My Cold Brother Is My Husband

My Cold Brother Is My Husband
85. Akhirnya malam pertama



Sudah pukul 9 malam, mata Arsi belum juga bisa tidur. Viki sudah mengabarkan Arsi ia akan lembur malam ini, kemungkinan akan pulang larut malam.


"Apa yang harus gue lakuin yah? " gumam Arsi berselonjor di ranjang. Tanpa sengaja Arsi menatap 2 kota kado pernikahan yang belum ia buka.


"Ini kan kado dari Meri dan Egi" kata Arsi membawa kado ke lantai, lalu membukanya satu persatu.


"Astaga!!! benda apa ini!!!! " teriak Arsi melempar daleman yang berbentuk seperti Tali.


"Gila, mana mungkin gue make ginian depan kak Viki" Gumam Arsi tak mau membayangkan gimana jadinya jika ia memakai itu.


Arsi membuka kotak kado dari Egi, tak jauh berbeda. Egi memberinya kado dress tidur, tipis setipis plastik. Arsi menerawang dress yang di berikan Egi ke lampu.


"Gila memang, sahabat sahabat gue gak ada yang punya otak" gerutu Arsi memasukkan lingerie dan dress tidur ke dalam dus, lalu menyimpan nya.


Pukul 23.30 Viki masih belum pulang, Arsi merasa gelisah. Matanya ngantuk tetapi tidak bisa tidur.


Ceklek~


Viki kaget melihat Arsi masih belum tidur, Arsi tersenyum manis menyambut sang suami.


"Lama sekali" kata Arsi mengambil tas kerja Viki lalu menyalami Viki.


"kok belum tidur? " Tanya Viki mengusap pipi gembul Arsi.


"Aku gak bisa tidur kak, padahal aku udah ngantuk banget" Kata Arsi memejamkan matanya menikmati elusan tangan Viki di pipinya.


"Udah makan? "Tanya Arsi


"Belum" Jawab Viki.


"yaudah kakak mandi dulu, nanti aku siapin makan buat kakak" Kata Arsi.


Viki pun menurut, tetapi tidak membiarkan Arsi keluar kamar untuk menyiapkan makanan untuk nya.


"Kakak tidak lapar, kamu duduk di sini, kakak mandi dulu" Kata Viki.


"baiklah "


10 menit Viki habiskan waktu membersihkan diri, memakai pakaian yang sudah di siapkan Arsi.


"Kakak yakin gak mau makan? " Tanya Arsi kurang yakin, suaminya belum makan malam.


"sudah larut, mending kita tidur. Sebentar lagi juga subuh" Jawab Viki, menuntun Arsi menaiki ranjang, lalu tidur bersama dengan menyelimuti tubuhnya dan juga Arsi.


Viki dan Arsi tidur saling berhadapan dengan Arsi memeluk Viki dari depan. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Viki.


Deg deg deg


Arsi tersenyum mendengar detak jantung Viki yang terdengar jelas di telinganya.


Viki bergerak tidak nyaman, ia benai gelisah. Pergerakan nya membuat dada Arsi bergesekan dengan dada bidangnya.


Sangat jelas, Viki merasakan kenyal buah dada Arsi yang Viki yakin tidak memakai Bra. Tanpa Arsi sadari dirinya sudah menggoda Viki.


"Yaampun, ni adek gue sengaja atau gimana sih? " Pikir Viki.


"Kak Viki gak bisa tidur? " Tanya Arsi polos, ia merasa Viki terlalu gelisah.


"Huh... Kami nakal" Kata Viki, Arsi mengerut bingung, ia menengadah menatap wajah Viki.


"Aku nakal apa? " Tanya Arsi bingung.


"Kamu sengaja goda kakak? " Kata Viki penuh selidik.


Mereka kembali berpelukan erat, diam tanpa ada yang bersuara. Terdnlengar hanya detak jantung Viki dan dsruh nafas Arsi seola olah bersahutan.


"Dek.. " Panggil Viki lirih.


"Hmm" Sahut Arsi menggesek pipinya pada dada bidang Viki, membuat sensasi yang luar biasa bagi Viki. Pergerakan yang Arsi lakukan memberi pengaruh di diri Viki.


"Kakak mau.... "


"Aku takut" Potong Arsi cepat.


"Ha?? " Viki kehabisan kata kata, ia tak tahu harus bagaimana. Adik kecilnya sudah meronta ronta mencari sarang. Posisi mereka saat ini benar-benar menggoda iman. Adik kecil Viki tepat berada di depan pintu sarangnya sendiri, setiap Arsi bergerak, maka adik kecil Viki bergesekan dengan sarangnya.


"Kak.. Kok ada yang ngeganjel yah. Berdenyut pula tu" Kata Arsi bingung, ia semakin menggerakkan pinggulnya karena penasaran dengan yang dibawah, semakin di gerakkan semakin terasa membesar.


"Ah.. "Lenguh Viki memejamkan matanya menikmati sensasi yang Arsi ciptakan.


" Kakak, mendssmmppp... "Viki tak tahan lagi, ia langsung membekap mulut Arsi dengan bibirnya. Arsi yang syok tidak memberi perlawanan. Viki bergerak terus di bibir Arsi, posisi sekarang telah berubah, sekali dorong Viki sudah berada di atas tubuh Arsi.


Panas, semakin panas. Arsi merasa tubuhnya semakin panas karena ulah Viki. Tanpa di sadari Arsi mulai terlena, bibir Arsi ikut membalas perlakuan Viki. Keduanya terbuai akan cuman yang semakin terasa memanas.


Entah siapa yang memulai, kini Arsi dan Viki sudah tidak mengenakan apa apalagi. Bermandikan keringat di balik selimut yang menutupi tubuh keduanya.


" Kak... "Lirih Arsi.


Viki yang berada di atas Arsi menatap mata Arsi tulus, terlihat sangat jelas ada cinta di mata Viki.


" Tahan sedikit, mungkin ini akan sakit" Kata Viki meyakinkan Arsi.


"Aku... Takut"


"Tidak apa apa, aku akan selalu menjaga mu, istri ku" Kata Viki mengecup kening, turun ke mata, lalu ke bibir Arsi.


"Aku akan pelan pelan " Bisik Viki sembari melancarkan kegiatan nya. Arsi tampak menahan nafasnya ketika adik kecil Viki mulai membela tubuh Arsi di bawah sana.


"Aku mencintai mu" Ungkap Viki mengecup Arsi ketika mata Arsi mulai berkaca-kaca menahan sakit yang teramat di bawah sana. Viki melakukan sesuatu yang membuat Arsi terlena dan melupakan rasa sakit dibawa sana dengan mengecup, membelai dan memanjakan gunung kembar yang berdiri menantang dengan lingkaran coklat dan ujung merah muda.


"aku mencintai mu" Ungkap Viki di sela sela aksinya.


Bless~ adik kecil berhasil masuk, Arsi menggigit bibir nya menahan rasa sakit dan sensasi yang luar biasa bercampur aduk. Tubuhnya terasa sangat sesak, ada dorongan yang membuat Arsi perlahan menggerakan pinggulnya.


Setelah mendiamkan beberapa saat, Viki mulai menggoyangkan adik kecilnya berirama. Pelan, sedang dan semakin cepat. Seperti itu pula desahan demi desahan keluar dari bibir Arsi.


"Aku gak tahan kak... "Lenguh Arsi mencengkram rambut dan punggung Viki yang terus bergerak di atasnya.


" Sabar sayang, kakak juga gak tahan"sahut Viki.


Tubuh Arsi menenggang ketika dirinya merasakan puncak dari pelepasannya, begitu juga dengan Viki yang terkulai lemas di atas tubuh Arsi. Keduanya tersenyum, Arsi merasa menjadi seorang istri seutuhnya, dan Viki merasa bahagia karena sudah memiliki Arsi seutuhnya.


"I love you" Bisik Viki mengecup daun telinga Arsi lembut, lalu menggeser tubuhnya ke samping agar tidak memberatkan Arsi yang merasa sangat lemas sekaya, menjawab ucapan Viki saja rasanya Arsi tak bisa.


Viki masih di dalam Arsi, ia sengaja tidak mau mengeluarkan nya karena merasa nyaman dan hangat.


"Kak... Gak enak ih" Protes Arsi.


"Bentaran doang, enak banget" Lenguh Viki memeluk Arsi semakin erat. Arsi sangat lemes, ia tak memprotes lagi, bukan tidak nyaman, tapi Arsi merasa ada yang mengganjal di bawah sana.


Mereka kembali saling menautkan bibir lalu berpelukan erat dengan tubuh polos yang tertutup selimut tebal.


mohon maaf kurang feel😅aku gak terlalu bisa di bagian ini. gak ada pengalaman sedikit pun😅. ini aku buat pengalaman dari novel novel yang sering aku baca aja. maaf yeee😅


...T E R I M A K A S I H...