
"Ngggrrrrnn" Arsi menggeliat merenggangkan tubuhnya. Perlahan matanya terbuka menatap langit langit kamar.
Kok beda??. batin Arsi membuka matanya lebar lebar memastikan apa yang ia lihat.
Arsi langsung duduk di ranjang menatap sekeliling kamar yang sedang ia tepati.
Deg. jantung Arsi berdegup kencang, ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia tidur.
"Bukannya gue.... " ucap Arsi terhenti langsung menutup mulut nya.
"Dasar kebiasaan jam segini baru bangun" ucap Viki yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kan bener.... " pekik Arsi tertahan.
Dugaannya benar, ini adalah kamar apartemen Viki. Terakhir ia tertidur di dalam mobil ketika mereka di perjalanan pulang, dan Arsi tidak tahu jika Viki membawanya ke apartemen bukan ke rumah.
"Mandi sana! " titah Viki melempar handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke wajah Arsi.
"Ihh jorok banget sih!!! " teriak Arsi kesal, sementara Viki sudah keluar dari kamar.
Meski masih kesal, tetap saja Arsi melakukan apa yang di perintah kakaknya.
Viki sibuk menyiapkan sarapan untuk nya dan juga Arsi. Seharusnya Arsi lah yang melakukan hal ini, tetapi karena ia tahu kebiasaan adiknya Viki memilih untuk menyiapkan untuk mereka.
Arsi pun selesai mandi dan sudah siap dengan pakaian rapi. Lalu gadis itu melangkah keluar menuju ruang makan.
Sempat terpana, Arsi terdiam menatap kakaknya yang terlihat sangat sangat tampan tengah menyiapkan sarapan. Perlahan Arsi mendekat, ia tak memerintah kan kakinya untuk melangkah, tetapi seakan terhipnotis Arsi malah mendekat terus mendekat.
"Tunggu di meja ajah, biar gue yang siapin" ucap Viki tanpa menoleh.
"Siapa yang mau deketin loe, gue mau ambil buah kali di kulkas" jawab Arsi asal. Mana mungkin ia mengatakan jika ia mendekat karena ingin melihat kakaknya masak.
Viki tak menjawab lagi, ia lebih memilih fokus pada masakannya.
Arsi memilih kembali ke meja makan setelah mengambil buah yang sebelumnya sudah di cuci.
"Makan lah" titah Viki datar.
"Gue kenyang" jawab Arsi bangkit meninggalkan Viki yang sudah duduk di kursinya.
"Jangan harap bisa keluar dari sini sebelum makanan ini habis" ancam Viki dengan nada dingin nya.
Arsi menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Viki yang sudah sibuk dengan nasi goreng special yang khusus di buatnya untuk Arsi.
"Loe gila? gue mau kuliah! " ucap Arsi menantang, mana mungkin seorang Arsi langsung mengikuti ucapan kakaknya.
Viki tersenyum miring mendengar langkah kaki Arsi yang menjauh kemudian kembali terdengar mendekat.
"Kak, bukain pintu! " hardik Arsi kesal. Pintu apartemen Viki tak bisa di buka, pintu utama harus menggunakan kode yang sudah di atur oleh Viki tanpa ada yang tahu.
"Kak..... " rengek Arsi menarik lengan Viki, namun langsung di tepis olehnya.
"cih.. " Arsi berdecis kesal lalu kembali duduk pada kursi yang di atas mejanya yang sudah tertata sepiring nasi goreng yang sebenarnya menggugah selera.
"Cuci piring nya! " titah Viki menyelesaikan makannya terlebih dahulu, kemudian meninggalkan Arsi sendiri.
"Dasar gila! brengsek! pemaksa! " gerutu Arsi sembari menyuap nasi goreng ke mulut nya.
setelah sarapan dan menyelesaikan cuci piring, Arsi berniat ingin berangkat kulia. Ia mencari keberadaan Viki di setiap sudut apartemen yang baru pertama kali ia datangi.
Arsi mendengus kesal setelah capek mencari Viki, ternyata pria yang menjabat sebagai kakaknya itu malah asik dengan laptop nya di balkon kamar.
"Kak! " panggil Arsi.
Viki tak merespon, ia tetap fokus menatap layar laptop nya.
"Kak, apa pin nya? aku mau berangkat kuliah" rengek Arsi yang sudah berdiri di samping Viki.
Arsi terdiam, tangannya yang terus menarik lengan Viki mendadak terhenti.
"Aku.. ak-ku mau berangkat kukiey" ucap Arsi gugup karena Viki menatap nya lekat.
"Loe gak ada jadwal hari ini" jawab Viki meninggalkan Arsi diam mematung.
"Kok dia tahu" gumam Arsi sempat berpikir sejenak, lalu mengikuti Viki.
Viki beranjak duduk ke sofa menonton TV, tak ada tanda tanda baginya untuk membiarkan Arsi keluar dari apartemen itu.
Arsi sudah tak tahan lagi, ia benar-benar kesal dengan sikap kakaknya.
"Loe dengarin gue gak sih! " kesal Arsi.
"Ahhkk.. " pekik Arsi terjatuh dan langsung terhenyak di atas pangkuan Viki.
Aksi Viki yang tiba tiba membuat Arsi tidak sempat bersiap dan akhirnya terpaksa menerima keadaan ini.
"Loe lupa? masalah kita belum selesai" lirih Viki menyeringai menatap adiknya.
"Ma-Masalah? " ulang Arsi mengingat ingat apa yang telah di lakukannya kemarin.
Viki tak menjawab, ia hanya mengangguk menatap Arsi yang sudah melotot.
"Kak.... Gue mau pulang" cicit Arsi.
"Mau kabur? " tebak Viki tersenyum miring. Ia sudah bisa menebak apa yang Arsi rencanakan untuk menghindarinya.
"Bu buat apa gue kabur" elak Arsi.
"Kesalahan loe... "
"Gue gak sengaja, gue tahu gue dosa cium kakak gue sendiri... maafin gue" ucap Arsi cepat. Sebenarnya ia juga merasa sangat bersalah sejak kemarin, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya jika ia melakukan hal itu mengikuti hatinya.
Viki tak menjawab, ia malah membungkam bibir Arsi dengan bibir nya.
Cup~
Arsi melotot, ia terkejut dengan apa yang di lakukan Viki. Kakaknya membalas apa yang ia lakukan kemarin, padahal dia sudah mengakui kesalahan nya.
"Ini gak bener, gak bisa!! gak bener!! " teriak Arsi dalam hati ketika Viki mulai memainkan bibirnya. Seolah tak sejalan tubuh Arsi malah diam dan menikmati permainan kakaknya, sementara hatinya berusaha menolak bahwa semua ini adalah dosa.
"Ahh.. " desa Arsi tanpa sadar, membuat Viki semakin memperdalam ciuman mereka. Viki menekan tengkuk Arsi agar dapat mengakses bibir Arsi semakin dalam.
Viki tersenyum disela sela ciumannya, meskipun Arsi tak membalas pangutan bibir Viki, tetap saja Viki dapat merasakan nikmat ******* bibir ranum adiknya.
"Kak.. " lirih Arsi mendorong dada Viki pelanggan ketika kakaknya mencumbu area lehernya.
Viki terdiam, raut wajahnya sulit untuk Arsi artikan.
"Pulang lah, Pin nya tanggal lahir loe" ucap Viki tanpa ekspresi, lalu meninggalkan Arsi begitu saja.
Arsi terdiam, kakaknya kembali bersikap dingin. Bahkan melebihi sikapnya sebelum ini.
Gue salah apa?. batin Arsi menatap pintu kamar kakaknya yang sudah tertutup rapat.
Arsi sungguh di buat bingung dengan perubahan sikap Viki, setiap apa yang di utarakan Arsi mampu membuat Viki berubah.
"Huh.. "
Serius, Arsi tidak tahu harus bagaimana, Viki dengan santai menciumnya bahkan bisa di bilang panas. Sementara mereka adalah kakak adik, Arsi merasa ini semua tidak benar, kesalahan mereka sangat fatal.
Yang paling membuat Arsi bingung adalah tingkah Viki, kakak nya itu adalah pria yang paling cerdas dan pengertian jiwa kekeluargaan nya sangat besar, tapi kenapa malah ia yang melanggar norma.
"Jangan bilang cinta terlarang" gumam Arsi menggeleng sembari terkekeh pelan.
Derrt... Drrrt
Arsi meronggoh saku bajunya, ia menatap benda pipi yang di sana sudah terpampang jelas nama Meri.
"Ada apa bocah ini telfon gue sepagi ini? " Gumam Arsi lalu menekan tombol hijau.
"Ada apa? " tanya Arsi malas.
"Loe dimana???" tanya Meri dengan nada khawatir.
"Gue..." jawab Arsi di potong Meri.
"Jangan ke kampus dulu, loe tunggu kita, kita bakal jemput lo" ucap Meri cepat, Arsi tidak tahu ada apa sebenarnya ini, sehingga membuat sahabat nya bersikap seperti ini.
"Ada apa?? " tanya Arsi penasaran.
"Di mana loe sekarang? " kini malah bayu yang bicara dengan nada khawatir, membuat Arsi semakin bingung.
Vote!! Vote!!
like, coment, and share yah😘😘