
Sejak sudah menunaikan kewajibannya hubungan Arsitektur dan Viki semakin harmonis, semakin lengket tak terpisahkan.
Arsi berangkat kekampus bersama Viki, meski Arsi turun terlebih dahulu, baru Viki menyusul setelah beberapa selang waktu. Arsi masih belum siap jika jati dirinya di ketahui oleh orang lain.
Tidak seperti hari hari biasanya, tatapan setiap mahasiswa atau mahasiswi berbeda dari biasanya pada Arsi. Mereka terlihat berbisik bisik, lalu melirik ke arah Arsi.
"Kok mereka aneh sih" pikir Arsi.
Arsi memasuki kelasnya, tatapan yang sama Arsi lihat dari teman sekelasnya.
"Meri... loe ngerasa gak kalo mereka aneh gitu" kata Arsi masih melirik teman temannya yang memberikan tatapan aneh padanya.
"Masa sih? " kata Meri ikut memperhatikan teman temannya. Ia pun bingung, mengapa sikap teman temannya terlihat berbeda.
"Arsi!!! " panggil Egi, ia terlihat tergesa gesa memasuki ruang kelas.
"Loe kenapa, kaya di kejar hantu gitu" kata Meri menatap Egi horror.
"Loe pasti bingung kan, kenapa sikap anak anak aneh gitu sama loe? " tanya Egi sembari mengatur nafasnya yang masih tersengal sengal.
"Kenapa? "
"Loe di gosipin pacaran sama pak Viki, sama tuh dosen" jelas Egi.
"Lah kalo emang gue deket sama pak Viki, masalahnya apa? tua tidak, beristri tidak" ucap Arsi tak merasa itu hal yang patut di jadikan gosip.
"Iya gue tahu, tapi yang menjadi masalahnya adalah tu dosen tampan, kaya raya, dan loe yang rakyat jelata di anggap gak pantes dan mengincar harta. Matre. " jelas Egi panjang lebar.
"Jadi itu masalahnya" kata Viki yang sudah berdiri di belakang Egi.
"Eh bapak" sapa Egi cengengesan, ia kaget kenapa pak Viki ada di belajarnya. Mahasiswa dan mahasiswi lain sudah duduk di kursi masing masing.
Arsi hanya bisa nyengir menatap suaminya yang melirik sekilas padanya.
Viki kembali ke meja nya, meletakkan tas dan laptop di atas meja. Viki berdiri menatap seluruh mahasiswa satu persatu.
"Apa ada berita hari ini? " tanya Viki iseng.
Awalnya tak ada yang berani menjawab, tapi tiba-tiba ada seorang mahasiswi penggemar berat Viki mengangkat tangan.
"Bapak kenapa mau sih sama Arsi, saya lebih cantik dan lebih kaya. Kenapa memilih gadis biasa seperti dia" kata Gadis itu menatap Arsi sinis lalu menatap Viki sendu.
"Kurang ajar, gak tau apa bapak bapak loe papa gue yang gaji" gerutu Arsi dalam hati.
Bayu terkekeh mendengar pertanyaan teman sekelasnya itu. Bayu bisa menebak, Arai sangat panas sekarang.
"Oh oke, kamu lebih kaya dari dirinya. " kata Viki santai.
"Sekarang saya ingin bertanya" kata Viki menatap mahasiswi tadi.
"Kamu suka saya? " tanya Viki, Gadis itu mengangguk.
"Suami gue!! " teriak Arsi dalam hati.
"Mengapa kamu suka saya? sementara ada banyak yang lebih dari saya" kata Viki lagi.
"Karena pesona bapak berbeda dengan yang lain" jawab gadis itu dengan percaya diri.
"Benar" sahut Viki. Gadis itu dan mahasiswa lain mengerut mendengar perkataan Viki.
"Apa nya yang benar pak? " celetuk Egi.
"Benar, Pesona Arsi berbeda dengan gadis yang lain. Itu jawaban saya untuk pertanyaan dari nya" jelas Viki tersenyum miring. Gadis itu menggit bibirnya tak percaya dengam jawaban Viki.
"Tapi, dia tidak pantas" sahut mahasiswi lain.
"Jadi menurut kalian siapa yang pantes? " sungut Meri tak tahan melihat para gadis yang hanya merasa iri pada Arsi.
"Sudah sudah jangan bertengkar" lerai Viki. Meri menatap sini para gadis gadis itu, seakan ingin melahap mereka satu persatu.
"Kalian akan malu berkata seperti tadi jika tahu siap Arsi" gerutu Meri lagi.
Viki kembali melanjutkan pembelajaran, secara tidak langsung aksi Viki tadi mengakui hubungan dengan Arsi.
Seluruh penjuru kampus pun mengetahuinya, banyak yang merasa sangat marah dan iri. Termasuk bu Dinda, hatinya seperti terbakar sekarang. Bu dinda menunggu rombongan Aris di kantin, ia akan membuat perhitungan pada Arsi.
"Arsi! " panggil Dinda ketika melihat Arsi dan ketiga teman teman nya masuk ke kantin.
"Ada apa yah? " tanya Arsi.
"saya mau bicara sama kamu! " kata Dinda menarik tangan Arsi.
"Bicara di sini saja" tolak Arsi.
"ikut saya! " kata Dinda menarik paksa Arsi ke taman belakang.
"Aduh!!! apaan sih buk, mau bicara apa sih, pake ke taman belakang segala" gerutu Arsi mengusap usap pergelangan tangannya.
"Kamu ada hubungan apa sama Viki? " tanya Dinda tanpa basa basi.
"itu gak ada urusannya sama ibu" balas Arsi.
"Jawab pertanyaan saya!! " bentak Dinda sembari menarik Arsi lagi ketika Arsi ingin pergi.
"Aduh apaan lagi sih bu!!! "
"Saya lagi bicara! gak sopan banget kamu " omel Dinda.
"Sudah saya katakan, mau ada hubungan atau tidak saya sama tu dosen, bukan urusan ibu" kata Arsi lagi.
"Kamu!! " geram Dinda mengayun tangannya ingin menampar Arsi.
"Ada apa ini! " bentak Viki berjalan cepat mendekati keduanya, lalu menyembunyikan Arsi di belakang tubuhnya.
"Ini urusan saya sama mahasiswi ini" kata Dinda.
"Urusan Arsi adalah urusan saya juga! " jawab Viki.
Dinda tak percaya, Viki membela Arsi. Mahasiswi yang sering membuat masalah dan sering mendapat gosip.
"Jadi gosip itu benar? " tanya Dinda.
"Benar atau tidaknya gosip itu tidak ada hubungan nya sama kamu" kata Viki dingin.
"Tapi saya menyukai bapak, dan bapak terlihat open pada saya" kata Dinda menatap Viki dengan tatapan sendu.
"Mungkin kamu salah menilai sikap baik ku" balas Viki lagi. Arsi tersenyum miring menatap Dinda di balik tubuh kekar Viki.
"Sekali lagi kamu menggangu Arsi, saya tidak akan tinggal diam! " ancam Viki, lalu menarik Arsi pergi dari sana.
Dinda mengepal tangannya menatap kepergian Viki dan Arsi. "Lihat saja nanti" gerutu Dinda.
...T E R I M A K A S I H...