
Arsi berjalan gontai keluar dari kelasnya.
"Mau nongkrong dulu gak? " Tawar Egi, ia tahu hati Arsi masih sedih saat ini. Meri melirik Arsi ingin melihat ekspresi apa yang akan Arsi perlihatkan.
"Oke.. " Terima Arsi, membuat mereka bedua bertos ria. Meri dan Egi ingin menghibur sahabat nya yang baru saja kemalangan.
"Eh lu liat berita gak? " Bisik sekelompok siswi di lorong kampus.
"Soal Davin Ricardo dan istri meninggal? " Tanya siswi lain.
"Iya.. Aduhh tragis banget yah mati dalam kecelakaan pesawat" Ucap siswi tadi miris.
"Di kabarkan ni yah, hanya jasad mereka yang tidak di temukan" Bisik siswi lainnya.
Arsi terhenti sejenak mendengar celotehan teman teman kampusnya. Hatinya sakit setiap kali orang orang membicarakan soal kematian orang tua nya.
Meri menggenggam tangan Arsi erat, dengan sorot mata mengisyaratkan, loe baik baik aja, loe gak sendirian.
Arsi tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Memang berita ini tidak terlalu di perbincangkan publik karena keluarga Arsi cepat menutupnya dan melarang untuk menyiarkan semua nya. Namun berita yang sudah tersebar mana bisa di hapus begitu saja.
"Loe baik baik aja? " Tanya Egi.
"Gue baik kok, selow aja" sahut Arsi tersenyum lebar, seolah dirinya sangat baik baik saja.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju cafe tempat biasa nongkrong.
"Pesen apa? " Tanya Egi menatap kedua gadis itu, Bayu tidak ikut dengan mereka karena ada urusan mendadak.
"Biasa deh" Jawab Arsi.
"Gue juga" Sahut Meri. Meski sudah tahu Arsi konglomerat sikap mereka tetap seperti biasanya. sahabat tetap lah sahabat, tidak ada khasta di dalamnya.
Tak berapa lama Egi datang membawa pesanan teman temannya. Meri mengerut, tumben banget Egi mau membawa pesanan, biasanya selalu menyuruh pelayan yang membawanya.
"Kok tumben" Ujar Meri meraih minumannya.
"Sesekali boleh lah" Jawab Egi cengengesan.
Egi dan Meri saling melirik, Arsi menatap lurus tan berkedip sedikit pun.
"Kenapa tu anak? " Tanya Egi tak bersuara, yang terlihat hanya gerakan bibir saja. Di jawab tidak tahu oleh Meri dengan mengangkat kedua bahunya.
"Ci... ci.. Arsi!!! " Panggil Meri menggoyang goyangkan tangannya di depan wajah Arsi.
"Eh iya" Sahut Arsi gelagapan, ia baru sadar dari lamunannya.
"Loe mikirin apa Ci? " Tanya Meri.
"Gak mikir apa apa" Elak Arsi meminum jus nya.
"Kalau ada apa apa loe cerita ke kita yah" Bujuk Egi.
Cling~sebuah pesan masuk ke ponsel Arsi. Meri dan Egi melirik ke layar ponsel Arsi, namun secepat kilat Arsi meraihnya.
"Sial! " Umpat Arsi bangkit dari duduknya.
"Mau kemana woy! " Teriak Egi dan Meri ikut berdiri menatap Arsi yang sudah berlalu tak terlihat.
"Kenapa sih tu anak? " Dengus Egi.
"Gue gak tahu" Jawab Meri.
Arsi berlari menuju mobilnya, lalu masuk dan melesat cepat dari kafe itu. Bibirnya berkomat kamit tak jelas, matanya gelisah menatap jalanan yang sangat padat.
"Aduhhhh minggir!! " Teriak Arsi dari dalam mobilnya.
"Arrrggghhh!!!!!!! " Geram Arsi ketika dirinya ingin melewati perempatan, ia malah terjebak lampu merah. Diraihnya ponsel yang tadi di letakkan nya di jok penumpang di samping nya.
"Bayu.. Bayu... " Gumam Arsi mencari no ponsel Bayu di kontaknya. Setelah ketemu, Arsi langsung memanggilnya.
Drtttt... Dritt...
"Angkat dong..... " Bisik Arsi sudah mulai menangis ketakutan, matanya sesekali menatap ke lampu merah.
"Hallo Ci... " Sahut Bayu ketika panggil terhubung. Lampu merah pun berganti menjadi hijau. Arsi langsung menjalankan mobilnya karena kebetulan Arsi berada di paling depan.
"Arsi... " Panggil Bayu khawatir karena Arsi tak kunjung menyahuti nya, yang terdengar hanya suara isak tangis dan suara mobil di jalanan.
"Di mana loe sekarang? " Tanya Arsi setelah mobilnya menyebrangi perempatan.
"Di kantor.. Ada apa? " tanya Bayu bingung.
Klik.
Arsi memutuskan panggilan secara sepihak, lalu memutar balik mobilnya ya g awak menuju rumah berubah menuju ke kantor.
"Ada apa? " Tanya Desta pada Bayu.
"Tidak tahu, tapi ada yang aneh pada Arsi" Lirih Bayu. Sekarang mereka sedang berbincang di di ruang meeting. Ada Bayu, desta, Viki dan Kevin.
"Suruh orang untuk memantau Arsi" Titah Viki.
"Tapi Arsi tidak akan suka" Sahut Bayu.
"Jangan beri tahu dia" Jawab Viki lagi. Bayu mengangguk, ini semua juga demi keselamatan Arsi. Mereka kembali melanjutkan pembicaraan soal bisnis dan juga parah musuh yang sudah mulai memperlihatkan wujud mereka.
Persoalan Davin dan Sakira terus di selidiki meski tanpa pihak kepolisian. Hal ini tidak bisa mereka libatkan pihak pemerintah karena sudah masuk ke dalam dunia bisnis gelap.
...T E R I M A K A S I H...