
Seperti biasa Arsitektur berangkat ke kampus, namun kali ini ia bareng bersama Meri, si asisten dosen paling rajin.
"Pagi ciwi ciwi cantik.... " Sapa Egi pada Arsitektur dan Meri yang selalu terlihat cantik di mata Egi.
"Pagi juga cowo gak laku... " Balas Meri mengejek Egi yang langsung mengerucut kan bibirnya.
"Ihh kaya dah laku aja lu" balas Egi kesal.
"Eh iya" jawab Meri nyengir.
"Yuk masuk" ajak Arsi mulai males liat tingkah teman temannya.
Arsi berbalik melangkah menuju kelas, matanya tidak sengaja melihat ke arah parkiran. Mobil Viki baru saja tiba, langkah Arsi terhenti menantikan Viki keluar dari mobil.
"Yuk ci " ajak Meri menarik tangan Arsi.
Tak bergeming, Arsi tetap berdiri di tempat menunggu Viki keluar dari mobilnya. Tak sesuai harapan, Arsi malah melihat pemandangan yang menusuk dan merobek hatinya.
Wanita yang kemarin datang ke apartemen kakaknya malah keluar dari mobil Viki.
"Ci.. " panggil Meri menggenggam tangan Arsi seolah memberikan kekuatan. Meri paham apa yang dirasakan Arsi sekarang, meskipun Arsi tidak mengakui jika ia mencintai kakaknya sendiri.
Tak lama kemudian Viki keluar dari mobil, matanya tertuju pada Arsi yang berdiri tak jauh dari sana. Beberapa detik mereka saling tatap, seolah mengatakan sesuatu lewat mata.
"Gue gak papa" jawab Arsi memutuskan tatapannya pada Viki, beranjak dari sana.
"Kok masih disini sih, ayok!! " ajak Egi yang sedari tadi sudah duluan ke kelas, namun balik lagi karena sadar jika Meri dan Arsi tidak ikut bersama nya.
"Yuk" jawab Arsi menarik lengan Egi.
"tungguinnnn" rengek Meri mengejar Arsi dan Egi.
Viki hanya bisa menatap kepergian Arsi yang terlihat murung, raut wajah Arsi boleh ceriah, namun Viki dapat melihat mata sentuh Arsi yang memancarkan kesedihan yang mendalam.
Hari ini adalah mata kuliah bersama Viki, Arsi terlihat tidak semangat. Kadang pikiran nya tidak fokus pada pelajaran yang sedang di jelaskan Viki melalui layar monitor.
Bukan tak menyadari tingkah Arsi, Viki tahu jika Arsi sedang memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan nya. Terlihat sangat berbeda dengan Arsi yang begitu bersemangat ketika bersama Viki kemarin.
"Loe kenapa? " tanya Viki, namun tak di Sahuti Arsi, matanya menatap lurus kedepan.
Sekarang hanya tinggal Viki dan Arsi di dalam kelas, ia sengaja meminta semua mahasiswa dan mahasiswi keluar untuk memberikan Arsi sedikit hukuman.
"Arsilah Putri Ricardo!! " Panggil Viki untuk kesekian kalinya.
"Eh iya saya" jawab Arsi kaget tersadar dari lamunan nya, lalu melirik ke sekeliling nya sudah tidak ada siapapun kecuali kakaknya.
"Tunggu! " cegat Viki menahan lengan Arsi yang terlihat berusaha menghindarinya.
"Ada apa pak? " tanya Arsi sopan dan formal selayaknya mahasiswi lainnya.
"Apa ada yang mengganggu pikiran loe? " tanya Viki khawatir.
"Tenang aja, gue baik baik aja, gue cuma kangen mama" jawab Arsi tersenyum sembari melepaskan cengkraman tangan Viki di lengannya.
"Saya permisi pak" pamit Arsi menunduk sopan, lalu pergi dari hadapan Viki.
Viki tak dapat berkata apa apa lagi, ia tak bisa menahan adiknya yang sudah berlalu begitu cepat. Viki hanya Mendesah pelan, belum saatnya untuk menjadikan Arsi sebagai miliknya seutuhnya, belum saatnya untuk membuka semua rahasia pada Arsi..
Arsi tiba di cafe tempat nya biasa nongkrong bersama teman temannya, namun kali ini ia tak bersma ketiga sahabat nya.
Arsi duduk di meja yang terletak paling sudut, tak memakan apapun, Arsi hanya memesan juice mangga. Bukan meminumnya, Arsi malah hanya mengaduk aduk juice nya.
"Hei, sendirian aja" sapa seseorang membuyarkan lamunan Arsi. Matanya menyipit mengingat siapa yang sok akrab dan tidak permisi langsung duduk di depannya.
"Gue mark, anak baru itu" ucap mark menjawab kebingungan Arsi.
"Ooo lupa gue" jawab Arsi jujur.
"Its oke, tapi ntar gue bakal huat loe gak bisa lupa sana gue" ucap Mark mengedipkan matanya sebelah sembari tersenyum miring.
"Silakan" jawab Arsi membalas senyum Mark Seola tersenyum menantang.
"Okey,, "
"Btw loe asli mana? " tanya Mark setelah keheningan beberapa menit di antara mereka, mark yang hanya menatap wajah Arsi tak henti hentinya mengagumi Arsi di dalam hatinya.
"Maksudnya? " tanya Arsi tanpa menatap Mark.
"Loe asli Indonesia? " ulang Mark mengganti pertanyaan nya yang lebih spesifik.
"Iya" jawab Arsi singkat.
"Ohw" sahut mark tak tahu lagi ingin bertanya apa, ia sungguh mati kutu jika berhadapan dengan Arsi. Satu satunya wanita yang membuat dirinya tertarik dan sangat ingin mendekatinya.
Untuk para pembaca mimin ucapkan minal aidin wal faidzin. mohon maaf jika mimin sering buat kalian kesel
...T E R I M A K A S I H...