bakalan minggir sebelum liat loe makan! " ucap Viki, sedangkan Arsi memalingkan wajahnya.


Arsi masih tak bergeming, suara perut nya memang sudah sejak tadi berbunyi. Hati boleh lika, namun cacing di perut tetap butuh makanan.


"Tuh perut loe minta di isi! " cibir Viki.


"Pergi sana, gue mau tidur" usir Arsi.


"Makan dulu baru gue pergi" tolak Viki.


Risih dengan keberadaan Viki yang mengapit kedua kakinya, akhirnya Arsi merebut makanan dari tangan Viki lalu mulai memakannya. Viki pun tersenyum menang, dan akhirnya melepaskan apitan kakinya di kaki Arsi.


Viki pindah duduk kembali ke samping Arsi, senyum manis menghiasi wajah tampannya. Akhirnya Arsi makan juga, Viki sangat merasa lega.


"Gue kenyang! " ujar Arsi meletakkan piring ketangan Viki. Padahal Arsi baru saja memakan 3 sendok.


"Loe harus abisin!! " titah Viki kembali menyodorkan piring itu, namun sayangnya Arsi sudah keburu baring di atas ranjang nya.


"Arsi!!!!! " teriak seseorang. Viki dan Arsi yang baru saja menutup mata kembali membukanya.


"Maafin gue yang baru saja jumpai loe!!!! " teriak Meri penuh penyesalan. Gadis itu lamgsung naik keranjang, lalu memeluk erat Arsi yang sudah duduk menyabut nya.


"Hiks... hiksss Mer... " lirih Arsi kembali terisak.


"Maafin gue yang biarin loe sendiri menghadapi semua sendiri" lirih Meri lagi.


Viki menghela nafasnya berat, ia ingin memaksa Arsi agar lebih banyak mengisi perutnya, namun melihat suasana kedua gadis itu membuat Viki mengurung kan niatnya.


Perlahan Viki beranjak dari kamar Arsi membawa nampan makanan tadi. Hatinya teriris mendengar setiap isak tangis Arsi dan semua kekuranganmu kesah sang adik yang meratapi kepergian orang tuanya.


"Hiks... mama papa udah pergi Mer.. gue sendiri sekarang" lirih Arsi dalam isak tangisannya.


"Gak Arsi.... loe masih punya gue, Egi, aunty, pak Viki.. dan masih banyak lagi" ucap Meri memberi semangat agar Arsi tak merasa sendiri.


"Hikss hikss gue masih belum siap Mer... " lirih Arsi menyayat hati Viki setiap mendengar lirihan itu.


meri semakin mempererat pelukannya pada Arsi,seola menyalurkan kekuatan agar sahabat nya merasa semakin kuat untuk menghadapi semua nya.


Di ruang makan, Kevin dan yang lain sudah berkumpul untuk makan siang, mereka menunggu Viki turun untuk makan bersama.


"Bagaimana? " tanya Kevin. Viki tak menjawab, ia hanya diam sembari meletakkan nampan itu ke dapur, lalu ikut bergabung dengan mereka yang menatap Viki dengan penasaran.


"Arsi udah makan, walaupun hanya 3 sendok" lirih Viki sedikit lega.


"Huh... syukur deh dari pada perut nya kosong" ucap Seila bernafas lega. Begitu juga dengan Celly dan yang lain. Mereka mendesah lega mendengar kabar dari Viki.


"Aku kasihan sama dia.. " Lirih Viki lagi, membuat Kevin dan Desta saling menatap.


"Arsi pasti terpukul sekali mengalami hal seberat ini" lanjut Viki.


"Huh.. mau bagai lagi, takdir nya seperti ini" sahut Cindy bernafas berat.


"Kita harus mencari tahu siapa dalang dari semua ini! " tekat Kevin.


"Harus!! gue gak akan biarkan seorang pun yang lolos setelah menghancurkan keluarga gue! " timpal Desta.


"Sudah sudah, ayo makan" lerai Cindy menghalau semua pembicaraan yang memang sangat berat bagi mereka. Namun mereka harus tahu juga jika apapun yang terjadi, maka mereka harus siap menjalani hidup sesuai takdir yang telah di tentukan, dan khusus di novel ini Author lah penentu nya🤣🤣🤣🤣


Maaf yah sobat aku semuaaaa, lama update nya, soalnya ku kerja. makanya nih Novelnya aku buat End biar gak dapat peringatan dari noveltoon jika tidak update setiap hari.


Hari ini double up yah😘 aku usahain gini terus yah😘😘😘😘


...T E R I M A K A S I H...