My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
AKU HANYA SEBUAH PERISAI.



Raisa berjalan di Koridor sekolah bersama Jessie. Wajah mereka terlihat lesu tak bersemangat. Kelas Raisa tampak menyebar, guru pengampu kelas mereka tidak hadir. Jadi mereka bisa bebas kemana saja selagi tidak bertemu anggota OSIS.


"Hei!!! "


Raisa dan Jessie ketakutan, Sander ada di depan mereka.


"Jessie.... Jessie.... kabur Jessie!! " Raisa berbalik menarik tangan Jessie kabur dari Sander.


"Hei jangan kabur!!! " teriak Sander mengejar siswi yang berkeliaran di luar kelas selama jam pelajaran.


Raisa dan Jessie berlari kencang, mereka kebingungan mau sembunyi dimana.


"Aduhhh Raisaaaa, kita sembunyi di mana? " Raisa juga panik, menoleh kebelakang melihat Sander semakin dekat.


"Cepat cepat cepat!!! " Raisa menarik Jessie berlari menaiki anak tangga ke lantai 2. Keduanya bersembunyi pembatas koridor lantai atas, sesekali mengintip dari atas, melihat Sander masih mengejar atau tidak.


"Hei!! turun!!! awas kalian yah! " Sander berlari menuju tangga. Raisa dan Jessie semakin panik. Raisa melihat air bekas pel di sisi kanannya.


"bantu angkat!! " Jessie langsung membantu Raisa mengangkat ember dan menuangkannya ketika Sander berlari tepat di bawah mereka.


Byurr~


Sander menghentikan langkahnya, tubuhnya basah kuyup. Rahangnya semakin mengeras.


"Awas kau!!!!! " Geram Sander kembali mengejar Raisa dan Jessie.


"Kabur Jessie!! " kedua siswi itu berlari sekencang mungkin, kesalahan semakin besar mereka lakukan.


Seluruh sekolah sudah riuh, teriakan Sander membuat seisi sekolah bingung.


"Ada apa Sander? kenapa kamu berlari dan... " Adam melirik baju Sander yang basa kuyup dan bau.


"Tangkap kedua siswi itu, " Adam mengikuti arah tunjuk Sander. Jessie dan Raisa sudah berlari jauh, kemudian menghilang di belokan koridor.


"Anak baru itu? " tanya Adam kembali menoleh pada Sander.


"Mereka harus di hukum!! "gumam Sander, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal.


" Tidak masalah, tidak perlu mengejarnya"


"Maksud kamu? " tanya Sander bingung.


"Sebentar lagi sekolah akan bubar, jadi besok kita akan memanggilnya melalui informasi sekolah" jelas Adam enteng. Sander merasa bodoh, ia tidak kepikiran itu. Dia telah membuang buang tenaga dan membuat dirinya basa seperti ini.


"Huh, gimana ini Rai. kak San pasti marah banget"


"Tenang Jessie, selagi kita bisa menghindarinya dia tidak akan bisa menghukum kita" ucap Raisa masih terengah, mereka sudah masuk ke dalam kelas.


Selama 5 menit berada di kelas, bel tanda sekolah telah selesai pun berbunyi.


"Yes!! kita bisa kabur" sorak Jessie girang.


"Ayo Raisa, kita harus pulang, lebih awal" Raisa mengangguk, menggendong tas ranselnya ke punggung.


"Lets go"


Raisa dan Jessie berjalan mengendap endapan melihat situasi sekolah.


"Aman Jessie, " Mereka berlari kencang mungkin memasuki parkiran, lalu mengambil sepeda yang terparkir berdekatan. Raisa den Jessie mendorong sepeda nya agar cepat keluar dari perkarangan sekolah.


"Huhhh.... huhh.. " Nafas mereka masih tersengal, sepeda pun di kayuh mulai perlahan.


"Semoga Kak Sander melupakan kejadian tadi" lirih Raisa.


"Heh, semoga saja" sahut Jessie memberikan ekspresi jika itu hal yang tidak mungkin.


Di persimpangan jalan, Raisa dan Jessie harus berpisah. Arah rumah mereka berbeda jalur, jika Raisa berbelok ke kanan, maka Jessie berbelok ke kiri. Meskipun begitu jarak rumah mereka masih terbilang tidak jauh.


"Bye bye Raisa..... " Jessie melambaikan tangannya yang langsung di balas Raisa.


"Bye bye Jessie!! "


Raisa mengayuh sepedanya menuju rumah.


Setibanya di rumah Jely menyambut Raisa dengan keranjang nasi kukus. Raisa memarkirkan sepeda nya, menyalami tangan jely . Mata Raisa menatap keranjang nasi kukus yang di pegang sang Ibu.


"Ini pesanan siapa bu? " tanya Raisa harap harap cemas, jangan sampai ini pesanan bibi Claudia.


"Huh?? rumah bibi Claudia? " beo Raisa. Gawat, jika Raisa kesana maka dirinya pasti bertemu dengan kak San.


"Ibu,,, apa harus di antar sekarang? " Raisa mendekati ibunya, berharap tidak harus sekarang mengantar nasi ini.


"Tidak sayang, nasi ini bibi Claudia butuhkan untuk menyambut kepulangan putra pertama nya" jelas Jely sembari membangkit nasi kukus nya.


Glek. Raisa menatap horor keranjang yang ada di tangannya.


"Tidak masalah, cuma mengantar ini, lalu langsung pergi" pikir Raisa mencoba untuk menenangkan hati nya.


Raisa mengayuh sepeda nya menuju rumah besar bibi Claudia, jarak yang tidak terlalu jauh membuat Raisa tidak menghabiskan banyak waktu.


Mengendap endap, Raisa melihat kiri kanan mencari keberadaan Sander. Merasa sudah aman Raisa langsung, berjalan cepat kedalam rumah bibi Claudia.


"Eh Raisa sudah datang yah" Raisa nyengir, menyerahkan keranjang nasi kukus ke tangan bibi Claudia.


"Ini pesanan nya bi" lirih Raisa masih dalam keadaan nyengir yang di paksakan. Lalu Raisa berbalik hendak pergi.


"Eh Raisa, bibi mau minta tolong kamu" ujar Claudia menghentikan langkah Raisa, kembali berbalik menghadap Claudia dengan ekspresi yang di paksa kan tersenyum.


"Tolong apa bi? " tanya Raisa.


"Ini, tante tadi masak ayam. Bisakah kamu membantu tante menghidangkan nasi kukus ini di meja makan? "


"Huh" cengoh Raisa,


"Anak bibi sebentar lagi datang, takut gak terburu nanti" lanjut Claudia.


"Oh tidak masalah bi" Raisa mengangguk. "Jumpa, jumpa deh. emaknya beneran pengen buat aku mati didepan anaknya ini" lanjut Raisa dalam hati. Ia nyengir ketika bibi Claudia melihat kearahnya.


Raisa menatap semua di atas meja, ia bergerak cepat bisa segera pergi dari sana.


Sander menuruni tangga, perut nya terasa kosong sekarang.


"Ma.. apa semua nya sudah selesai? "


Mata Sander menyipit, ada seorang gadis yang memakai seragam sama dengan seragam sekolah nya.


"Mati lah aku" batin Raisa, ia tidak berani membalikkan tubuhnya, jika itu di lakukan maka Sander akan menangkapnya.


"Siapa kau? " Sander mendekat, namun Raisa terus bergerak menjauh setiap langkah Sander mendekat padanya.


"Aneh" gumam Sander.


Claudia memasuki ruang makan, menatap bingung dengan sikap Aneh putra nya. Namun ia tidak ambil pusing, Claudia berbinar melihat makanan sudah tertata rapi oleh Raisa.


"Eh Raisa, sudah selesai menatanya? "


"Raisa? " mata Sander melotot, nama itu persis seperti nama siswi baru yang tadi membuat masalah dengan nya. Sander semakin penasaran dengan gadis ini.


"Bibi, aku harus pergi!!! " ucap Raisa tergesa-gesa menyalami tangan Claudia, lalu bergegas pergi dari sana.


"Hei berhenti!!! " Teriak Sander hendak mengejarnya, tapi di cegat oleh Claudia.


"Ma, kenapa Melarang ku? " marah Sander.


"Kenapa? ada apa dengan putra ku yang acuh tak acuh ini" ujar Claudia tersenyum miring menatap Sander. Pria itu tersadar, mengapa ia malah terpancing oleh gadis culun itu.


Sander mendengus kesal, lalu menarik kursinya.


"Wahh apa aku terlambat? " ucap seseorang yang baru saja muncul, dia adalah anak pertama Claudia. Andi Almirad, seorang CEO di perusahaan keluarga munandar.


"Kau selalu terlambat kak" cibir Sander.


"Hei, sopan lah pada ku" Andi menjitak kepala adiknya.


"Sudah sudah ayo kita makan" lerai Claudia. Mereka makan dalam diam, hanya dentingan sendok saja yang berbunyi.


Jangan lupa mampir yah!!!!!


AKU HANYA SEBUAH PERISAI,


LIHAT DI PROFIL AUTHOR, JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN YAH!!!