My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 47 : Kerinduan



Pulang dari rumah sakit Alma benar-benar beristirahat penuh, Akio lagi-lagi begitu memanjakannya. Alma hanya di perbolehkan berada di sekitaran rumah saja.


Namun karena luas dan besarnya rumah Akio, hal itu tidak membuatnya merasa bosan. Alma juga belum memasuki semua ruangan di rumah itu. Rumah dengan dua lantai yang sangat luas.


Alma memilih untuk naik ke lantai dua, dimana ada ruang kerja yang menyatu dengan perpustakaan. Ruangan yang dulu pernah dimasukinya saat awal datang ke rumah Akio.


Akio mengikuti kemana istri kecilnya itu pergi. Meski Alma sudah merasa baikan dan sehat, namun Akio terus mengekor kemanapun Alma pergi, karena masih khawatir dengan keadaan Alma.


" Aku mau baca-baca buku, rasanya bosen dirumah nggak ada kerjaan", ucap Alma sambil mengambil buku ilmu pengetahuan umum yang ada di rak paling bawah.


Sedangkan Akio memilih duduk di sofa perpustakaan, karena semua buku yang ada di perpustakaan nya sudah di bacanya semua.


Waktu selama 8 tahun bersembunyi dari masyarakat luas dihabiskannya mempelajari tentang kehidupan bumi, tentang ilmu pengetahuan yang ada di bumi. Itulah mengapa tidak mengherankan jika saat ini dirinya bisa secerdas Alma dan berhasil menjadi juara olimpiade sains Nasional


Meski sibuk dengan ponselnya, Akio bukan sedang bermain game online ataupun membuka sosmed. Karena yang sedang di perhatikan nya saat ini adalah sebuah laporan keuangan dari yayasan miliknya.


Ternyata memiliki sebuah yayasan besar yang menaungi beberapa bidang membuatnya harus mengecek begitu banyak laporan.


Yayasan Karya Bangsa menjadi sebuah yayasan yang semakin besar dan memiliki jaringan yang luas. Karena bukan hanya menanungi SMA Pelita Jaya saja, ada SD, SMP, juga PAUD dan TK yang kesemuanya merupakan sekolah dengan prestasi yang bisa dibanggakan. Sehingga menjadi sekolah-sekolah favorit di daerah tersebut.


Karena itulah, banyak orang tua ataupun wali murid dengan kemampuan finansial tinggi yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang ada di bawah naungan Yayasan Karya Bangsa.


" Besok aku berangkat ke sekolah ya A...?", Alma yang sudah mengambil buku langsung mendudukkan diri tepat di samping Akio yang masih fokus pada ponselnya.


" Apa benar-benar sudah sehat?, kamu masih kelihatan pucet". Akio meletakkan ponselnya di meja, dan menatap Alma yang juga meletakkan buku yang sedang di pegang nya.


" Aku sudah beneran sehat, lagian besok kamu juga ke sekolah, kalau aku di rumah sendiri pasti bakalan bosen banget, nggak ada temen".


" Kita kan juga harus ikut kelas tambahan untuk bekal tanding di Almaty".


" Kalau aku terlalu lama bolos, dan nggak berangkat, nanti malah bisa jadi lupa dengan semua ilmu pelajaran yang sudah masuk, hehehe", Alma terkekeh dengan ucapannya sendiri. Bagaimana bisa lupa dengan ilmu pelajaran, jika saat tidak berangkat sekolah saja dia masih terus membaca materi pelajaran di manapun berada.


" Oke, kalau begitu, besok kamu boleh sekolah. Tapi jangan kecapekan ya, aku nggak mau kamu sakit lagi". Akio mengelus rambut Alma, kemudian mengecup keningnya.


" Makasih ya A.... sudah ijinkan aku berangkat sekolah besok". Alma langsung memeluk tubuh Akio dengan erat saking senangnya. Akio pun sontak membulatkan matanya. Karena bisa merasakan dada Alma yang menempel pada lengan tangannya.


" Jangan mancing-mancing begitu dong sayang, kamu kan tahu juniorku ini sensitif banget, kalau bersentuhan sama kamu".


" Aku takut khilaf dan memaksamu melayaniku, padahal belum diperbolehkan".


Alma meringis dan melepaskan pelukannya dari tubuh Akio, " maaf maaf... aku tadi merasa seneng banget kamu bolehin berangkat sekolah besok, jadi itu reaksi alami tubuhku".


" Nggak lagi-lagi deh nempel-nempel kayak tadi".


" Kenapa?, kok liatin aku nya begitu. Beneran pelukanku sudsh bangunin junior kamu ya?, aduuuh, aku minta maaf, aku bener-bener nggak sengaja hmpfh......".


Akio langsung menyatukan bibir mereka, rasa rindu yang begitu besar karena sudah cukup lama menahan untuk tidak menyentuhnya. Namun Alma terus saja bicara dengan bibir seksi yang terus Alma gerakkan dan seolah memanggil-manggil bibirnya untuk segera menyatukan diri.


Satu tangan Akio menarik tengkuk Alma, sedangkan tangan satunya lagi menggenggam tangan kanan Alma dengan begitu erat.


Sedangkan bibir mereka terus saling memagut dan menghisap satu sama lain.


Akio melepas genggaman tangannya, dan kini mulai menelusup kan tangannya ke dalam baju Alma, menyentuh dengan sedikit meremas dua bukit kembar yang ada di dada Alma.


Dua bukit kembar yang terasa semakin terasa padat berisi. Membuat Akio semakin semangat meremasnya, membuat Alma harus menggeliat karena respon tubuhnya yang kian memanas.


Sebenarnya Alma juga sangat merindukan sentuhan seperti ini. Namun dia juga sama seperti Akio, harus menahan diri karena takut tidak bisa menahan untuk meneruskan percintaan mereka hingga melakukan penyatuan, karena Alma belum boleh melakukan hubungan badan selama 40 hari.


Alma melepas ciumannya, " sudah cukup A...., aku takut kita akan semakin jauh. Tahan dulu ya, sampai aku benar-benar sembuh".


" Maaf karena sudah membangunkan juniormu, tapi tidak bisa menuntaskannya hingga selesai". Alma berdiri dan keluar dari ruang perpustakaan, sambilmembawa buku yang tadi diletakkan dimeja.


Akio hanya bisa menghembuskan nafas panjang. " Kenapa selalu dan selalu seperti ini jika berada di sekitar Alma. Aku seperti seorang laki-laki yang sangat mesum, meski sebenarnya hanya saat bersama Alma sajalah aku menjadi begitu sensitif dan mudah turn on". Akio masuk ke kamar mandi yang ada di lantai dua, untuk menuntaskan sendiri hasratnya yang sudah tak terbendung.


***


Kamis pagi Alma masuk sekolah, namun sikap Akio seperti halnya di rumah, di sekolah pun Akio terus mengekorinya. Dimana ada Alma, disitu juga ada Akio, kecuali saat ke kamar mandi, baru lah Akio berdiri dan menunggunya di luar.


" Pacar kamu posesif banget sih Al, kemana-mana diikutin. Apa dia nggak punya kerjaan lain yang lebih penting?". Feni yang bertemu Alma di kamar mandi langsung protes, karena dirinya begitu merindukan Alma, namun sejak Pagi Akio tidak memberinya ruang dan kesempatan untuk bisa ngobrol berdua bersama Alma.


" Mungkin baginya Alma itu yang paling penting Fen, makanya dia terus saja ngikutin, Alma kan baru pulang opname, mungkin Akio masih khawatir dengan kesehatannya. Wah....jadi ngiri pengen punya cowok macam Akio juga, yang super perhatian, super ganteng, super pinter dan super setia", ujar Wulan teman sekelas mereka.


" Wah kalau begitu Akio itu sudah jadi makhluk super dong di pikiranmu?", gumam Feni yang setuju dengan penilaian Wulan.


" Kalian ada-ada saja. Aku duluan keluar ya, mau ke ruang guru buat menghadap Pak Bayu, tadi di suruh menghadap beliau", ucap Alma sambil mencuci tangan di wastafel, kemudian mengelap tangannya sambil keluar dari kamar mandi.


" Lama banget di dalam", Akio yang ternyata juga masuk ke dalam kamar mandi khusus cowok, dan kembali berdiri di depan kamar mandi khusus cewek cukup lama, sempat mengira Alma kenapa-kenapa di dalam kamar mandi, karena tidak kunjung keluar-keluar. Namun saat Akio memutuskan untuk masuk mengecek Alma, ternyata Alma nya keluar.


" Maaf, masih agak susah dan sedikit pedih pipisnya, jadi lama", ucap Alma sambil berbisik, mencari alasan yang tepat agar Akio tidak banyak bertanya.


" Kita ke ruang guru dulu ya, ketemu Pak Bayu, baru habis itu kita ke kantin buat makan siang". Akio mengangguk setuju, sambil berjalan mengikuti Alma.


Alma dan Akio tidak menyadari jika sejak tadi ada beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka, memperhatikan tingkah laku mereka berdua seperti seorang paparazi.