
Lidia POV
Entah dorongan dari mana aku mengikuti langkah Akio keluar hotel, mungkin karena rasa penasaran yang tidak bisa kubendung, membuat hati dan pikiranku tidak sinkron.
Pikiranku memerintah untuk kembali ke kamar dan istirahat, namun hatiku berkata lain, terus saja menyuruhku untuk mengikuti Akio ke luar. Oh tidak.... aku harus fokus belajar untuk persiapan tanding, dan besok kelas tambahan mulai pagi-pagi sekali, seperti jam masuk sekolah, dan aku tidak bisa mengendalikan diri. Sungguh hal diluar kendali ku.
" Mau kemana Lid?", aku mendengar suara Banu, dia peserta dari Bandung, kamarnya berada di depan kamarku, tepatnya di samping kamar Alma. Aku baru mengenalnya siang tadi.
" Eh, cuma mau cari angin, sepertinya jalan-jalan ke luar malam hari bisa bikin pikiran lebih fresh, kamu sudah selesai makan malam nya?", Aku menghentikan langkahku agar Banu tidak menaruh curiga padaku, jangan sampai Banu tahu jika sebenarnya aku hendak mengikuti Akio.
" Lid, lo tau nggak cewek yang kamarnya disebelah kamar gue? yang tadi duduk di samping elo, siapa namanya?", Banu ternyata memanggilku hanya untuk menanyakan tentang Alma.
" Namanya Alma, kalau mau kenalan, di deketin dong, jangan ngelihatin mulu, keburu anaknya balik ke kamar, ya udah, aku keluar dulu ya", aku langsung meninggalkan Banu dan mempercepat langkahku.
Aku harus buru-buru keluar hotel, untuk mencari Akio, bahkan sekarang aku sudah kehilangan jejaknya, kemana Akio pergi?. Ku telusuri jalanan menuju pantai, sama seperti sore tadi. Namun pemandangan yang kulihat kali ini sedikit mengejutkanku. Aku menemukan Akio, dan ternyata Akio sedang bersama seseorang, entah siapa dari kejauhan tidak terlalu jelas, seorang laki-laki yang wajahnya terlihat lebih dewasa dari umuran kita, seumuran anak kuliahan. Mungkin saudara atau kenalan Akio.
Ku dekati mereka dengan sembunyi- sembunyi, dan dapat ku dengar mereka tengah berbincang-bincang, namun tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan, karena suara deburan ombak dan juga jarak yang cukup jauh membuat pendengaran ku terbatas.
Aku tetap berdiri di tempat persembunyian ku, tepatnya di balik pohon kelapa yang berada tak terlalu jauh dari posisi Akio dan temannya.
Mereka mengobrol cukup lama, mungkin sekitar 30 menit mereka mengobrol, dan anehnya aku tetap berada di posisiku sambil menunggu mereka selesai bicara.
Kulihat mereka berdua saling berpelukan, namun sedikit lebih lama, seperti sebuah pelukan perpisahan yang biasa dilakukan dengan sahabat atau saudara. Setelah itu kulihat teman Akio pergi menggunakan mobilnya, dan Akio berjalan kembali menuju hotel. Dia terlihat membaca pesan di ponselnya. Aku masih tetap mengikutinya secara diam-diam. Dan saat sampai di hotel, ternyata dia langsung masuk ke kamarnya.
Cowok yang tidak neko-neko, awalnya ku kira dia keluar dari hotel karena hendak menemui kekasihnya, atau pergi ke klub yang berada di gedung sebelah hotel. Ternyata dugaan ku salah, dia hanya bertemu dengan teman laki-laki dan langsung kembali ke kamarnya. Entah mengapa ada rasa bersyukur karena ternyata Akio adalah laki-laki yang baik.
***
Akio POV
Karena merasa bosan berada di kamar hotel sendirian menunggu Alma tidak kunjung bangun dari tidur siangnya, aku memilih untuk mencari udara segar dan keluar dari hotel.
Aku duduk di tepian pantai, tepatnya di atas tumpukan batu yang dijadikan tanggul, sambil menatap matahari terbenam di ufuk barat.
Saat aku hendak kembali ke kamar ada seorang gadis yang menyapaku, dia yang bertemu dengan kami di lobi tadi siang, dia memperkenalkan diri, namanya Lidia. Sekilas dari fisiknya memang terlihat cantik, dan tentu otaknya juga pasti cerdas karena dia adalah salah satu peserta olimpiade juga sepertiku.
Aku mencoba membaca isi hatinya, ternyata dia tertarik padaku dan ingin menjadikan ku miliknya, gadis yang terlalu berani tidak seperti Alma ku, aku lebih suka gadis yang jinak-jinak merpati, seperti Alma.
Kujawab seperlunya dan kutinggalkan dia sendiri di tepian pantai aku sendiri kembali ke kamar, bukan kamarku, melainkan ke kamar Alma, entah mengapa aku ingin sekali bersama-sama terus dengan Alma, saat aku mengetuk pintu dan menyebut namaku, Alma langsung membuka pintu dan melihat situasi sekitar, menengok ke kanan dan kiri, saat itu lorong hotel sangat sepi, Alma langsung menarik ku masuk kamarnya.
Aku tahu, Alma takut jika ada peserta lain yang melihatku mengetuk pintu dan masuk kamarnya. Karena pasti akan terlihat aneh seorang teman laki-laki memasuki kamar seorang teman perempuan.
Beruntung sekali saat aku masuk kamar Alma, Alma hendak mandi karena baru saja bangun tidur, nanti akan ada makan malam bersama dengan teman-teman satu team di restoran hotel yang ada di lantai dua. Acara makan malamnya dimulai jam 7, jadi aku masih punya waktu satu setengah jam untuk berdua bersama Alma, tentu saja tidak akan ku sia-siakan waktu berharga kami ini.
Aku menahan lengan Alma saat dirinya hendak masuk ke kamar mandi, dan kupeluk tubuh Alma dari arah belakang. Seketika Alma menengok dan menatap wajahku. Dengan tatapan memohon aku membimbing Alma ke atas ranjang, tentu saja dia menurut, aku suaminya, dan sudah kewajibannya melayani ku.
Kami menghabiskan senja yang sangat indah di kamar Alma, senja yang tidak akan pernah bisa terlupakan. Dalam waktu setengah jam kami berdua bisa sampai tiga kali mencapai puncak kenikmatan. Ku puaskan batinnya dan Alma memuaskan kebutuhan batinku.
Kami berdua mandi bersama di bawah guyuran air shower yang hangat. Kamar mandi yang cukup luas membuat kami berdua bisa saling bercanda, diselingi permainan kecil yang lama kelamaan membuat hasrat kami kembali menggelora, dan kembali melakukan aktifitas panas di kamar mandi.
Setelah selesai mandi aku kembali ke kamarku untuk berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi ke acara makan malam bersama. Alma pun melakukan hal yang sama.
Saat aku keluar kamar, pintu kamar Alma masih menutup. Namun beberapa peserta lain juga keluar dari kamar mereka yang berada di sekitar kamar kami, mungkin mereka juga hendak ke acara makan malam sepertiku, karena itulah aku diam dan berdiri di depan kamarku, menelepon Alma agar dia segera keluar.
Selang beberapa saat kemudian Alma pun keluar mengenakan baju putih dan outer kuning, dengan rambut yang di kuncir kuda. Dia terlihat sangat segar dan fresh, padahal tadi sudah aku gempur berkali-kali, namun dia tidak terlihat lelah, bahkan kini wajahnya sangat berseri-seri. Istriku memang sangat cantik.
Kami pun berjalan bersama meninggalkan kamar, menuju ke restoran di lantai dua. Aku melihat seorang pemuda yang keluar dari kamar yang berada di samping kamar Alma, tepatnya kamar yang berada di depan kamar Lidia. Dia menatap Alma tanpa berkedip. Rasanya aku ingin sekali mencolok matanya dengan kedua jariku. Aku pun sengaja terus berjalan di samping Alma, aku tahu jika laki-laki itu ingin mengajak Alma berkenalan, tentu tidak akan aku beri kesempatan laki-laki lain untuk mendekati istriku.
Namun saat makan malam bersama si Lidia, gadis pemberani itu menghampiri kami, dan duduk di samping Alma, sudah ku prediksi jika kami pasti kembali bertemu. Dan akan semakin sering bertemu kedepannya. Karena kami semua yang makan malam bersama disini adalah satu team.
Aku pun pindah ke kursi lain karena merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Lidia, dia terus menatap ke arahku dan memperhatikan aku.
Entah apa yang sedang dibicarakan Lidia pada Alma, mereka berdua mengobrol saling berbisik. Aku tidak peduli sedikitpun, karena saat ini aku lebih fokus pada pria yang duduk di kursi seberang Alma, sejak tadi keluar dari kamarnya dia masih terus saja menatap Alma tanpa berkedip.
Dreeet.....
Ada panggilan masuk di ponselku, dan itu dari Steven. Kumatikan panggilannya, dan ku baca pesan yang dikirim oleh Steven. Ternyata dia sudah berada di sekitaran hotel. Steven masih kekeh ingin kembali ke planet Mesier dan meminta kami bertemu untuk yang terakhir kalinya. Aku pun mengirim pesan pada Alma agar dia kembali ke kamar lebih dulu, karena aku harus menemui Steven yang sedang menungguku di luar.
Alma menatap ku, ku tatap juga matanya. Dan ternyata begitu banyak yang ingin dia sampaikan.
" Temui lah Steven dan sampaikan kepadanya mohon maaf jika selama ini aku ada salah, bilang padanya selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan".
" Dan perlu kamu tahu, Lidia baru saja mengatakan dia menyukaimu, dia mungkin akan berusaha mendekatimu, aku sudah mengatakan jika kamu sudah punya kekasih, tapi aku belum memberi tahu siapa kekasihmu".
" Kalau begitu aku kembali ke kamar terlebih dahulu, aku tidak nyaman terus di interogasi oleh penggemarmu!".
Kulihat Alma berpamitan pada Lidia untuk kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian aku pun langsung menyudahi makan malam ku dan keluar hotel untuk menemui Steven.
Kami mengobrol tidak terlalu lama, aku hanya memastikan pada Steven apa dia benar-benar akan melakukan perjalanan luar angkasa kembali, karena hanya dengan bermodal UFO saja mungkin perjalanan akan mengalami banyak kendala. Namun sepertinya Steven sudah membuat keputusan, dan aku tidak bisa merubahnya, aku langsung menghubungi orang kepercayaan ku untuk mengantarkan Steven ke pulau milikku, karena UFO milik Steven ada disana.
Setelah menyampaikan beberapa pesan dari Alma kepada Steven, kami berdua pun akhirnya berpisah, kami saling berpelukan, dan Steven berjalan kembali memasuki mobil dan langsung melajukan mobilnya.
Kulihat ponselku, ada pesan masuk dari Alma. Alma mengatakan jika dia melihat Lidia mengikutiku, Alma memintaku untuk langsung kembali ke kamarku jika sudah sampai, karena ada si penguntit.