
Hari ini Alma terbangun lebih awal, semalam terasa begitu lelah sehingga Alma tertidur dengan sangat nyenyak. Pagi ini Alma berniat untuk jalan-jalan ke pantai bersama Akio.
Sudah beberapa kali Alma menelepon Akio untuk membangunkannya, niat hati ingin mengajaknya jalan-jalan ke pantai untuk melihat matahari terbit, namun sayang seribu sayang, Akio tidak mengangkat teleponnya. Alma sudah paham benar, jika Akio terlalu lelah pasti dia akan tidur lama, dan akan sulit dibangunkan.
Bukan salah Akio, karena semalam mereka belum janjian. Untuk menghilangkan rasa kecewa dan jenuh, Alma memutuskan untuk jalan-jalan sendiri keluar.
Usai subuh, Alma keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pantai, Alma sengaja mengenakan sweater tebal dan juga syal putih yang melingkar di lehernya. Hembusan angin di pagi hari memang cukup kencang, jadi Alma mengantisipasi agar dirinya tidak kedinginan saat sampai di tepian pantai nanti.
***
Alma POV
Jam 5 pagi aku keluar dari kamar usai subuh, suasana di lorong hotel masih sangat sepi, tapi lampu di sepanjang lorong sangat terang, jadi tidak membuatku takut untuk berjalan seorang diri.
Awalnya aku berharap bisa jalan-jalan pagi di tepi pantai bersama dengan Akio sambil menghirup udara pantai yang masih segar , namun Akio tidak kunjung bangun, meski sudah aku telepon berkali-kali. Karena itu aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri, tapi sebelum aku pergi aku mengirim pesan terlebih dahulu pada Akio, memberitahunya jika aku keluar dan jalan-jalan di pantai.
Masih ada waktu dua jam sampai acara sarapan bersama di restoran hotel dimulai, jadi aku bisa menikmati udara pantai di pagi hari cukup lama.
Di lorong hotel, saat aku sedang berjalan, aku mendengar ada bunyi langkah seseorang yang mengikuti ku. Ku putuskan untuk mempercepat langkah kakiku, karena aku sendirian dan tidak ada seorangpun yang lewat. Bahkan aku sedikit berlari, merasa takut dan menyesal karena terlalu berani keluar kamar sendirian.
Saat sudah mentok di depan pintu lift, akhirnya ku beranikan diri untuk menengok dan melihat siapa yang sepagi ini iseng mengikuti ku.
" Selamat pagi Almahyra...!".
Seulas senyuman dan ucapan selamat pagi aku dengar dari orang itu, dia ternyata Banu, salah satu peserta olimpiade yang berasal dari Bandung, kemarin dia juga mendapatkan medali emas sama sepertiku, tapi di bidang ilmu fisika.
Meski aku tidak pernah mengobrol dengannya dan berkenalan secara resmi sebelumnya, namun aku mengenalnya, selain kami sudah selama dua minggu ini sering berjumpa, kami juga masuk grup WhatsApp, dan sering ada diskusi di grup, dia pemuda yang cukup aktif dan sering berkomentar di grup.
Banu pemuda yang ramah, murah senyum, aktif dan tentu saja jenius. Tubuhnya tinggi, tapi sedikit lebih tinggi Akio, mungkin Banu setinggi telinga Akio, dan kulitnya sawo matang. Aku tidak mengetahui terlalu banyak tentang dirinya, hanya pernah membaca di grup chat jika Banu siswa kelas 11 dan dia adalah ketua OSIS sekaligus ketua tim basket di sekolahnya. Pasti dia menjadi idola di sekolahnya. Itu bukan hal yang mengherankan, karena semua yang menjadi peserta olimpiade internasional adalah murid-murid terbaik dan berprestasi.
" Pagi...", jawabku singkat, sambil kembali membalikkan badan dan menunggu pintu lift terbuka.
Aneh sekali Banu ini, kenapa tidak sejak tadi menyapaku, kan aku jadi tidak perlu merasa takut dan berjalan cepat-cepat seperti tadi. Tapi kini perlahan degup jantungku mulai teratur kembali.
" Mau pergi kemana sepagi ini ?".
" Sendirian?", tanya nya.
Ting.......
Pintu lift terbuka, aku masuk ke dalam lift, Banu mengikuti ku masuk ke dalam lift juga.
" Pengin jalan-jalan saja, cari udara segar keluar".
" Dan seperti yang kamu lihat sendirian", jawabku.
Kulihat wajahnya menyunggingkan senyuman samar.
" Aku temani ya?, aku juga berniat untuk jalan-jalan pagi mencari udara segar, kebetulan ketemu kamu, jadi ada temen ngobrol". Banu memang pandai bergaul, dia pandai merangkai kata-kata yang membuatku tak enak hati untuk menolak ajakannya.
" Boleh, cuma ke sekitaran pantai saja, siapa tahu bisa lihat matahari terbit. Meski mungkin itu hal yang sangat tipis kemungkinannya, karena pantai disini menghadap ke utara, bukan ke timur, hehehe...", aku terkekeh, karena baru ingat jika pantai di Jakarta ini menghadap ke utara, tapi masih ada kemungkinan juga bisa melihat matahari terbit di ufuk timur.
Ting.....
Pintu lift terbuka, kami berjalan keluar dari lobi hotel, Banu banyak bicara, dan dia teman yang asyik untuk diajak ngobrol, meski ini kali pertama kami ngobrol berdua. Tapi aku merasa nyambung ngobrol dengannya, sepertinya dia pandai memposisikan dirinya setiap kali ngobrol dengan orang lain.
" Cantik sekali".
" Apa?", aku mendengar Banu mengatakan cantik sekali, tapi aku tidak tahu apa yang menurutnya terlihat cantik, mungkin langit pagi yang mulai terlihat terang.
" Eh...iya, cantik sekali ciptaan Tuhan", ucap Banu melengkapi kalimatnya. Dia terlihat seperti gugup dan buru-buru membuang muka.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, mungkin benar maksudnya adalah pemandangan di tepi pantai pagi ini, memang sangat cantik.
Kami berdua berjalan hingga di tepi pantai, namun sayangnya setelah cukup lama kami menunggu sambil mengobrol, tidak nampak matahari terbit nya, tapi tak apa, aku merasa lega setelah menghirup udara segar di pagi ini.
Aku melakukan selfy beberapa kali, dan mengirim satu fotoku pada Akio, tapi masih tetap centang satu, belum dibuka, mungkin Akio masih tidur.
Pasti Akio tidak akan mungkin menyusul kemari, untung ada Banu yang nemenin, jadi nggak kaya orang ilang jalan-jalan sendirian di tepi pantai.
" Kenapa murung?, lagi nungguin telepon dari pacar ya?"
" Kamu... pasti sudah punya pacar kan Al?".
" Pasti banyak cowok yang naksir sama kamu?, nggak mungkin gadis cantik dan menarik seperti kamu masih jomblo".
Banu tiba-tiba saja membahas tentang pacar, dia cuma lagi nebak, atau nyari informasi dengan cara memancing responku. Aku hanya nyengir kuda.
" Siapa bilang aku cantik dan menarik".
" Kak Banu ini kalau mau telepon ceweknya telepon saja, pasti ceweknya sudah kangen banget ditinggal ke Jakarta selama dua minggu".
" Santai saja, aku bisa minggir sebentar biar nggak ganggu obrolan kalian".
Ku balik keadaan, saat ini kulihat Banu tertawa lepas.
" Kamu ini memang gadis yang sulit untuk ditebak, pinter banget membalikkan keadaan".
" Aku suka dengan gadis yang cantik dan pinter kaya kamu".
" Nggak gampang ketipu dan di gombalin sama cowok".
Aku hanya meringis mendengar ucapan Banu. Dia juga pinter ngeles, aku yakin dia pasti sudah punya pacar.
Jam menunjukkan pukul 6.10 pagi, tak terasa ternyata sudah cukup lama kami berada di tepi pantai.
" Balik yuk..., sebentar lagi mau sarapan pagi bersama kan?, nggak enak kalau datengnya telat, kasihan yang lain nungguin kita, padahal sudah pada laper".
Aku berjalan kembali menuju ke hotel, Banu berjalan men sejajari langkahku.
" Jadi belum punya pacar?",
Ternyata Banu masih penasaran padaku.
Ku gelengan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
" Jadi sudah ada ya, sudah aku duga sih sebelumnya", Banu terus bicara sendiri.
" Aku juga sudah ada, sama-sama anak Bandung, dia sangat mencintaiku, dan sangat bangga menjadi pacarku, semua orang hampir tahu hubungan kami, bahkan orang tua kami, mungkin mereka semua menganggap kami pasangan paling sempurna".
Kenapa Banu tiba-tiba malah curhat begini, apa sebenarnya tujuannya. Tapi demi mendengar ceritanya, aku memperlambat langkah kakiku.
Ting....
Pintu lift terbuka, tidak ada selain kami yang masuk kedalam lift.
Banu kembali melanjutkan ceritanya saat kami berdua di dalam lift.
" Dia anak pejabat di Bandung, anaknya manja dan selalu mendapatkan apa yang dia mau, tentu saja dengan kekuasaan dan kekayaan orang tuanya, dia bisa mendapatkan segalanya, termasuk mendapatkan aku".
" Awalnya aku menerimanya karena penasaran, dan juga ingin mencoba, namun sikapnya terlalu posesif, aku selalu di awasi, dan hidupku menjadi sangat terkekang".
" Aku ingin lepas darinya, namun tidak bisa, dia tidak mau berpisah denganku, apalagi orang tuanya juga mendukung hubungan kami".
" Sekarang kami masih berstatus pacaran, tapi aku tidak lagi mencintainya. Rasa penasaranku sudah terjawab, dan tidak ada rasa cinta saat bersamanya".
Ting.....
Kami sampai di lantai 7.
" Kenapa kamu ceritakan semua ini kepadaku?, apa karena aku orang asing dan setelah hari ini kita tidak akan pernah lagi bertemu, jadi kamu curhat sama aku, untuk meringankan sedikit beban di hatimu ?"
Kami berjalan menuju kamar kami. Dan saat sampai di depan pintu kamarnya Banu berdiri dan menatapku.
" Karena aku tertarik dengan kamu Alma".
" Namun sayangnya, kamu sudah ada yang memiliki, jadi biarkan rasa penasaran ini menguap dengan sendirinya".
" Benar katamu, setelah hari ini kita akan berpisah, dan entah kapan kita akan kembali bertemu, hanya Tuhan yang tahu, karena Dia lah yang Maha Mengatur segalanya".
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini, lidahku rasanya kelu mendengar kejujuran Banu. Ku langkahkan kakiku kembali menuju kamarku, tanpa mengucap sepatah katapun.
***
Author POV
Pagi hari yang cerah, sinar mentari menelusup melalui celah-celah tirai kamar. Alma berencana untuk berendam air hangat di bathtub dengan sedikit menambahkan aromaterapi kedalam air. Berharap bisa mengurangi kegundahan hatinya setelah mendengar pengakuan Banu, pemuda yang belum lama Alma kenal. Tapi dengan berani dan percaya diri mengungkapkan isi hatinya.
Dia jujur mengatakan bahwa dirinya sudah mempunyai kekasih, tapi dia juga mengatakan tertarik pada Alma, sungguh laki-laki aneh yang baru pernah Alma temui.
Ternyata berendam sebentar di bathtub kamar mandi hotel, sangat efektif membuat Alma lebih rileks, dan usai berendam, rasa gundah dalam hatinya sedikit mereda, dan kini tubuhnya jadi terasa benar-benar segar.
Alma merebahkan diri diatas kasur masih menggunakan bathrobe dengan posisi tengkurap, melihat-lihat hasil jepretan kamera HP nya tadi. Alma pun kaget, karena ada gambar Banu yang tak sengaja masuk di dalam fotonya. Alma buru-buru menghapus foto itu. Jangan sampai membuat Akio salah paham. Meski Alma tahu, tanpa bercerita pun Akio pasti akan tahu sendiri.
Alma terus menggeser layar ponselnya. Ditatapnya juga beberapa foto bersama yang diperolehnya dari grup peserta olimpiade. Foto saat dirinya memperoleh piala dan medali emas di Kazakhstan, juga foto saat dirinya, Akio dan juga Banu sama-sama mengangkat medali yang dikalungkan di leher mereka. Dan betapa kagetnya saat Alma melihat gambar Banu yang menatap ke arahnya lekat sambil tersenyum. Alma baru menyadari semuanya pagi ini.
" Semoga semua akan tetap kondusif, hingga acara perpisahan dan kami kembali ke daerah kami masing-masing", ucap Alma harap-harap cemas.