My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
67. Malah panas balik



Seperti baju belum di setrika 1 bulan, wajah Arsi bak lipatan baju kusut. Arsi masih kesal sama Viki yang sengaja membuatnya malu di depan teman temannya.


"Udah dong ci, gak usah cemberut lagi" bujuk Meri. Mereka sekarang berkumpul di kantin kampus, Bayu yang baru bergabung menatap bingung pada Arsi yang hanya mengaduk aduk minumanannya.


"Kenapa tu anak? " tanya Bayu.


"Biasa, berantem sama tu dosen" jawab Egi.


"Viki? " tanya Bayu memastikan.


"Siapa lagi kalo bukan tu dosen" jawab Meri menghela nafasnya.


"Tu orang nya" tunjuk Egi pada Viki yang berjalan menuju meja mereka. Dengan malas Arsi menoleh mengikuti tunjuk Egi.


Benar saja, Viki tersenyum miring pada Arsi berjalan santai menghampirinya. Belum sempat Viki sampai pada meja Arsi dan teman temannya, seseorang wanita menghampiri Viki sehingga langkah Viki terhenti.


"Eh siapa tu yang datengin pak Viki" ucap Meri heboh.


"Apaan sih, heboh banget lu pada" dengus Arsi kesal.


"Ih lihat Arsi, cewenya genit" ujar Egi. Mau tak mau karena rasa penasaran akhirnya Arsi menoleh ke belakang.


"Hi pak Viki" sapa Dinda.


"Eh bu dinda" balas Viki dingin.


"Hmm... nanti malam Pak Viki ada waktu gak? " tanya Dinda malu malu.


Viki melirik kearah Arsi yang menatapnya dengan tatapan mematikan, melihat reaksi Arsi yang menggemaskan membuat Viki memiliki ide jahil.


"Kenapa? " tanya Viki memaksakan tersenyum agar terlihat akrab.


"Mereka akrab yah" ucap Egi.


"Sejak kapan mereka deket? " tanya Egi lagi, namun tak ada yang menjawabnya.


"Yaiyalah, kan mereka sama sama dosen, yah mudah lah bagi mereka untuk akrab" jawab Meri membuat hati Arsi semakin panas. Arsi tak Terima melihat Viki dekat dengan wanita lain.


"Jangan panas yah, ini ada jus buat ademin" bisik Bayu pelan membuat Arsi langsung melirik tajam padanya.


"Mau makan malam sama saya gak? " tanya bu Dinda penuh harap. Viki tampak berpikir dan sesekali melirik pada Arsi. Tanpa ia duga Arsi malah bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah mereka.


Viki tersenyum menang berhasil membuat Arsi cemburu. Viki menatap Arsi dan menunggu apa yang akan Arsi lakukan sekarang, begitu juga dengan bu dinda menatap Arsi bingung.


"Arsi mau kemana? " tanya Meri melihat Arsi tiba-tiba bangkit.


"Lihat aja pertunjukan nya" ucap Bayu.


"Maksud loe? " tanya Meri bingung, namun Bayu hanya menunjuk Arsi dengan dagunya.


"Bu Dinda ada yang manggil tu" ucap Arsi ketika tiba di hadapan mereka. Bu Dinda yang percaya dengan ucapan Arsi langsung menoleh ke belakang, dengan cepat Arsi mengambil kesempatan untuk menginjak kaki Viki keras lalu pergi begitu saja.


"Akh! " pekik Viki tertahan, ia tidak mungkin berteriak kesakitan di depan bu Dinda dan juga mahasiswa/i lainnya.


"Hahahahahaha" tawa Bayu pecah melihat wajah Viki menahan sakit.


"Arsi, siapa yang memanggil saya? " tanya bu dinda tidak melihat siapapun yang memanggilnya.


"Eh mana gadis itu? " bu dinda celingak celinguk mencari Arsi.


"Gimana pak? " ulang Dinda.


"Maaf yah bu, tapi saya masih banyak pekerjaan dan tidak bisa menerima ajakan ibu" tolak Viki masih menahan sakit di kakinya.


"Saya permisi" pamit Viki pergi dari hadapan bu dinda.


"Wow, ajaib sekali" kagum Meri melihat pak Viki menolak ajakan bu dinda yang memiliki body wow banget.


"Gimana mau nerima, orang ngobrol aja udah kena batu, gimana mau makan malam" celetuk Egi, kemudian tertawa terbahak bahak.


"Bener juga" sahut Meri.


Di sebuah taman, seorang pria duduk di salah satu bangku taman. Seperti biasanya Alex menunggu Arsi datang ke taman itu.


Arsi yang baru saja keluar dari kantin langsung menuju taman belakang ia sangat menyukai tempat Damai itu. Mata Arsi menyipit melihat Alex duduk termenung sendirian disana.


"Sendiri aja? " tanya Arsi langsung duduk di samping Alex.


"Berdua" jawab Alex. Arsi menoleh kiri kanan mencari siapa yang di maksud Alex.


"Sama siapa? " tanya Arsi.


"Sama loe" jawab Alex menatap Arsi dengan tatapan rindu.


"Ihhhh Alex loe bikin gue Merinding tahu gak, gue pikir sama siapa gitu" ucap Arsi kesal.


"Yah kan gue bener, gue gak sendiri. Ada loe di sini" tunjuk Alex pada dadanya. Arsi terdiam, jika sudah begini suasananya pasti bakalan canggung banget.


"Gue becanda... " ujar Alex tertawa garing.


"Astaga, gue kira beneran" ucap Arsi memukul bahu Alex.


"Kalau beneran bagaimana? " tanya Alex dengan nada Serius.


Glek~ Arsi langsung terdiam, menarik tangannya yang masih berada di lengan Alex.


"Gue gak suka deh beginian" ucap Arsi datar.


"Becanda!!! " teriak Alex kembali tertawa, meski sebenarnya itu adalah ungkapan dari hati Alex yang sesungguhnya.


"Ihhh gak lucu Alex!! " sungut Arsi.


Di belakang mereka terlihat Viki mengepal kedua tangannya. Viki sangat tidak suka melihat Arsi tertawa karena pria lain, hanya dirinya yang boleh membuat Arsi tertawa.


Dengan perasaan marah Viki meninggalkan taman, hatinya begitu panas saat ini.


"Eh malah panas balik" cibir Bayu mengagetkan Viki, entah sejak kapan pria itu berdiri di samping Viki.


"Bukan urusan loe" balas Viki pergi begitu aja.


"Acuh kan terus, sampai loe nyesel ketika seorang laki-laki membawanya pergi" ucap Bayu membuat Viki menghentikan langkahnya.


Bayu berjalan mendekati Viki yang membelakangi nya.


"Semangat brother" ucap Bayu menepuk pundak Viki.


...T E R I M A K A S I H...