
Hari yang melelahkan, Arsi mampir ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa keperluan yang ia rasa habis di dapur.
"Sebentar yah Kak, aku ke dalam dulu bentar" pamit Arsi keluar dari mobil. Masuk ke swalayan memila mila cemilan apa yang harus dia beli. Arsi juga membeli beberapa jenis mie instan. Nasi goreng toping mie instan sepertinya enak, pikir Arsi.
Bruk~
Barang belanjaan Arsi berserakan di lantai, seseorang tanpa sengaja menabraknya. Arsi langsung memunguti mie instan nya dan cemilan lainnya, kembali memasukkan ke dalam keranjang.
"Maaf saya tidak sengaja" ucap Arsi merasa bersalah. Wanita tua itu mematung menatap Arsi dengan tatapan haru. Arsi sedikit bingung melihat nya.
"Nek... " panggil Arsi menyadarkan Mina dari lamunannya.
"Cucuku sudah dewasa sekarang" batin Mina sendu. Ingin sekali ia memeluk cucu satu satunya itu, tapi rasa bersalah yang besar membuat Mina merasa tak pantas melakukannya.
"Nenek tidak apa apa? "tanya Arsi cemas.
" Tidak kok, saya tidak apa apa, permisi " kata Mina berlalu begitu saja. Ia tidak tahan berlama lama menatap Arsi. Wajahnya sangat mirip sekali dengan putranya, Mina merasa seperti melihat Davin di diri gadis muda ini.
"Lah.. malah pergi" gumam Arsi menatap Mina aneh.
"Oma Mina? " ujar Viki ketika melihat sosok Mina yang sudah lama menghilang keluar dari swalayan yang sama dengan istrinya. Viki keluar dari mobil, hatinya tidak tenang, ia langsung menyusul Arsi ke dalam.
Arsi sudah di kasir, ia kaget melihat Viki menyusulnya ke dalam, padahal dia sudah hampir selesai.
"Loh kakak kok masuk, aku udah hampir selesai" kata Arsi mengambil kartu kredit nya setelah melakukan pembayaran.
"Apa terjadi sesuatu? " tanya Viki memeriksa tubuh Arsi mencari luka atau apapun yang menyakiti Arsi.
"Ya ampun kakak.. aku hanya belanja, bukan perang" kata Arsi menggeleng, Viki terlalu lebai menurut nya.
Terdengar hembusan nafas lega dari Viki, ia benar-benar lega Mina tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Istri nya.
"Kakak kenapa sih? " tanya Arsi penasaran. Viki tak menjawab, diam dan fokus mengemudi.
"Kak.... " panggil Arsi lagi, menarik lengan Viki pelan agar Viki memperhatikan nya.
"Kakak aneh tau gak, sejak tadi aku panggil gak nyahut. Kakak melamun.? " tanya Arsi.
"Maafkan aku sayang, aku hanya banyak pikiran saja" kila Viki berbohong.
Arsi tak bertanya lagi, ia tahu jika Viki menyembunyikan sesuatu darinya. Hingga tiba di apartemen, Arsi masih saja diam. Masuk ke kamar tanpa memperdulikan Viki yang masih sibuk dengan pikiran nya.
"Arsi... " lirih Viki pelan.
Mendengar panggilan suaminya Arsi menghentikan langkahnya yang hendak menaiki tangga. Arsi menatap Viki penuh tanya.
"Apa terjadi sesuatu di swalayan? " tanya Viki pelan.
"Tidak ada, hanya tidak sengaja menubruk seseorang. " kata Arsi.
"Apa hanya itu? " tanya Viki memastikan. Arsi pun mengangguk.
"Eh bukan bukan, ada yang Aneh sama nenek nenek itu, dia seakan menahan sesuatu dan menatap dalam pada ku" jelas Arsi lagi mengingat bagaimana ekspresi Mina tadi.
"Nenek? " ulang Viki.
"Iya, ibu yang berwajah kaya nenek nenek tentu di panggil nenek" ungkap Arsi ya g masih berada di tangga kecil menuju kamar mereka.
Viki terus berpikir, lalu mengeluarkan ponselnya mencari foto mina yang selalu di simpannya. Meski mina membencinya tetap saja Viki menyimpan foto seluruh keluarga nya.
"Apa ini dia? " tanya Viki menunjukkan foto pernikahan Davin dan Sakira dulu.
"Huh bagaimana kakak punya fotonya. " kata Arsi meraih foto yang sangat mirip dengan wanita tadi.
"Jadi benar dia " gumam Viki,
...T E R I M A K A S I H...