My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
57. Pria itu?



Meri berjalan cepat mencari keberadaan Egi, ia benar-benar gemetar saat ini.


Bruk.


"Eh Mer jalan liat liat dong" ringis Egi mengusap dadanya.


"Ihh.. loe sih gue cariin dari tadi juga" sungut Meri.


Egi sumringah kesenangan di cariin Meri. "Tumben loe cariin gue"


"Aduhhh udah deh jangan becanda dulu... " ucap Meri.


"Emang ada apa? " tanya Egi mulai serius.


"Arsi di culik"


"Apa?! kok bisa? gimana ceritanya sih" tanya Egi bertubi-tubi.


"Gue juga gak tahu, kita harus cari Arsi sekarang" ucap Meri panik.


"Yaudah yuk, kita mesti tanya ke Bayu ni" usil Egi.


Mereka pun bergegas mencari Bayu, sementara itu selepas mereka pergi ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.


"Huh, Arsi di culik? " Agus.


"Mark harus tahu ni" pikir Agus bergegas.


Di sisi lain Viki sibuk mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arsi. Semua alat pelacak tak bisa di gunain karena memang belum di aktifin oleh Arsi.


"Kalian harus menemukan dimana Arsi sekarang! " titah Viki tegas.


"Baik Bos" jawab salah satu anak buahnya. Setelah itu mereka pergi dari hadapan Viki.


Tinggalah Viki termenung sendiri menahan kekhawatiran.


"Dek loe dimana sih" lirih Viki, tak sengaja matanya menatap sebuah foto keluarga. Perlahan Viki melangkah lebih dekat lagi menatap foto yang menempel di dinding.


"Ma... Pa... " Lirih Viki.


"Maafin Viki yang udah lalai dan gak bisa jagain Arsi. Gak bisa jagain Arsi seperti mama jagain Viki dulu" lirih Viki lagi.


Seila kebetulan lewat di ruang tamu mendekati Viki. "Kamu gak salah kok Viki, memang sudah jalannya. Jadi kamu harus berusaha untuk menemukan Arsi"


"Iya aunty, Viki pasti akan berusaha menemukan Arsi" jawab Viki yakin.


"Sekarang kamu istirahat, dan mulai lagi besok" usul Seila, ia tahu Viki belum tidur sejak kemarin.


"Tidak Aunty, Viki tidak boleh lengah. Viki harus menemukan Arsi secepatnya. " tolak Viki.


Seila hanya bisa menghela nafas pasrah, ia tahu bagaimana perasaan Viki saat ini. Sungguh kasian si kecil yang kini sudah berubah menjadi pria dewasa. Sejak lahir sudah mengalami hal sesulit ini.


"Kamu yang kuat yah, kamu pasti bisa kok menyelesaikan semua ini" ucap Seila menyemangati Viki.


Viki pun mengangguk "Iya aunty".


" Ya sudah Aunty ke kamar dulu, liatin si kembar " pamit Seila.


Viki terduduk di sofa, memikirkan bagaimana cara menemukan Arsi, ia sungguh hilang akal saat ini. Titik kelemahan nya sudah di genggam oleh musuhnya. Hal inilah yang selama ini di khawatirkannya.


"Hahahahah.. " seseorang tertawa puas melihat kehancuran Viki di layar monitor nya.


"Sekarang kau merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang disayang" ucap Lalisa tertawa menang.


"Bunda! " panggil Mark.


"Ada apa putra ku? " tanya Lalisa santai.


"Bunda yang culik Arsi? " tanya Mark to teh poin.


"Wah singal mu sungguh kuat" cibir Lalisa tersenyum miring.


"Mau Bunda apakan dia? " tanya Mark sedikit memancarkan kekhawatiran. Jidat Lalisa mengerut.


"Sejak kapan kamu menaruh perhatian pada wanita seperti dia? " tanya Lalisa.


"Aku hanya ingin tahu rencana Bunda. " jawab Mark asal.


"Kau tahu? sekali dayung 2 pulau terlampau" ucap Lalisa.


"Maksud Bunda? " tanya Mark tak mengerti.


"Kebodohan mu mulai kambuh" cibir Lalisa.


"Kita ingin menghancurkan Yuli, dan juga Viki Ricardo" lanjut Lalisa.


"Pinternya kembali"


"Tapi Bunda, gadis itu tidak bersalah" bantah Mark.


"Ingat Mark, Viki adalah musuh kita juga" peringatan Lalisa.


"Arsi tidak termasuk didalam urusan kita"


"Cukup Mark!! Bunda gak mau kamu bersikap seperti ini. Bunda tidak ingin kau membela gadis itu hanya karena perasaan mu" ucap Lalisa panjang lebar.


"Aku hanya tidak ingin mengorbankan orang lain yang tidak bersalah" ucap Mark.


"Dia titik kelemahan Viki" ucap Lalisa.


Mark tidak berkata-kata lagi, ia juga bingung dengan dirinya. Rencana yang dulu dirinya susun malah menghancurkan dirinya sendiri.


"Dimana gadis itu sekarang? " tanya Mark.


"Di lantai 3 markas" jawab Lalisa.


"Aku pergi" pamit Mark.


Lalisa tidak menghalangi Mark, ia tahu jika anaknya mulai memiliki rasa pada gadis itu.


"Kuharap kau tidak mengecewakan ku" turut Lalisa yang masih bisa di dengar Mark.


Mark melanjutkan mobilnya menuju Markas. Saat ini ia ingin melihat kondisi Arsi, perasaan dilema melanda hatinya. Dendam yang sudah lama ia pendam terhalang oleh sebuah rasa kecil yang menyejukkan hati.


Mark tiba di markas, semua penjaga tunduk hormat ke padanya.


"Bos" sapa pimpinan penjaga.


"Aku ingin melihat gadis itu" titah Mark. penjaga itu langsung mengangguk lalu bergegas mengantar mark ke sebuah kamar yang di jadikan tempat penyekapan.


Di dalam kamar terlihat seorang wanita cantik terduduk di sofa. Penyekapan nya memang elit, persis seperti kamar hotel VVIP 😅pengen di sekap juga yak.


Ceklek~


Arsi menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Matanya melotot senang melihat Mark teman kampusnya berada disana. Arsi bangkit dan berlari mendekati Mark.


"Loe.. disini?? loe mau nyelamatin gue yah" ucap Arsi penuh harap. Mark tak bergeming, ia hanya diam menatap Arsi dingin


"Bos, kami tunggu di luar" ucap penjaga.


Arsi kaget, perlahan melangkah mundur menjauhi Mark.


"Jadi loe?? " ucap Arsi tak percaya, ternyata yang menculiknya adalah Mark.


"Apa ada yang luka? " tanya Mark mengabaikan ucapan Arsi, ia malah memeriksa Arsi apakah ada yang lecet dan perlu di obati.


"Kenapa loe lakuin ini!!! " tanya Arsi membentak.


"Jangan mendekat!!! " Teriak Arsi ketika Mark mencoba mendekati nya.


"Apa salah gue sama loe!! kenapa loe lakuin ini sama gue!! " teriak Arsi.


Mark tidak menjawab pertanyaan Arsi, ia malah mencengkram lengang Arsi lalu mendekatkan padanya. Di tatapannya wajah Arsi yang terlihat pucat ketakutan.


Arsi tak berkedip, melihat tatapan dingin mark mengingatkan nya pada seseorang.


"Loe harus makan! " titah Mark menyeret Arsi menuju sofa.


"Gue gak mau makan! " tolak Arsi meronta.


"Gue akan kasar jika loe gak nuruti perintah gue" ancam Mark membuat nyali Arsi menciut.


Mark mengambil makanan yang di letakkan oleh penjaganya di atas nakas.


"Makan! " titah Mark memaksa, namun Arsi tak berniat membuka mulut.


"Buka!! " bentak Mark.


"Gue gak mau makan!!! gue mau keluar!!! " balas Arsi berteriak merebut piring makanan itu, lalu langsung di lempar nya ke sembarang arah.


"Kau!! " geram Mark semakin kesal.


Ceklek.


"Bos, nyonya mencari ada" ucap seorang pelayan dari depan pintu.


Mark menahan emosinya, lalu meninggalkan Arsi seorang diri.


...T E R I M A K A S I H...