
Posisi yang sama, Arsi tidur dengan posisi memeluk Viki dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Viki.
Sudah pukul 7 pagi, kedua anak manusia itu masih sibuk dengan dunia mimpi masing-masing.
Suster yang datang ingin memeriksa kondisi Arsi kaget melihat pemandangan itu. Suster kembali keluar dari ruangan Arsi, kemudian memilih menunggu di luar hingga mereka bangun nanti.
"Loh Sus, kenapa berdiri di sini? " tanya Sakura bingung.
"Itu bu... saya... " jawab suster itu ragu.
"Ada apa? " tanya Davin penasaran langsung melesat masuk ke dalam ruang rawat Arsi.
"Astaga!! pantesan.... " ucap Davin tak percaya.
"Kenapa pa? " tanya Sakira menyusul suaminya bersama suster tersebut, namun suster itu menunduk tak berani melihat pemandangan itu.
"Engggg..... " lenguh Arsi menggeliat mengeratkan pelukan pada Viki, begitu juga dengan Viki.
Kening Arsi mengerut, kesadaran nya mulai kembali. "Kok keras yah" batin Arsi.
Perlahan mata Arsi terbuka, pemandangan yang pertama kali di lihatnya adalah wajah tampan Viki.
"1" Davin mulai menghitung menunggu reaksi Arsi selanjutnya.
"2"
"3"
"Akhhhh!!!!!!! " teriak Arsi.
Brak!!!
"Auuw" Ringis Viki mengusap bokongnya.
"Loe apa apaan sih, sakit tahu" gerutunya Viki.
"Hahaha... Rasain tu" ledek Davin.
Sementara Sakira berkacak pinggang menatap keduanya.
"Kok loe bisa tidur deket gue sih" gerutu Arsi.
"Pikir aja ndiri" jawab Viki ketus, di pungut nya jas kerjanya yang ikut terjatuh dengan tadi.
"Mama bawa baju untuk kamu" ucap Sakira menunjuk tas kecil tempat pakaian Viki dan Arsi yang sengaja Sakira persiapkan, karena hari ini Arsi sudah di perbolehkan pulang.
"Sus silakan periksa kondisi anak saya" ujar Sakira pada Suster yang masih setia menunduk.
"Iya bu" jawab suster itu lalu segera memeriksa tubuh Arsi.
"Bagaimana Sus? apa Arsi semakin membaik dan di perbolehkan pulang? " tanya Sakira penasaran.
"Kondisi nona Arsi semakin membaik, lukanya sudah mengering. Jadi nona Arsi sudah bisa pulang dan menjalani rawat jalan untuk memantau kondisi lukanya" jelas suster itu panjang lebar, kemudian pamit undur diri.
"Ma, Arsi udah boleh pulang? " tanya Arsi berbinar.
"Iya sayang, kamu udah boleh pulang" jawab Davin.
"Yang di tanya mama loh" sendiri Sakira.
"Yah kan gak apapa ma, sama aja" jawab Davin.
"Tetap aja, harus mama yang jawab" bantah Sakira tak Terima.
"Aduh... udah tua, masih aja kaya anak kecil" sanggah Viki yang baru saja keluar dari toilet.
"Iri bilang bos... " balas Davin.
"Ih apaan, mana mungkin aku Iri" balas Viki jengah.
Arsi memutar matanya bosan dengan tingkah keluarganya yang tak tahu entah bagaimana. Kadang tingkah mereka seperti anak kecil dan kadang seperti ya.. sudahlah sejak awal keluarga mereka memang aneh dan rumit.
Sekarang Arsi sudah siap untuk pulang, tinggal menunggu Viki mengurus Administrasi nya saja.
"Lama banget yah ma tu bocah" gerutu Arsi sudah tak sabar ingin pulang. Arsi sudah bosan menghirup aroma obat obatan di rumah sakit.
"Sabar sayang, mengurus itu juga butuh proses" jawab Sakira mengusap pipi Arsi lembut.
FLASHBACK ON.
Sakira dan Davin berjalan menuju ruang tunggu, tiba-tiba seseorang datang dan menariknya keluar dari ruangan itu.
"Apa apaan ini!!! lepaskan saya!!! " bentak Davin.
"Pa, siapa mereka? " tanya Sakira khawatir. Mereka berusaha melepaskan cekatan dan seretan tangan pria berbadan besar ini.
Davin memberontak, namun datang dua orang lagi untuk memaksa Sakira, dan Davin agar ikut bersama mereka.
"Siapa kalian? " tanya Sakira, namun tak ada satupun dari mereka menjawab pertanyaan Sakira. Hingga akhirnya Sakira dan Davin k dibawa keluar dari bandara dan langsung di seret masuk ke dalam mobil.
"Lepas!!! kami harus pergi!! " bentak Sakira.
"Kalian tidak boleh pergi kesana! " ucap seseorang yang duduk di depan Sakira dan Davin. Ternyata ada seorang wanita yang sudah duduk di dalam mobil ini.
Davin dan Sakira mengerut ketika lampu mobil tiba-tiba hidup dan menampilkan seorang wanita yang sedikit lebih tua dari Sakira.
"Siapa kau? dan ada urusan apa dengan kami? " tanya Davin memeluk istri nya.
"Kalian tidak perlu banyak bicara, 1 jam lagi kalian akan tahu jawabannya" ucap wanita itu misterius. Sungguh irit bicara, setelah mengucapkan hal itu tak ada lagi kata kata keluar dari mulut wanita yang tidak di kenal oleh Davin maupun Sakira. Wanita itu mengenakan Masker dan juga topi, sehingga tak bisa di lihat dengan jelas wajahnya.
1 jam berlalu, wanita yang ber masker itu memberikan ponselnya pada Davin dan Sakira.
"Apa ini? " tanya Sakira.
"Lihat saja" jawab Wanita itu.
"Apa??? pesawat itu jatuh? " ucap Davin tak percaya, ia menatap layar ponsel bergantian dengan wanita yang kini perlahan membuka maskernya.
"Sumi?? " ucap Sakira tak percaya.
"Iya, ini aku" sahut Sumi tersenyum.
"Bagaimana bisa? " tanya Davin tak habis pikir, semua ini karena kebetulan atau memang sudah di rencanakan.
"Semua ini sudah di rencanakan oleh Lalisa" tutur Sumi.
"Lalisa? " ulang Sakira, ia tidak mengenal siapa Lalisa itu.
"Lalisa adalah wanita jahat yang melakukan apapun untuk menghancurkan musuh" jelas Davin.
"Lalu mengapa wanita itu ingin menghancurkan kluarga kita? " tanya Sakira tak mengerti.
"Karena Viki, dan ingin memancing ku agar keluar. " jawab Sumi sebelum Davin mencoba menjelaskan pada Istrinya.
"Apa lagi ini?? kenapa semua nya ingin menghancurkan keluarga ku?? kami tidak pernah menjahati mereka" tutur Sakira sedih, ia bingung dengan nasib keluarga nya semakin tak aman.
"Maaf, karena aku kalian jadi ikut menjadi sasaran" sesal Sumi.
Melihat raut kesedihan pada Sumi membuat Sakira menjadi merasa bersalah.
"Maafkan aku, bukan maksud ku menyalahkan mu. " ucap Sakira.
"Kau sudah berusaha menyelamatkan kami, dan aku akan membantu mu untuk membasmi lalisa" ucap Davin meyakinkan Sumi.
"Tidak, aku akan menyelesaikan semuanya. Tapi aku butuh bantuan kalian " ucap Sumi. Sakira dan Davin saling pandang, kemudian mengangguk.
"Apa yang bisa kami bantu? " tanya Sakira.
"Biarkan semuanya tampak nyata, dan membenarkan berita itu. Biarkan semua nya berjalan seperti skenario Lalisa" jelas Sumi.
"Maksud kami? kami harus menghilang? " tanya Sakira memastikan.
"Aku ingin melihat, apa yang sebenarnya Lalisa inginkan. Jika mereka tahu kalian tidak ikut pesawat itu, maka Akan sulit bagiku untuk memburunya dan menyelamatkan putraku" jawab Sumi panjang lebar.
"Putra?? maksud apa? "
"Sebelum aku menitipkan Viki pada kalian waktu itu, Lalisa sudah mengambil salah satu putraku. Dan sekarang putra ku di jadikan alat untuk Lalisa membalas dendam. " jelas Sumi panjang lebar.
"Baiklah, kami akan ikut alur mu" jawab Sakira dan Davin mengangguk setuju.
FLASHBACK OFF