
Pukul 9 pagi, Arsi keluar dari kamar nya. Pakaian tidur masih melekat indah di tubuh mungil gadis cantik itu.
"Tumben mama gak masak" gumam Arsi melihat meja makan yang masih kosong melompong.
Arsi berjalan menuju kamar mama Sakira yang memang berada di bawa. Perlahan Arsi membuka pintu kamar orang tuanya, lalu melihat seluruh sisi kamar yang terlihat kosong.
"Ma!!! Mama!!!! " panggil Arsi memeriksa kamar Sakira. Perasaannya mulai cemas, Arsi berlari menuju taman belakang tempat mamanya biasa berkebun.
"Mama!!! Ma!!! " panggil Sakira lantang.
"Mama ikut papa ke Amerika" ucap Viki yang sedang duduk santai di sofa.
Arsi menatap Viki lekat, lalu segera meraih ponselnya yang memang selalu ia bawa kemana-mana.
Arsi menghubungi mamanya, namun ponselnya tidak bisa di hubungi.
"Mama sama papa mungkin masi di dalam pesawat" jawab Viki lagi.
Dengan kesal Arsi mendekat dan menghempaskan tubuhnya di saat disofa di samping Viki.
"Mama!!!!!!! hiks hiks" Seperti anak kecil Arsi malah menangis memanggil mamanya. Viki yang melihat hal itu terdiam, sifat adiknya masih terlihat sama ketika kepergiannya dulu. Mama Sakira sengaja merekam aksi Arsi dan mengirimkannya pada Viki.
"Kok loe gak ngasih tahu gue sih" ucap Arsi di sela sela tangisnya menyalahkan Viki.
"Lah kok nyalahin gue, kemarin yang gak mau dengerin gue siapa? " tanya Viki, membuat Arsi terdiam sejenak. Memang salah dia sih, kemarin Viki sudah menghampiri nya.
"Tapikan tetap ajah loe yang salah. Harusnya loe to the poin kemarin" ucap Arsi lagi tak mau di salahkan. Viki tak menjawab lagi, menjawab pun tetap ada aja jawaban dari Arsi untuk menyalahkannya.
"Huaaaaaa, Papa!!!! Mama!!! "teriak Arsi menangis semakin keras, membuat Viki mejadi panik. Secara reflek Viki malah mendekat, lalu memeluk tubuh mungil Arsi.
" Udah diem, mama papa pergi cuma sebentar, loe kan sama gue" bujuk Viki.
"Amerika itu jauh bego!!! mana mungkin pergi sebentar, loe aja dulu perginya lama hiks hiks" balas Arsi lagi.
Deg.
Viki terdiam sejenak, kepergiannya ternyata membuat adiknya trauma di tinggalkan.
Viki tak kehabisan cara, "Nah buktinya gue balik lagi kan? "
"Udah dong, jangan kaya anak kecil" ucap Viki masih setia memeluk dan mengusap punggung adiknya sayang.
Selang beberapa menit tangis Arsi pun mereda, tanpa Viki sadari Arsi sudah tertidur di pundaknya.
"Dasar kebo, kebiasaan banget abis nangis tidur" dengus Viki menggeleng menatap Adiknya sudah pulas.
Perlahan Viki membaringkan tubuh Arsi ke atas sofa, lalu beranjak menuju kamar untuk mengambil selimut.
Di Selimuti nya seluruh tubuh Arsi hingga leher, lalu di tatap nya wajah mungil Adiknya.
"Gue gak yakin loe akan bahagia jika loe bersama gue" lirih Viki mengusap lembut pipi Arsi, lalu mengecup puncak kepala adiknya.
Viki yang sedari tadi sedang memeriksa hasil laporan mahasiswa nya kembali melanjutkan kegiatan itu. Sesekali ia menatap Adiknya yang masih saja tidur pulas.
Sudah pukul 2 siang, Arsi tebangun dari tidurnya, semalam ia memang tidak bisa tidur, dan entah kenapa setelah nangis di pelukan kakaknya ia malah tertidur.
Arsi menatap sekeliling ruang TV, matanya mencari sosok Viki yang tadi bersamanya.
"Nona udah bangun? " sapa Bi Nana.
"Iya bi, baru bangun" jawab Arsi sekenanya.
"Tuan berpesan, jika nona bangun nona harus makan dulu. " Ucap Bi Nana sesuai perintah Viki.
"Kak Viki kemana bi? " tanya Arsi.
"Den Viki mendadak ada urusan kantor non" jawab bi Nana sopan.
Arsi mengangguk paham, lalu babgkit dari sofa menuju kamarnya. Arsi berniat untuk mandi dulu baru setelah itu makan siang.
Hari ini Arsi tidak memiliki jam kuliah, jadi ia bisa bersantai di rumah.
Ini memang pendek yah guys, maaf soalnya author ngantuk banget. Janji deh setelah ini bakal panjang panjang dan up nya crazy crazy😘😘ikutin terus yah!!!
...T E R I M A K A S I H...