
Sesuai janji Alma pagi tadi. Siang ini di kantin, tepatnya di penjual baso menjadi begitu ramai dipenuhi anak-anak yang sekelas dengan Alma. Mereka makan baso bersama, tentu saja Akio yang membayar semua tagihan. Sedangkan dirinya sendiri tidak ikut makan, hanya memberikan sejumlah uang ke penjual bakso dan meninggalkan kantin sambil menarik tangan Alma agar mengikutinya.
" Memangnya kita mau kemana?, kan aku juga sudah pesen dua porsi, buat kita", Alma tidak tahu apa mau Akio. Namun ternyata dia memilih kembali ke kelas.
" Sudah aku minta sama mbak-mbak kantin untuk anter pesenan kamu ke kelas, di tambah dua gelas es jeruk", ujar Akio saat dia membimbinh Alma untuk duduk di bangkunya. Akio sendiri menarik bangku miliknya dan duduk menghadap ke Alma.
Baso pesanan Alma pun tiba, dan seperti ucapan Akio, plus es jeruk. Kombinasi yang tepat di siang yang panas seperti saat ini.
" Kenapa kamu malah pengen kita makan di kelas, kan teman-teman pada makan di kantin, kebiasaan dari dulu nggak pernah berubah", menurut Alma Akio masih sama seperti sikap awalnya, tidak suka keramaian dan tempat umum.
" Apa kamu suka saat aku makan dilihatin dan diperhatikan sama gadis-gadis itu?, atau kamu suka saat kamu makan dan diperhatikan oleh mata laki-laki itu?".
" Kita lagi jadi pusat perhatian Al, dan aku nggak suka ada laki-laki lain yang menatap kagum ke arahmu, dan aku tahu ada banyak sekali yang melakukan hal itu, banyak sekali anak laki-laki yang mengagumimu, karena aku bisa tahu dan mendengar suara hati mereka, aku bisa baca pikiran mereka".
" Dan anehnya hampir dari mereka semua tertarik dan begitu penasaran sama kamu".
" Aku yakin jika aku tidak ada, banyak dari mereka yang langsung mendekati kamu".
Alma hanya menggelengkan kepalanya, ini bukan pertama kalinya Akio seperti itu, sudah menjadi kebiasaan dia tiba-tiba cemburu buta, tapi Alma maklum, karena Alma tahu jika Akio bisa membaca pikiran dan mendengar isi hati orang lain.
" Kamu itu memang selalu bisa tahu dan mengerti isi hati dan pikiran mereka, tapi kamu kan juga bisa mengerti dan tahu apa isi hatiku. Jadi aku harap kamu tidak perlu mempermasalahkan hal-hal semacam itu, aku hanya milikmu, dan kamu tahu itu".
" Kita makan sekarang, keburu basonya dingin, dan es jeruknya jadi hangat", gumam Alma sedikit bercanda.
" Kita besok akan berangkat ke Jakarta, jadi nggak usah cemburu-cemburu dan marah nggak jelas seperti itu, aku nggak mau perjalanan kisah cinta kita berdua hanya dipenuhi dengan kecemburuan dan kesalah pahaman. Aku mau kita terus bahagia hingga akhir perjalanan hidup kita".
Alma menyuapkan baso miliknya ke Akio, berharap Akio menjadi lebih slow dan tidak cemburu terus. Dan ternyata Akio menerima suapan Alma, dan sedikit menahan egonya.
_
_
Sepulang sekolah Alma dan Akio kembali menghadap ke ruang kepala sekolah, besok hari keberangkatan mereka ke Jakarta, dan Pak Kepala sekolah menyampaikan beberapa patah kata dan juga memberi pesan pada mereka berdua.
" Bapak sudah sangat bangga pada kalian berdua, menjadi peraih medali emas di Olimpiade Sains Nasional, itu sudah membawa nama baik sekolah, dan menjadikan sekolah ini menjadi sangat dikenal di penjuru tanah air".
" Apalagi jika perjuangan kalian selanjutnya juga menghasilkan kemenangan yang sama, sungguh saya sebagai kepala sekolah di Pelita Jaya sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, hanya bisa bersyukur pada Yang Maha Kuasa dan mengucapkan selamat pada kalian berdua".
" Besar sekali harapan Bapak pada kalian berdua, ada satu hal yang membuat Bapak penasaran, apa benar jika kalian berdua berpacaran?, bapak harap itu tidak berpengaruh dengan kemampuanberfikir kalian".
Alma menatap ke Akio dan Akio langsung mengiyakan.
" Kami memang berpacaran, dan itu tidak berpengaruh apa-apa pada cara berpikir kami, karena kami.sudah berpacaran sebelum kami berangkat ke Jakarta empat bulan yang lalu, dan itu tidak perlu membuat bapak risau".
Akio berkata dengan begitu percaya diri.
" Besok kalian ke sekolah dulu, dan Bapak bersama pak Bayu, wali kelas kalian akan mengantar ke rumah dinas Bupati.
" Baik Pak, kami mengerti, kalau begitu kami mohon diri".
Alma dan Akio keluar dari ruang kepala sekolah, suasana sekolah sepi karena semua murid sudah pulang.
***
Hari keberangkatan Alma dan Akio ke Jakarta pun tiba, seperti sebelumnya Akio dan Alma datang ke rumah dinas Bupati dan pelepasan dilaksanakan di pendopo kabupaten. Namun tidak semeriah acara pelepasan yang sebelumnya diikuti banyak peserta. Akio dan Alma tentu saja berangkat dalam mobil yang sama, tidak perlu ribut seperti sebelumnya, karena hanya mereka berdua peserta dari daerah yang sama.
Namun ternyata teman-teman seperjuangan OSN juga datang dan mengantarkan kepergian mereka, ada Diana, Leo dan juga teman-teman yang lain.
" Semoga sukses !", seru Diana sambil mengepalkan tangannya diatas dada, saat melihat mobil yang membawa Akio dan Alma keluar dari pintu gerbang pendopo, dikawal oleh beberapa mobil patroli.
Alma yang membuka jendela mobil dan melihat Diana mengangguk dan tersenyum dengan sangat manis.
" Bahkan semakin lama dia terlihat semakin cantik saja, aku semakin menginginkannya, semoga saja Akio merasa bosan dan pergi meninggalkan Alma, biar saja dapat bekasnya Akio, aku nggak masalah kalau itu adalah Alma". Leo yang berdiri di samping Diana langsung mendapat bogem di lengan tangannya.
" Kamu ini bukan level mereka, kita ini murid biasa-biasa saja, sedangkan Alma dan Akio mereka istimewa, mana mungkin Akio bosen sama Alma, gadis jenius itu nggak bakalan ngebosenin tau, dia selalu memberikan kejutan dan kejutan terus... kalau cowok biasa-biasa saja, dan sedikit lemot lha itu baru ngebosenin, nggak kreatif, mengharapkan pacar orang lain!". Diana menyindir Leo dengan mengatakan bahwa dirinya adalah cowok lemot.
" Terserah kamu ngatain aku apa, yang jelas semua hubungan pasti ada akhirnya, entah karena masalah, ataupun yang lain, dan aku berharap hubungan mereka tidak berjalan lama", suara Leo terdengar begitu dalam di telinga Diana yang masih menatap mobil patroli yang mengiring kepergian Alma dan Akio.
_
_
Pukul 3 sore Alma dan Akio sudah sampai di Jakarta, mereka langsung menuju hotel yang sudah di persiapkan untuk para peserta olimpiade yang akan berangkat ke Almaty minggu depan.
Selain Alma dan Akio, ternyata beberapa peserta dari daerah lain juga baru saja sampai, bersamaan.
Alma dan peserta lain pun saling bertegur sapa. Mereka memperoleh kamar hotel berbeda-beda, semuanya ada 9 peserta yang akan mewakili Indonesia. Dan tiap peserta diberi privasi tidur dikamar yang berbeda-beda.
Itu membuat Akio merasa senang, karena tidak perlu lagi menyewa hotel sendiri, dan juga bisa masuk kamar Alma sewaktu-waktu, karena Alma di kamar sendirian.
" Senang berkenalan dengan kalian, semoga bisa menjadi rekan yang saling mendukung dan asyik diajak bekerja sama". Lidia dari Surabaya melambaikan tangan dan masuk kedalam kamar miliknya untuk beristirahat.
" Jangan terlalu dekat dengannya...."
" Dia naksir sama kamu kan?, aku nggak bisa baca pikiran dan dengar suara hati kaya kamu, tapi dari tatapan dan sikapnya aku juga bisa tahu kalau dia naksir kamu".
" Kamu itu aneh, ada laki-laki lain naksir aku, kamu nggak suka sekarang ada perempuan lain yang naksir sama kamu, kamu juga nggak suka ". Alma terkekeh sendiri saat mau masuk ke kamarnya. Kamar Alma dan Akio berhadapan, itu akan sangat menguntungkan bagi Akio untuk menyelinap masuk ke kamar Alma sewaktu-waktu.
" Aku mau istirahat dulu, tidur siang sebentar capek banget, jangan ganggu!", Alma membuka pintu kamarnya dan langsung menutup pintu itu kembali, Akio hanya tersenyum jahil sambil masuk ke kamarnya sendiri.