My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 99 : Berjuang Lolos dari Maut



Alma langsung menandatangani berkas yang diberikan kepadanya, tanpa membaca terlebih dahulu isi berkas itu.


Bukan apa, saat ini kesehatan dan keselamatan Akio adalah yang paling penting. Biaya rumah sakit yang sangat besar tak menjadi masalah untuk Alma. Karena kekayaan Akio yang semakin hari semakin bertambah. Membayar biaya operasi hingga ratusan juta bukan hal yang sulit.


Namun saat Alma kembali ke IGD, Feni langsung memberi tahunya jika Akio dibawa keruang operasi untuk langsung dilakukan tindakan.


Alma pun mengajak Feni ke ruang operasi, di depan ruang operasi sudah ada dua anggota kepolisian yang berjaga di sana.


" Maaf apa ada keluarga pasien disini?", tiba-tiba salah satu dokter keluar dari ruang operasi dengan tergesa.


" Saya Dok, saya keluarganya", jawab Alma dengan gemetar.


" Maaf Nona, sebenarnya ada sesuatu yang janggal dari tubuh tuan Akio, apa nona tidak keberatan untuk masuk kedalam ruang operasi, ini sedikit privasi".


Alma menurut dan ikut masuk ke ruang operasi, meminta Feni agar duduk dan menunggunya.


Feni menurut, dan duduk di kursi yang ada di depan ruang operasi, tidak lupa Feni mengabari keluarganya jika dirinya sedang menanti Alma di rumah sakit.


Benar saja, ibunya sedang khawatir karena Feni tak kunjung pulang, pasalnya sudah sejak pagi Feni pergi dari rumah, dan saat ini hari sudah senja, matahari perlahan menyembunyikan diri di ufuk barat.


Di dalam ruang operasi ada beberapa dokter berdiri mengelilingi Akio yang tengah terbujur lemah diatas brangkar pasien. Alma terlebih dahulu memakai masker dan baju steril untuk masuk keruang operasi.


" Ini keluarga pasien Dok", ucap dokter muda yang tadi meminta Alma untuk masuk.


" Saya istrinya", jawab Alma singkat.


" Kami sudah mengeluarkan peluru dari dalam perut suami Anda, dan sudah mensterilkan organ sekitar yang terkena timah panas itu, untung saja tidak mengenai organ vital sehingga masih bisa tertolong".


" Tapi maaf Nona, sebenarnya kami sedang bingung dengan golongan darah suami Anda, dia sebelumnya tidak pernah check up kesehatan, sehingga kami menguji sampel darahnya di laboratorium rumah sakit. Tapi partikel yang kami temukan berbeda dari darah manusia pada umumnya".


" Suami anda kehabisan banyak darah, dan dia butuh transfusi darah dengan jenis yang sama, tapi tidak ada darah yang sama di bank darah manapun".


" Sungguh selama 15 tahun saya menjadi seorang dokter bedah, baru kali ini ada kasus seperti ini. Apa nona mengenal keluarga pasien?, siapa tahu ada yang memiliki jenis darah yang sama dengan Tuan Akio".


Pikiran Alma langsung tertuju pada para alien yang tadi membuat kekacauan di mol, mungkin salah satu dari mereka ada yang memiliki jenis darah yang sama dengan Akio.


" Saya tidak tahu Dok, tapi mungkin dari salah satu komplotan yang tadi membuat onar di mol, ada salah satu dari mereka yang memiliki jenis darah yang sama. Karena setahu saya, mereka berasal dari daerah yang sama".


" Tapi itu akan memakan cukup banyak waktu jika harus mengecek mereka semua. Apalagi mereka berada di tahanan yang jaraknya cukup jauh dari sini. Sedangkan keadaan Tuan Akio sudah semakin kritis".


Alma semakin bingung dan kalut. Dia butuh bantuan, tapi pada siapa dia harus minta bantuan.


" Mungkin lebih baik sekarang saya bawa salah satu sepupunya, mungkin dia memiliki darah yang cocok". Alma langsung melepas masker dan baju sterilnya, keluar dari ruang operasi dan langsung menemui dua anggota kepolisian yang berjaga di depan.


" Pak, saya minta tolong ingin menghubungi kantor polisi tempat para pembuat kerusuhan tadi ditahan, suami saya butuh transfusi darah secepatnya, dan disana ada saudara suami saya yang mungkin bisa membantu". Alma memohon pada kedua polisi itu.


" Mba yang tenang, biar kami hubungi markas".


Tak lama kemudian si polisi menanyakan siapa nama saudara pasien.


" Steven ", jawab Alma. Dengan harapan makhluk Mesier memiliki tipe darah yang sama semua. Tidak seperti darah manusia yang golongan darahnya bermacam-macam.


Setelah menyampaikan nama saudara pasien, pak polisi menutup teleponnya.


" Mba yang tenang, sebentar lagi saudara pasien akan segera sampai".


Alma mengangguk mengerti, tapi tetap tidak bisa tenang. Sambil menunggu dan mondar mandir selama 15 menit di depan pintu ruang operasi.


" Kak Steven, tolong bantu Akio untuk sembuh, aku mohon Kak Steven mau mendonorkan darah kakak buat Akio", Alma langsung memohon sambil menggenggam kedua tangan Steven, saat Steven baru saja sampai di depan ruang operasi.


Di mata Alma, Steven sebenarnya alien yang baik, hanya saja dia salah pergaulan. Dia bertemu dengan alien-alien lain yang berhati jahat. Hingga dia terbawa jahat seperti teman-temannya.


Steven nampak berpikir sejenak, Steven marah pada Akio yang ikut campur urusan dia dan teman-temannya, dan tadi gara-gara Akio mengajak temannya berdiskusi, membuat mereka tidak fokus dan polisi berhasil menangkap dirinya dan teman-temannya.


Di sisi lain Steven tahu jika Akio berhati baik, dan dia terluka akibat adu senjata yang tadi terjadi antara komplotannya dan juga para polisi dan TNI. Ada sedikit rasa iba saat mendengar tangis Alma yang memohon-mohon kepadanya.


" Maaf keluarga pasien, keadaan Tuan Akio semakin kritis dan denyut nadinya semakin melemah", dokter muda kembali keluar memberi tahu keadaan Akio terkini.


Alma semakin kalut dan menangis sejadi-jadinya, Alma bersujud memohon pada Steven agar menyelamatkan nyawa Akio.


Feni dan dua polisi yang melihat aksi Alma ikut terharu dan terenyuh, dan turut memohon pada Steven.


" Aku mohon Kak, untuk kali ini saja, tolong selamatkan nyawa Akio", Feni padahal baru pernah bertemu dengan Steven, tapi dipertemuan pertama mereka Feni bahkan harus bersujud dan ikut memohon.


" Baiklah Dok, bawa saya masuk, mungkin darah saya sama dengan Akio". Steven akhirnya luluh dengan permohonan Alma dan yang lain.


Alma ikut masuk ke dalam ruang operasi, dan meminta pada polisi agar membuka borgol Steven terlebih dahulu. Alma yang menjadi jaminan, dan memastikan jika Steven tidak akan kabur lagi.


Steven merebahkan diri di brangkar yang ada di samping Akio. Dokter mengambil sedikit sample darahnya dan melakukan pengecekan secara cepat di lab, beruntung struktur darah mereka ternyata sama.


Transfusi darah dilakukan secara langsung dari tubuh Steven mengalir ke tubuh Akio. Karena Akio cukup banyak kehilangan darah, maka darah yang diambil dari Steven pun cukup banyak, hingga 30 menit baru dokter menghentikan transfusi itu.


Steven sudah kehilangan banyak darah untuk di transfusi ke Akio. Dia tampak pucat dan lemah. Meski darah untuk Akio belum cukup, namun dokter tidak mau ambil resiko jika sampai si pendonor justru kehabisan darahnya.


" Terimakasih banyak Tuan, karena anda nyawa pasien bisa tertolong. Tapi kalau boleh tahu, dari daerah mana kalian berasal?, apa benar yang di beritakan di hot news jika kalian adalah alien yang datang dari planet lain?". Dokter senior melepas sarung tangannya setelah tindakan transfusi selesai.


Sambil mengajak Steven mengobrol, agar tidak kehilangan kesadaran setelah darahnya diambil cukup banyak.


Namun Steven tetap bungkam dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dokter tersebut.


" Kalau sudah, apa saya boleh keluar dari ruangan ini?", Steven tidak tahan lama-lama melihat Akio yang masih tergeletak lemah dan belum sadar di sampingnya.


" Tentu saja boleh, tapi jangan langsung pulang, anda bisa pingsan di jalan, duduk di depan dulu beberapa menit", saran dokter sebelum Steven keluar ruang operasi.


Steven duduk di kursi yang ada di depan ruang Operasi, sorang suster membawakan makanan dan susu untuk Steven, dan menyuruh agar segera di habiskan, agar tidak terasa lemas lagi. Steven pun menurut dan langsung memakan makanan itu dan meminum susu hingga tak tersisa.


Selain lelah setelah transfusi darah, Steven juga memang sedang lapar karena belum sempat makan apapun selama beberapa hari.


Selesai Steven makan, Feni menghampirinya, " Terimakasih banyak untuk bantuannya, meski baru pertama kali kita bertemu, tapi aku tahu kamu sebenarnya adalah orang yang baik...", ucapan Feni terhenti ketika pintu ruang operasi terbuka dan Alma mendorong brangkar bersama dua orang perawat, dimana ada Akio terbaring lemah diatasnya.


" Mau dibawa kemana?", Feni langsung berdiri dan bertanya pada Alma.


" Ke ruang rawat inap, kondisinya sudah mulai stabil".


Alma beralih menghampiri Steven.


" Terimakasih banyak kak Steven, bagaimana pun caranya setelah Akio sembuh, aku akan memintanya membebaskan kakak dari penjara, karena semua tahu, kakak adalah orang baik".


Dua polisi yang datang bersama Steven kembali memasang borgol di tangan Steven. Dan membawanya kembali masuk ke mobil patroli. Untuk di bawa ke tahanan kembali.


Alma kembali mengikuti dua perawat yang membawa Akio ke kamar rawat inap. Feni pun turut mengikuti di belakangnya.