My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
50. Mantan Tunangan Papa??



"Kok cewe tadi kayanya benci banget sama lo" tanya Mark.


Arsi tak menjawab, ia malah fokus dengan makanan nya sendiri. Merasa ada yang liatin dia, Arsi pun menghentikan makannya.


"Kenapa? " tanya Arsi menatap balik Mark.


Mark terkekeh, sementara Arsi yang memang sejak tadi tidak mendengar kan apa yang Mark bicarakan.


"Udah besar juga, masih aja belepotan" ujar Mark mengusap sudut bibir Arsi yang terdapat butiran nasi menempel di sana.


Arsi terdiam, baru kali ini cowo berani menyentuhnya. Biasanya tak ada yang berani karena di pastikan mendapat hadiah dari Arsi.


"Loe nyentuh pipi gue? " tanya Arsi dingin.


"Kenapa? " tanya balik Mark bingung.


"Gue gak suka ada yang nyentuh pipi gue, tangan gue, dan seluruh tubuh gue! " jelas Arsi.


"Tapi loe gak ada larang tadi, gue gak tahu" jawab Mark santai.


"Lupakan lah! " dengus Arsi melanjutkan makannya.


Sementara Mark mengangkat alisnya pertanda bingung. Buka tidak tahu, Mark sangat tahu, karena banyak cowo cowo di kampus membicarakan soal Arsi, termasuk tidak boleh menyentuhnya.


"Gadis yang lucu" batin Mark.


Drtttt..... Drrrrtt..


Ponsel Arsi berdering kuat, ia cepat cepat meraih ponselnya. Terlihat foto Meri terpampang jelas di layar ponselnya.


"Astaga!!! " Pekik Arsi.


Sekarang sudah jam kuliah, Arsi malah asik makan di kantin.


"Ada apa? " tanya Mark bingung melihat grasak grusuk Arsi.


"Gue telat.... loe bayar dulu yah entar gue ganti" ucap Arsi berlari keluar dari kantin.


"Eh.. tunggu... " panggil Mark, namin Arsi sudah melaju begitu saja.


Mark mendengus, ia masi ingin bersama Arsi eh malah pergi.


Sementara Arsi terus berlari menuju kelasnya, Sebentar lagi Viki akan masuk. Arsi tidak ingin terlambat pada mata kuliah Viki. Jika terlambat, Maka habis lah riwayatnya hari ini.


Brak!!!


"Awww.... " pekik Arsi, Benar benar siap hari ini baginya.


Arsi merapikan tasnya dan juga baju yang sedikit kotor.


"Maafkan saya" sesal seseorang membantu Arsi berdiri.


"Eh gak papa tante, aku yang salah aku terlalu buru buru" tutur Arsi sopan.


Wanita itu menatap Arsi dari bawa hingga atas, ia seperti mengenali Arsi namun ia ragu dan takut salah orang.


"Kamu putrinya Sakira? " tanya wanita itu.


Syanaz, kalian ingat kan?? siapa Syanaz itu??. kalau belum ingat silakan cek BECAUSE BABY.


Syanaz tersenyum melihat Arsi mengangguk.


"Tante kenal orang tua aku? " tanya Arsi menunjuk dirinya.


"Kenal banget sayang, kamu sudah besar yah" ucap Syanaz mengusap pipi Arsi.


"Jadi tante ini kenal sama papa mama, itu artinya dia tahu tentang masa lalu mama dan papa" Batin Arsi.


"Tante-.. " ucap Arsi terhenti.


"Sayang, disini kamu ternyata" panggil seseorang.


Syanaz tersenyum menyambut suaminya. Sementara Edo, yah kalian pasti tahu jika Edo yang menjadi suaminya.


"Gadis ini.... " tunjuk Edo pada Arsi.


"Anak bos yang selalu kamu agung kan itu" jawab Syanaz.


Arsi mengerut, ia semakin bingung dengan hubungan kedua orang asing di depannya inu.


"Maaf, saya bingung dengan yang kalian ucapkan" lirih Arsi tak enak.


"Hahaha... " Edo tertawa melihat kebingungan Arsi.


Drrrt.... Drrrrt.. Ponsel Arsi kembali berdering.


"Kamu ada jam Kuliah? " tanya Edo.


Clik. Arsi merejeck panggilan Meri.


"Gak kok tante, aku lagi kosong" jawab Arsi cepat.


Mampus, urusan dengan Viki bisa nanti. Terpenting bagi gue sekarang mencari tahu bagaimana masa lalu keluarga gue dan mencari musuh yang sebenarnya.


"Om, tan, boleh minta waktunya sebentar? " tanya Arsi.


"Boleh" jawab Syanaz diiringi anggukan dari Edo.


Akhirnya mereka mencari Cafe yang berada di dekat kampus, namun memiliki ruang private.


Arsi menatap sepasang suami istri didepannya ragu. Ia takut jika mereka adalah musuh papa dan mamanya juga yang berpura-pura untuk mendekati nya.


"Kamu ragu? " tanya Edo.


"Huh? " bingung Arsi.


"Dulu tante adalah sekertaris papa kamu di kantor, dan Om Edo ini adalah kaki tangan papa kamu " jelas Syanaz.


"Benarkah? lalu kenapa sekarang kalian tidak berkerja dengan keluarga ku lagi? " ucap Arsi panjang lebar.


"Pak Davin menyuruh saya untuk membuka usaha sendiri dan bangkit demi keluarga saya" jelas Edo. Sekarang Edo sudah menjadi bos di perutnya sendiri, namun masih tetap berkerjasama dengan perusahaan Davin.


"Oh begitu" lirih Arsi mengangguk paham, keyakinannya bertambah bahwa suami istri ini bukan orang yang jahat.


"Apa kalian tahu papa dan mama hilang bersama kecelakaan pesawat? " tanya Arsi.


Edo dan Syanaz saling menatap, lalu tiba-tiba langsung memeluk Arsi.


"Sayang... kamu gak sendiri kami akan membantu mu" ucap Syanaz mulai terisak.


"Kenapa? apa kalian mengetahui sesuatu? " tanya Arsi melepaskan pelukan Syanaz.


"Kamu harus jauhi yang namanya Yuli " ucap Syanaz.


Deg. nama itu lagi, Arsi sangat penasaran siapa wanita yang bernama yuli, mengapa orang sangat membencinya.


"Kenapa?? siapa yuli? " tanya Arsi.


Terjadilah cerita mengenai kisah lika liku kedua orang tuanya. Arsi tidak menyangka jika mamanya menempuh perjalanan yang berat.


"Jadi Yuli itu mantan tunangan papa? " tanya Arsi.


Syanaz mengangguk, ia paham sekarang mengapa oma sebelah papanya tidak pernah menampakkan dirinya. Bahkan hingga saat ini Arsi tidak mengenali wajah oma nya sendiri.


"Kamu harus berhati hati, Yuli sekarang berada di Indonesia" ucap Edo.


"Dia pasti ingin menghancurkan kalian! dan aku juga yakin jika yang merencanakan kecelakaan pesawat itu adalah dia" jelas Syanaz bergetar.


"Sangat rumit" lirih Arsi bingung.


Syanaz dan Edo menatap gadis mungil itu heran. Bukannya sedih atau marah, Arsi malah terlihat bingung.


"Kenapa? " tanya Edo.


"Wanita itu terlalu bodoh mencintai pria yang hingga membuat masalah beruntun seperti ini" Jelas Arsi.


"Huh? " Syanaz dam Edo saling menatap. Sungguh di luar dugaan, Arsi malah mengomentari soal keegoisan Yuli, bukan derita orang tuanya.


"Terlalu bucin" ucap Arsi


"Kaya kamu gak aja" cibir Edo membuat Arsi cengengesan, ia sebenarnya juga sangat bucin mengejar ngejar cinta Viki ketika masih kecil.


"Itu kan masih kecil, mana tahu aku" elak Arsi tak mau di samakan dengan Yuli.


Di balik ketenangan dan ke polosannya, Arsi memikirkan hal lain di dalam benaknya. Ia sangat pintar menyembunyikan sesuatu agar orang lain tidak mampu membaca pikiran nya.


...T E R I M A K A S I...