
"Lebih cepat lebih baik" Kata Davin tegas
"Tapi Arsi kan masih kuliah pah" balas Sakira tak tega.
"Jika di pertama, nanti mereka akan semakin jauh mah. Kita gak tahu kalau kehidupan ke depannya gimana. Kita semakin tua dan Arsi harus ada yang menjaganya" ucap Davin panjang lebar.
Sakira menghela nafas, perkataan suaminya benar adanya. "Yasudah, kalau ini yang terbaik untuk Arsi, mama setuju"
"Setuju apa? " tanya Viki memasuki ruang tamu.
"Kebetulan sekali" Davin menarik Viki duduk ke sofa.
"Ada apa ini? " tanya Viki menatap Sakira dan Davin bergantian.
"Minggu depan kalian harus menikah" ucap Davin terdengar memaksa.
"Menikah? menikah dengan siapa? " kaget Viki.
"Ya ampun Viki, yah sama adek kamu" jawab Davin, sementara Sakira hanya diam mengangguk menyetujui perkataan suaminya.
"Ini terlalu mendadak pah, Arsi pasti akan menolaknya" lirih Viki, baginya itu bukan masalah besar, secepat mungkin ia ingin menikahi Arsi. Namun bagaimana dengan perasaan adiknya nanti.
"Arsi pasti mau sayang, dia begitu menyukai mu" jawab Sakira.
"Siapa bilang, Arsi tidak menyukai Viki" sahut Arsi dari pintu. Berjalan cepat mendekati kedua orang tuanya dan juga kakaknya.
"Aku gak mau nikah sama dia! " tolak Arsi.
"Asri! ini demi kebaikan kamu sayang! " kata Dabin meyakinkan putrinya. Davin kini berdiri dan memegang kedua bahu Arsi menatap Arsi penuh keyakinan.
"Tapi kenapa harus dia? " balas Arsi menatap Viki tajam.
"Karena memang Viki yang terbaik untuk mu! " jawab Sakira.
Viki tak bergeming, ia memilih duduk santai di sofa.
"Emang loe pikir gue mau punya istri bodoh kaya loe? " kata Viki.
"Huh, loe sengaja kan membujuk mama papa untuk menikahkan kita? " tuduh Arsi menunjuk Viki tepat di wajahnya.
"Gak usah ke geeran deh" balas Viki berdecih.
"OMG" gumam Davin menepuk keningnya. Jika sudah begini tak akan ada habisnya.
"Stop!!!!!! " teriak Davin dan Sakira melerai keduanya.
"Pokoknya Arsi gak mau nikah sama dia! " tolak Arsi.
"Gue juga gak mau!! " balas Viki tak mau kalah.
"Keputusan papa dan mama sudah bulat, Minggu depan kalian bertunangan, seminggu setelahnya kalian akan menikah! " ucap Davin tak terbantahkan.
"Puas loe! " dengus Arsi berlalu dari ruang tamu.
"Lah kok gue! ini semua bukan keinginan gue! " teriak Viki tak mau di salahkan oleh Arsi.
"Loe yang buat mama papa menikahi gue sama loe!!! gue benci loe!! " teriak Arsi dari atas.
Blam~ bunyi hempasan pintu kamar Arsi.
"Huh... kok malah gue sih yang salah" gerutu Viki.
"Sudah sudah, kamu istirahat sana" ucap Sakira mengusap bahu putranya.
Di dalam kamar Arsi terus menggerutu mengutuk Viki, semua ini yang salah Viki pikirnya.
"Ihhhh bagaimana mungkin gue nikah sama tidak dosen, yang ada gue nanti gila!!! tugas tugas banyak!!! dia pasti akan menyuruh nyuruh gue seenaknya" ucap Arsi memikirkan apa yang akan terjadi jika dirinya menikah dengan Viki.
"Bukannya loe dulu sangat menggilai nya? " kata Bayu.
"******, gua di bilang curut" cibir Bayu yak Terima. Arsi berbalik dan melihat Bayu berdiri menyender pada pintu kamar Arsi.
"Loe sih udah kaya hantu ajah, dimana mana ada, gak tahu lagi kapan datanya" dengus Arsi menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Gue tadi kebetulan dateng buat anterin berkas ke uncle. Trus lihat lu debat gitu" jelas Bayu.
"Nah, entah sejak kapan lu ada di sana" kata Arsi.
"Yahhh loe mana tahu" sahut Bayu ikut berbaring di samping Arsi.
Arsi tak bergeming lagi, ia memilih menutup matanya melupakan semua masalah.
"Arsi.. " panggil Bayu.
"Hmm"
"Loe itu udah di jadikan takdir Viki kali" kata Bayu.
"Gak usah ngaco, keluar sana" usir Arsi sembari merubah posisi tidurnya membelakangi Bayu.
"Tapi emang begitu kenyataannya Arsi...... " ucap Bayu meyakinkan Arsi.
"Gue gak percaya yang begituan" balas Arsi malas.
"Nih yah gue dapet cerita dari oma, kalau kalian itu udah di jodohin sejak loe lahir" jelas Bayu. Arsi tak menjawab, ia pura-pura tidur namun masih mendengarkan cerita Bayu.
"Ketika loe dan gue masih dalam kandungan, mama sama aunty Sakira membuat perjanjian. anak siapapun yang berjenis kelamin perempuan, maka dia harus menjadi jodoh Viki" Lanjut Bayu.
Arsi berbalik menatap Bayu yang juga menatapnya.
"Kenapa gak loe aja yang jadi jodoh dia" celetuk Arsi menahan tawa.
"Loe mulai gak waras" ucap Bayu mencebik kesal.
"Karena memang loe takdir dia, makanya loe jadi wanita" jawab Bayu lagi.
"Au ah, gue ngantuk. Keluar sana!! " usir Arsi mendorong Bayu hingga bangun dan keluar dari kamarnya.
"Gue yakin loe menyukainya kan! " teriak Bayu dari luar.
"Diam!!! " teriak Arsi kesal.
"Eleh, nanti juga kalian terlihat mesra" dengus Bayu kesal.
"Siapa Bayu? " tanya Viki.
Deg. Bayu perlahan berbalik melihat Viki berdiri di belakang nya.
"Eh kak Viki" kata Bayu nyengir.
"Ada apa? siapa yang bakal mesra lagi? " selidik Viki.
"Mampus ni gue.... " batin Bayu memutar otak nya mencari alasan.
"Itu kak, si jono dan jini " elak Bayu menyebutkan nama peliharaan nya.
"Eh iya Aunty... aku datang" sahut Bayu asal, padahal Sakira tidak memanggilnya. Sebelum Viki menginterogasi nya lebih baik dia kabur.
"Dasar" dengus Viki menggeleng.
Viki berjalan menuju kamarnya, matanya melirik sebentar kamar Arsi yang tertutup rapat.
"Apa dia udah tidur? " tanya Viki dalam hati. Ia sangat menyesal bersikap dingin dan datar pada Arsi, namun bagaimana lagi. Arsi selalu membuat nya geram dan menggemaskan.
Viki memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan beristirahat. memikirkan permintaan papa dan mamanya menurut Viki sangat lah berat. Bukan tidak mau tetapi bagaimana dengan Arsi yang saat ini masih kesal dengan nya.
...T E R I M A K A S I H...