My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
79. Fitting Baju



Sudah 2 hati Arsi berdiam diri di rumah, ntah di sengaja atau emang ke betulan. Arsi merasa mereka meninggalkan nya mati kebosanan di rumah.


"Adu sayang, bangun!!!! " Sakira menyibakkan gorden, cahaya masuk mengganggu tidur Arsi.


"Mama.. Arsi masih ngantuk ma" kata Arsi menguap.


"Mandi gih, kita akan keluar" kata Sakira.


Arsi langsung duduk, akhirnya ia keluar juga dari rumah.


"Mau kemana ma? " tanya Arsi.


"Fitting baju kamu sama Viki lah" kata Sakira.


"Fitting baju" ulang Arsi lesu.


Mata Arsi melotot, lalu berlari masuk ke kamar mandi. Hari ini ia akan bertemu Viki, rasa rindu yang 2 hari ini ia tahan akan terlepas kan.


"Yuk ma" ajak Arsi.


Sakira yang sudah menunggu Arsi di depan pun mengangguk, mereka pun berlalu pergi.


Tiba di sebuah butik, Arsi celingak celinguk seperti mencari seseorang. Sejak tadi Arsi tidak melihat Viki, yang hadir hanya Sumi dan Mark.


"Seperti nya dia tidak datang" pikir Arsi.


"Kamu menunggu Viki yah" goda Mark.


"Gak lah, siapa yang nunggu dia" kila Arsi.


"Maaf, saya terlambat"


Arsi langsung berbalik senang mendengar suara Viki, seyum yang semula mengembang seketika menghilang.


"Hai Arsi" sapa Nisa.


"Viki kesini kamu! " panggil Sumi.


"Iya bu" sahut Viki menghampiri Sumi.


"Kamu kenapa bawa gadis itu sih, ini kan acara kamu sama Arsi. " Omel Sumi.


"Hallo tante" sapa Nisa. Sumi memasang senyum palsunya.


"Dia teman aku bu, Nisa" kata Viki memperkenalkan Nisa pada ibu nya.


"Nisa tante" kata Nisa mengulurkan tangannya sopan. Sangat malas Sumi menjabat tangan Nisa. Sumi bisa menilai Nisa gadis seperti apa, karena itu dia langsung tidak suka pada Nisa.


"Nisa jangan lupa yah, datang ke acara pernikahan Arsi dan Viki" kata Sakira mengundang Nisa.


"Iya tante, aku pasti datang kok" balas Nisa tersenyum paksa, di dalam hatinya Nisa menangis, mencaci Arsi.


"Siapa tu cewe" bisik Mark pada Arsi yang sejak tadi hanya diam dengan raut wajah bete.


"Tanya aja sendiri" jawab Arsi ketus.


Mark jadi penasaran ada masalah apa antara Nisa dan Arsi, ia yang baru bergabung tentu saja masih belum tahu persoalan mereka.


"Misi baru ni" pikir Mark.


"Arsi, coba gaun ini yah" kata Sumi menunjuk salah satu gaun mewah berwarna biru muda.


"Wah seperti nya ini cocok dengan mu sayang" sahut Sakira.


Arsi dengan malas masuk ke ruang ganti, mencoba memakai baju yang di usulkan mama dan ibu mertuanya.


Arsi pun ke luar dengan anggun, meski ekspresi nya masih cemberut. Viki tak berkedip, Arsi terlihat sangat cantik.


"Sempurna" puji Mark, Sumi dan Sakira tersenyum senang. Sementara Nisa tidak suka dengan hal itu.


"Warna mya kurang cocok" komentar Nisa. Sakira dan Sumi menatapnya dengan tatapan berbeda.


"Benarkah? " kata Sakira.


"Iya tante, warnanya sedikit lebih terang" jawab Nisa mencari alasan. Arsi benar-benar tidak suka, ia tidak membutuhkan pendapat dari Nisa.


"Tapi Viki, itu terlalu terang" bantah Nisa.


Mark masih memantau, ia tidak suka melihat cara Nisa pada Viki seola ingin mendominasi Viki dari Arsi.


Arsi kembali masuk ke ruang ganti, mencoba gaun yang lain. Sudah berkaki kali Arsi berganti ganti gaun hanya karena komentar Nisa. Akhirnya Arsi mencoba gaun mewah berwana silver. Gaun terakhir yang mahal di boutique ini.


"Bagaimana? " tanya Arsi tersenyum manis, ia tak akan membiarkan Nisa menghancurkan pernikahannya.


"Sangat cantik " puji Mark.


Sakira dan Sumi mengangguk setuju dengan mark.


Viki berjalan mendekati Arsi dengan pakaian yang serasi mereka terlihat sangat serasi.


"Kurang cocok" ujar Nisa.


"Oh tentu saja, tapi sayang nya pendapat loe gak penting disini" kata Arsi menggandeng tangan Viki. Nisa mengepalkan tangannya.


"Kamu sangat cantik" puji Viki mengecup pipi Arsi.


"Kak Viki juga sangat tampan" balas Arsi.


"Kamu ini siapa? sejak tadi mengacau saja" cibir Sumi.


"Lihatlah, mereka itu pasangan yang sangat serasi, takdir yang menyatukan mereka. Jangan harap loe bisa memisahkan mereka" kata Mark berbisik di telinga Nisa, lalu meniupnya pelan.


"Nah ini untuk kita" ujar Sakira memberikan sebuah gaun pada Sumi. Sakira tidak tahu persoalan mereka.


"Wah sangat cantik" puji Sumi, lalu mereka masuk ke dalam ruang ganti bersama.


tinggal Nisa dan Mark di depan, Viki dan Arai sibuk berfoto melepas rindu yang sudah 2 hari tak jumpa.


"Apa semurah itu? bolehkah aku yang membelinya? " bisik Mark.


"Maksud loe apa? " balas Nisa geram.


"Jangan ganggu mereka, jika loe masih sayang nyawa loe sendiri" tekan Mark, lalu meninggalkan Nisa.


Nisa benar-benar tak kehabisan akal, berjalan mendekati Viki dan Arsi yang duduk berdua di sofa tunggu.


"Viki, aku ingin pulang" kata nisa.


Arsi mendongak, menatap Nisa risih. "Kalo mau pulang kenapa harus lapor" cibir Arsi.


"Antar aku Viki" kata Nisa lagi mengabaikan ucapan Arsi.


"Loe pulang naik taxi saja, gue gak bisa" tolak Viki.


"Loe denger? " cibir Arsi.


"Tapi tadi loe janji sama orang tua gue.. " kata Nisa terhenti.


"Loe bilang sama orang tua loe, jangan suruh calon suami orang jaga anak murah kaya loe!" bentak Arsi kehilangan kesabaran.


"Ada apa ini? " tanya Sakira.


"Maaf tante, saya gak bawa mobil karena tadi Viki yang jemput saya. Jadi saya tidak bisa naik taxi" jelas Nisa berakting.


"Oh ya sudah, mark saja yang antar" ujar Sumi.


"Kamu bisa kan? " tanya Sumi pada Mark.


"Bisa bu" sahut Mark.


"Tapi... "


"Udah deh, mau di antar atau jalan kaki? " bisik Mark. Lagi lagi Nisa gagal membuat Viki selalu dekat dengan nya.


Viki tak ambil pusing, ia membawa Nisa ikut bersamanya karena mamanya sakit dan harus pergi berobat, ia meminta Viki untuk menghibur Nisa agar tidak khawatir.


Viki yang takut terlambat ke boutique tak punya waktu untuk menolaknya, meski sejak tadi Viki tak memperlihatkan keakraban nya dengan Nisa. Sikap Viki sudah berubah semenjak Nisa mengungkapkan perasaannya.


...T E R I M A K A S I H...