My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
29. Keterkejutan Meri



"Arsi!! loe kenapa sih?? " tanya Meri penasaran, sejak tadi Arsi hanya diam sembari memeluk bantal guling nya.


"Gue harus apa Mer... " lirih Arsi sudah mulai terisak.


"Gue gak tahu masalah loe, gimana mau ngasih solusi" dengus Meri kesal. Tak menjawab lagi, hanya isak tangis yang terdengar dari Arsi. Meri pun tak memaksa Arsi untuk segera menceritakan padanya, ia memberikan Arsi waktu untuk mempersiapkan diri meskipun saat ini ia sangat sangat penasaran dengan masalah Arsi.


"Mer.... " panggil Arsi dengan suara serak sehabis nangis. Meri tak menjawab, ia hanya menoleh pada Arsi menunggu Arsi untuk bicara.


"Oke gue akan cerita sama loe" putus Arsi merubah posisi tubuhnya dari baring menjadi duduk, Meri pun mengikuti Arsi merubah posisi nya. Kini mereka sudah saling berhadapan. Terlihat Arsi mencoba menenangkan hatinya dan mempersiapkan dirinya untuk menceritakan semuanya pada Meri.


"Jadi?? " tanya Meri karena Arsi tak kunjung memulai cerita nya.


"Oek, loe harus dengerin gue sampai selesai, sebelum gue selesai ngomong loe gak boleh liatin ekspresi loe gimana" Peringatan Arsi membuat Meri semakin penasaran dengan apa yang akan di dengar nya dari Arsi.


"Okey" jawab Meri sembari mengacungkan tangannya dengan jempol dan jari telunjuk membentuk lingkaran.


"Jadi gue itu.... " ucap Arsi menggantung kan ucapannya masih belum terlalu yakin untuk memberitahu pada Meri. Sementara Meri menatap Arsi dan mendengarkan setiap ucapan Arsi dengan seksama.


"Gue adeknya Dosen itu" lanjut Arsi. Meri masih belum memperlihatkan ekspresi nya karena ia masih menunggu kelanjutan dari cerita Arsi.


"Dan... gue punya problem sama tu dosen nyebelin, dan saat ini gue lagi marah padanya. " jelas Arsi lagi. Meri masih dengan ekspresi yang sama, namun pipi bagian dalamnya sudah habis digigit nyamuk menahan keterkejutan nya.


"Lebih anehnya, gue gak ngerti alasan gue marah padanya, yang seharusnya gue Seneng" lanjut Arsi dengan ekspresi putus asa.


"Ci, gue udah boleh mengeluarkan ekspresi? " tanya Meri masih menahan ekspresi nya.


"Okey silakan" jawab Arsi santai.


"What???????? loe adeknya dosen tampan itu dan berarti loh? " Teriak Meri histeris lalu menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang sedang ada di pikiran nya.


"Loe anak om Davin??? pemilik saham terbesar di kampus dan juga pemilik SmA kita?? " tanya Meri tak percaya. Sementara Arsi hanya mengangguk menjawab setiap pertambangan terlontar dari mulut Meri. Arsi tidak memikirkan hal itu sekarang, namun tentang hatinya yang begitu merasa kesal dan tidak suka jika Kakaknya sudah memiliki wanita.


"Kok loe nyembunyiin dari kita sih! " dengus Meri.


"Ihhh Meriiii gak usah bahas itu duluuu, yang penting kan loe dah tahu" sungut Arsi kesal karena Meri terus saja membahas sesuatu yang tidak penting.


"Jadi gimana? " tanya Meri.


"Gue gak tahu Meri!!!!! gue linglung serius" ucap Arsi tak tahu lagi harus bagaimana, ia sangat takut sekarang.


"Jadi loe cerita nya suka sama kakak loe sendiri? " tanya Meri membuat Arsi terdiam.


"Maksud loe? " tanya Arsi bingung.


"Arsi sayang, loe itu bego atau oon sih. Yang namanya cewe kalo gak suka lihat cowo deket sama wanita lain, itu artinya loe suka sama tu dosen! " jelas Meri gemas melihat Arsi yang memiliki otak cerdas mendadak menjadi bodoh sekarang.


"Dia abang gue Meriiiiii" pelik Arsi menggoyang goyangkan bahu Meri.


Arsi termenung, ia masih tidak bisa percaya jika dia menyukai kakaknya sendiri. Ini tidak bisa di biarkan, tentu saja hal ini terlarang.


"Nggak Mer, ini mungkin karena gue masih belum rela jika perhatian kakak gue terbagi" ucap Arsi meyakinkan hatinya, namun masih saja terasa janggal.


"Mungkin juga tuh" jawab Meri mengiyakan ucapan Arsi agar sahabat nya tidak terlalu stres.


Malam itu Arsi menginap di rumah Meri, ia menceritakan segala permasalahan nya. Mulai dari Viki yang sangat dekat dengan nya hingga Viki pergi dan bersikap cuek padanya.


"Berat juga hidup loe" ucap Meri menatap Arsi kasihan.


"Gue gak butuh apa apa Mer, Gue hanya butuh kakakk gue yang menghilang begitu ajah" lirih Arsi menatap lurus ke langit langit kamar Meri karena mereka sudah berbaring di atas ranjang empuk Meri.


"Jadi loe saudara dong sama Bayu? " tanya Meri tiba-tiba setelah mereka terdiam beberapa menit. Wajah Meri terlihat berseri ketika mengetahui Arsi dan Bayu ternyata saudara.


"Yaiyalah, kenapa? " tanya Arsi menoleh pada Meri.


"Yah, gak papa" jawab Meri mengulum senyum. Arsi menyipitkan matanya, mencoba menebak apa yang sedang Meri pikirkan.


"Loe suka Bayu? " tebak Arsi masih menatap Meri dengan tatapan menyelidik.


"Ih apaan sih, kagak " elak Meri tak berani menatap mata Arsi. Gadis itu sudah lama menyukai Bayu, namun perhatian Bayu selalu saja pada Arsi, bahkan mereka sering terlihat bersama. Meri merasa iri pada Arsi karena selalu saja di perhatikan oleh Bayu yang notabene nya irit bicara jika tidak ada Arsi.


"Gue tahu kok, selama ini loe sering ngambek gak jelas sama gue karena loe cemburu sama gue" ucap Arsi jujur, Meri mau tak mau menoleh pada Arsi yang sudah tidak menatapnya lagi.


"Sejak kapan loe tahu? " tanya Meri kaget.


"Gue itu orang nya peka Mer, loe tahu itu kan? " Jelas Arsi dan bertanya pada Meri.


"Gue tahu loe suka Bayu, karena itu gue sering minta Bayu nemenin loe, barang kemana gitu" lanjut Arsi.


Meri tak menyangka jika Arsi sering mencoba mendekatkan dirinya dengan Bayu yang sejak awal masuk SmA sudah ia puja, namun Meri tidak bisa mengungkapkan nya,l karena takut nantinya per sahat mereka akan pecah dan hal itu akan membuatnya jauh dari Bayu.


"Jadi,,, apa rencana loe buat pak Viki? " tanya Meri, namun tidak ada jawaban dari Arsi.


"Ci... Eh malah tidur!!!! dasar kebo!! " rutuk Meri karena Arsi sudah tidur duluan ketika dirinya bicara. Dengan kesal, Meri menarik selimut dan ikut mengikuti Arsi ke alam mimpi.


Sebenarnya Arsi belum tidur,setelah memastikan Meri tertidur pulas dengan terdengar nya dengkuran halus darinya.


Sebenarnya ia hanya malas memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk perasaannya ini. Arsi tak bisa membohongi hatinya sendiri, Meri memang benar. Ini adalah rasa suka terhadap lawan jenis, terlalu bodoh jika Arsi mengatakan jika ini adalah rasa suka dan tidak rela karena kakaknya bersama wanita lain.


Arsi menggeleng kuat, lalu ikut mengikuti Meri ke alam mimpi. Matanya sudah sangat berat sekarang, ditambah lagi karena dirinya baru saja selesai menangis.


"Setidaknya aku tenang ketika tidur" lirih Arsi pelan, kemudian kembali menutup matanya.


...T E R I M A K A S I H...