
Selesai kuliah Arsi dan sahabat nya keluar dari kelas.
"Arsi! " panggil Viki.
Arsi berbalik, menatap Viki penuh tanda tanya.
"Ada apa bapak memanggil saya? " tanya Arsi formal.
"Ikut saya" kata Viki dingin.
Viki menarik tangan Arsi agar ikut bersamanya, namun Meri menahannya.
"Eh mau di bawa kemana? " tanya Meri.
"Saya ada urusan dengan gadis ini" balas Viki kembali menarik tangan Arsi agar ikut bersamanya.
Arsi tak menolaknya, ia pasrah di bawa kemana oleh Viki. Sementara Meri, Egi dan Bayu menghela nafas pasrah.
Di dalam mobil, Arsi masih saja diam tak bergeming. Ia memilih diam dari pada membuang buang tenaga membantah tunangannya ini.
"Kenapa diam? " tanya Viki.
"Trus aku harus apa? berkoar koar? " balas Arai. Ia memilih menatap keluar mobil, meneliti setiap jalan yang sedang di laluinya.
"Ini kan jalan ke restoran itu" batin Arsi.
"Sudah sampai"
Viki keluar dari mobil lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Arsi.
"Ayo masuk" ajak Viki meraih tangan Arsi lalu mengaitkan ke lengannya.
Di dalam restoran, Viki menuntun Arsi menuju sebuah meja yang terdapat seorang wanita paru baya.
"Nak Viki" sapa wanita itu berdiri dari duduknya.
"ini.. " kata mama Nisa menggantung melirik Arsi sembari menatap tautan tangan mereka.
"Saya Arsi ad-"
"Arsi Tunangan saya tante" jawab Viki memotong ucapan Arsi.
Arsi menatap Viki, seribu pertanyaan tersirat di matanya.
"Oh begitu" ucap mama Nisa memaksa tersenyum, namun terlihat jelas jika dia sangat kecewa.
"Ayo duduk" kata mama Nisa mempersilahkan Viki dan Arsi duduk.
"Jadi apa yang ingin tante bicarakan? " tanya Viki to the poin.
Sebenarnya Viki sudah tahu maksud dan tujuan mama Nisa menemuinya, karena itu Viki sengaja membawa Arsi bersamanya.
"Tolong bantu tante Viki, Nisa tidak mau pulang, bahkan Nisa tidak memperhatikan dirinya" mohon mama Nisa.
"Aku sudah bicara pada Nisa kemarin" balas Viki dingin.
"Tante mohon, pura-pura lah mencintai Nisa, sebentar saja"
Arsi melotot mendengar permintaan mama Nisa yang tidak masuk di akalnya.
"Maaf tante, saya tidak bisa" tolak Viki.
Arsi pun bernafas lega mendengar jawaban Viki. Namun mama Nisa tampak tidak putus asa, ia terus mencoba memohon pada Viki dan juga Arai agar mengijinkan Viki untuk bersama Putri walau hanya sebentar saja.
Tak lama kemudian Nisa datang, gadis itu kaget melihat Viki dan juga adiknya Viki ada di tempat yang sama dengan mamanya.
Nisa berdiri di samping mamanya menatap Viki dan Arsi bergantian. Raut kesedihan terlihat jelas di mata Nisa ketika ia melihat tangan Arsi dan Viki saling menggenggam.
"Nisa, mama sengaja panggil kamu kesini karena Viki ingin bertemu dengan mu" ucap mama Nisa berbohong, Arsi melotot mendernya.
"Maksud mama? " tanya Nisa tak percaya.
"Tante! " tegas Viki menahan amarah.
"Iya kan Viki? kamu mau bertemu dengan Nisa kan? " mohon mama Nisa agar Viki mengiyakan perkataan nya.
"Dasar tua bangka, sudah jelas Viki mengatakan aku tunangan nya, masih saja melakukan hal seperti ini" batin Arsi menatap jijik mama Nisa.
Arsi ingin bangkit dari duduknya, namun di tahan oleh Viki.
"Benar, aku ingin bertemu dengan mu" jawab Viki datar.
Mendengar hal itu membuat Arsi melotot padanya. sementara Nisa mengulum senyum tak menyangka jika Viki ingin bertemu dengan nya.
Arsi kembali tersenyum mendengar perkataan Viki, ternyata kakaknya pandai menjaga perasaannya.
"Jadi ini sahabat kak Viki yang kaka cerita kan itu? " kata Arsi sengaja berakting.
"Hai Nisa" sapa Arsi mengulurkan tangannya ingin berkenalan dengan Nisa meski mereka sudah pernah bertemu di rumah nya.
"Kamu tidak senang? bukan kah kalian sahabat? harusnya kalian saling dukung dan bahagia jika salah satu nya bahagia bukan? " ucap Arsi panjang lebar.
"Tentu saja" sahut mama Nisa menyenggol putrinya agar menerima ukuran tangan Arsi.
Tidak seperti yang mama Nisa harapkan, ia tidak menyangka jika Viki akan melakukan hal ini.
"Arsila putri Ricardo" kat Arsi kembali memperkenalkan dirinya
"Bukankah kalian kakak adik? " tanya Nisa tak percaya.
"Kami tidak kakak adik " Jawab Viki.
Nisa mengangguk pelan, hubungan nya dengan Viki sekarang sudah canggung. Tidak sehangat dulu.
"Tante sudah kenal sama kakak Viki lama yah? " kata Arsi pada mama Nisa yang sejak tadi diam.
"Viki sering datang kerumah menemui Nisa" jawab mama Nisa datar.
Viki melirik Arsi, adiknya terlihat sangat handal jika dalam berakting. Viki yakin setelah ini ia akan di amuk oleh adiknya.
Mata Nisa memanas, ia tidak tahan lagi melihat kemesraan Viki dan Arsi yang sengaja bermanja manja.
"Kak aku ingin pulang" pintar Arsi.
Viki mengangguk, lalu berdiri dari duduknya.
"Maaf yah tante, Nisa. Kami harus pergi sekarang" pamit Viki.
Nisa merasakan sesak di dadanya, hatinya bagaikan di remas dan di iris iris sekarang.
"Kenapa mama lakukan ini! mama ingin mempermalukan aku? " bentak Nisa.
Mama Nisa menggeleng kuat, bukan ini yang ia rencanakan. Mama Nisa hanya ingin Nisa dan Viki bertemu lalu memohon agar Viki tidak meninggalkan putrinya.
"Jangan lakukan apapun lagi mama" lirih Nisa lalu pergi dari hadapan mamanya.
"Maafkan mama Nisa, mama hanya ingin membuat mu bahagia" lirih mama Nisa.
Di dalam mobil Arsi menatap Viki sengit, ia masih kesal pada Viki yang membawanya bertemu dengan mama Nisa.
"Kenapa? " tanya Viki datar.
Viki menjalankan mobil meninggalkan perkarangan restoran. Arsi masih saja sama, menatap Viki tajam.
"Iya iya maaf, aku sengaja ngajakin kamu kesana biar Nisa gak berharap lagi" kata Viki.
"Tetep aja aku gak suka" bantah Arsi.
"Lalu apa yang kamu suka? "
"Es krim" sorak Arsi.
"Baiklah" pasrah Viki.
Viki melajukan mobilnya ke sebuah toko es krim favorit Arsi.
Arsi sungguh aneh dan sulit di tebak, tergantung bagaimana orang menyikapinya. Mesti banyak mengalah dan tidak ikut emosi di saat bertengkar. Semakin melawan dengan emosi maka Arsi akan lebih emosi dan tak mau kalah.
"Sudah sampai" kata Viki. Arsi pun tersenyum melihat toko es krim favorit nya.
"Loe kok tahu toko eskrim kesukaan gue? " tanya Arsi tak percaya.
Viki tak bergeming, ia tak suka mendengar Arsi menggunakan kata bahasa seperti itu.
"Ayok" ajak Arsi belum sadar perubahan sikap Viki.
"Loe kenapa sih, ayok turun" ulang Arsi lagi.
"Ups, maaf. Ayo kak kita turun" kata Arsi baru sadar, lalu memperbaiki kalimat nya.
Barulah Viki tersenyum dan ikut turun bersama Arsi.
...T E R I M A K A S I H...