
Alma POV
Seminggu berlalu, aku harus mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kabupaten mewakili sekolahku. Masih tetap di mapel matematika. Meski nilai ku di mapel yang lain juga tinggi, namun pak kepala sekolah tidak yakin untuk mengajukan kandidat lain di mapel matematika, beliau begitu percaya padaku untuk lomba di mapel yang katanya horor itu.
Dan hari ini aku berada di SMA Budi Utomo, tempatnya tidak terlalu jauh dari SMA Pelita Jaya, hanya perlu waktu 20 menit perjalanan. Dalam mobil kami hanya berenam. Aku, empat peserta di mapel lain, dan Pak Bayu mantan wali kelasku di kelas 10 yang mengantar kami menggunakan mobil sekolah.
Kali ini aku pergi tanpa Akio, karena kali ini Akio tidak diajukan menjadi peserta lomba. Nilainya sama seperti nilai ku yang bagus di semua mapel, tapi dari pertimbangan Pak Indra, guru bahasa Indonesia sekaligus sebagai wakil kepala sekolah di Pelita Jaya, beliau merekomendasikan siswa lain dan tidak memilih Akio.
Jam 8.20, kami sampai di SMA Budi Utomo, ternyata SMA ini kebanyakan muridnya adalah laki-laki. Para siswa itu nampak sedang bercanda di depan kelas mereka, mungkin para guru tengah sibuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah lomba cerdas cermat sehingga tidak bisa mengajar di kelas. Alhasil para siswa pun bermain-main keluar kelas dan menatap takjub dengan beberapa peserta lomba yang good looking dari sekolah lain.
Aku dan dua siswi yang menjadi peserta lomba menjadi merasa tidak nyaman untuk keluar dari mobil.
" Nggak apa-apa, kan nanti bapak antar sampai ruang lomba, nggak bakalan di gangguin sama siswa sini".
Ternyata Pak Bayu paham dengan apa yang kami khawatirkan. SMA Budi Utomo memang terkenal dengan banyak muridnya yang Badung dan sering ikut tawuran antar sekolah. Dan itu membuat aku dan dua teman perempuan yang lain merasa takut untuk keluar dari mobil.
" Iya Al, kan ada aku dan Bagas juga", Ronal dan Bagas memang menjadi peserta di mapel bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Empat peserta yang lain memang dari kelas 11, hanya aku yang dari kelas 12.
Jangan ditanya bagaimana ekspresi Akio saat tahu Bagas ikut juga menjadi peserta lomba, tapi dirinya tidak. Akio awalnya mau protes agar aku di keluarkan dari peserta. Namun tentu saja pak kepala sekolah kekeh dan tidak memperdulikan protes dari Akio.
Untung saja Ronal bisa menjadi penengah, dia bisa membujuk Akio untuk lebih tenang dan berpikir jernih. Dan inilah hasilnya, aku tetap menjadi peserta lomba bersama yang lain.
Kami ber enam pun turun dari mobil. Benar saja suasana langsung riuh, ada yang bersiul keras, ada yang berteriak minta kenalan, ada juga yang berteriak minta nomer HP. Sungguh suasana sekolah yang sangat berbanding terbalik dengan SMA Pelita Jaya, para muridnya berpakaian rapi, bersih dan wangi, sedangkan di sini seragam mereka berantakan, kucel dan juga bau tak sedap yang berasal dari selokan.
Kadang aku bersyukur dulu mendapatkan tawaran dari SMA Pelita Jaya yang terkenal sebagai SMA favorit di kota ini. Bukan dari SMA lain yang keadaannya tidak nyaman seperti di SMA Budi Utomo ini.
Aku berjalan di tengah-tengah antara dua peserta perempuan lainnya, Pak Bayu di depanku, sedangkan Bagas dan Ronal berjalan dibelakang ku. Posisi paling aman sengaja di tujukan padaku, itu keputusan yang di atur oleh pak Bayu saat di mobil tadi.
" Alma paling terang dan menarik perhatian, sebaiknya tempatkan dia di tengah-tengah biar tidak terlalu menimbulkan kegaduhan saat menuju ruang lomba nanti", begitu perkataan Pak Bayu, dan semua setuju.
Kami sampai di depan ruang yang akan di gunakan untuk tempat lomba. Masih terkunci ruangannya, dan para peserta menunggu di depan ruangan sampai nanti pintu terbuka dan diperbolehkan masuk oleh panitia.
" Alma ... !", ada seseorang yang memanggil namaku dengan lantang, dia memakai seragam OSIS dengan bad sekolah Budi Utomo, aku sejenak berpikir mungkin dia teman SMP atau teman SD ku dulu, karena aku juga merasa pernah melihatnya. Hanya saja aku lupa-lupa ingat. Selalu saja seperti ini, aku lemah dalam menghafal wajah seseorang. Dan mudah lupa jika lama tidak bertemu.
" Benar kamu Alma, waaaah sudah lama sekali tidak bertemu, bagaimana kabarmu?".
" Baik ", jawabku singkat, masih dengan wajah bingung, karena belum ingat, pemuda itu teman SD atau SMP.
" Aku yakin pasti akan bertemu denganmu di perlombaan ini, aku merasa sangat senang saat mengetahui sekolahku menjadi tuan rumah lomba cerdas cermat, itu karena pasti aku akan bertemu denganmu".
" Dan untungnya lagi aku di tugaskan menjadi panitia, karena sudah kelas 12 jadi tidak di ikut sertakan di perlombaan".
Ku baca nama anak itu di seragam sekolahnya. ' Leonardo Pratama ' , dimana aku pernah bertemu dengannya, sepertinya aku tidak ada teman SD atau SMP yang bernama Leonardo.
Untung saja terdengar pemberitahuan jika lomba akan segera di mulai dari pengeras suara, sehingga ada alasan untuk aku menghindari pemuda bernama Leonardo itu.
" Maaf aku harus masuk ruangan dulu", ucapku memutus percakapan.
" Oh iya silahkan-silahkan, semoga sukses ya!", serunya sambil melambaikan tangan padaku yang tengah berjalan memasuki ruang lomba.
Ada waktu 2 jam untuk mengerjakan 40 soal pilihan ganda dan 10 soal esai. Semuanya langsung serius menatap lembar soal yang ada di hadapan masing-masing. Begitu juga denganku. Aku harus kembali membawa piala juara 1, agar tidak mengecewakan pak kepala sekolah. Bukan hanya aku yang berharap menjadi juara, karena aku yakin semua yang hadir disini ingin menjadi pahlawan bagi sekolah mereka sama sepertiku.
Suasana hening dan mencekam pun sangat nampak di ruang tempatku berada. Kebanyakan dari mereka adalah wajah-wajah baru yang sengaja di ajukan oleh sekolah mereka. Karena tahun lalu beberapa kali aku ikut lomba, sering bertemu dengan orang-orang yang sama. Namun kali ini berbeda, mungkin karena peserta yang dulu sudah kelas 12, seperti yang dikatakan Leonardo tadi padaku.
Selama hampir dua jam aku fokus pada lembar jawaban, dan waktu menyisakan beberapa menit lagi, sudah ada beberapa peserta lain yang keluar dari ruangan.
Aku masih mengulang mengoreksi jawabanku satu persatu, berharap tidak ada yang salah dan mendapatkan nilai sempurna seperti sebelumnya.
Teeeet.....
Waktu mengerjakan soal selesai, ini baru sesi pertama, nanti akan ada sesi kedua, setelah beberapa nilai tertinggi di peroleh, sesi kedua adalah mengerjakan soal dengan waktu tercepat, seperti rebutan menjawab soal.
Kami diberi waktu satu jam untuk beristirahat. Pak Bayu mengajak kami berlima untuk makan di restoran cepat saji yang tempatnya tidak terlalu jauh dari SMA Budi Utomo.
" Makan dulu, biar di sesi kedua kalian bisa fokus dan lebih bersemangat".
Pak Bayu memesankan kami paket ayam geprek ekstra pedas, karena pak Bayu tahu jika sambelnya di pisah di wadah lain, dan kami bisa menuangkan sambal sesuai selera kami masing-masing.
Saat ini masih pukul 11 siang, saat kami selesai makan. Kami sengaja tetap bersantai di restoran. Dari pada kembali ke sekolah SMA Budi Utomo yang tempatnya tidak nyaman , selain ramai dan panas, juga bau selokan.
" Bagaimana tadi Al?, apa kamu yakin bisa dapat juara lagi?", Ronal menatapku lekat.
" Untuk yang tadi aku sudah mengerjakan seteliti mungkin, tinggal dilihat sesi ke dua nanti, semoga lancar, jadi bisa bawa pulang piala", terang ku.
" Kalian bagaimana?, apa ada yang merasa kesulitan?", Aku berusaha memberikan pertanyaan pada peserta lain, karena sejak tadi membahas tentang aku saja.
Satu persatu dari mereka pun menceritakan tentang perjuangannya tadi di ruang lomba, hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kami harus kembali untuk melanjutkan perlombaan di sesi kedua. Semoga semuanya tetap semangat.
Kami masuk keruangan kami masing-masing untuk melanjutkan perjuangan kami untuk menjadi juara. Semangat kawan-kawan ku!.