My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 64 : Biarkan Sendiri Dulu



Perjalanan menggunakan mobil selama hampir 6 jam, dari Jakarta hingga tiba di rumah memang sangat melelahkan, sepanjang perjalanan Alma terus terdiam, bahkan Akio tidak bisa membaca isi hati maupun pikiran Alma, karena sepanjang perjalanan Alma membuang muka dan menatap keluar jendela mobil. Sempat juga Alma tidur diperjalanan saat mobil hendak sampai dirumah.


Selama perjalanan supir banyak diam sambil mendengarkan musik dari audio mobil. Sempat bertanya pada Akio, saat hendak mengisi bahan bakar, dan istirahat sebentar di rest area SPBU untuk Maghrib dan makan.


Setelah itu mereka kembali melakukan perjalanan, tapi Alma masih tetap saja diam dan tidak mau menatap Akio. Padahal sudah berkali-kali Akio mengatakan jika Lidia main sosor begitu saja, hingga dia tidak sempat mengelak.


Namun Alma masih tetap saja marah, dan saat sampai di rumah Akio begitu penasaran alasan Alma marah cukup lama kepadanya, karena hal ini jarang terjadi, biasanya Alma marah hanya sebentar, di bujuk dan dijelaskan biasanya Alma langsung ceria kembali.


Ternyata selain karena melihat kejadian Lidia mengecup bibir Akio, ada alasan lain yang membuat marahnya Alma awet. Saat tadi Alma kembali ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian. Alma mendapat telepon dari Banu.


Saat melakukan panggilan itu Banu sudah berada di stasiun dan duduk didalam kereta.


Banu mengucapkan salam perpisahan, dan meminta maaf pada Alma untuk semua kesalahan yang sudah dilakukan olehnya selama ini. Banu tidak mau Alma terus membencinya, karena mungkin mereka tidak akan pernah lagi bertemu.


Alma berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah, sedangkan Akio masih di luar mengawasi para pembantu nya mengeluarkan koper dan ransel dari bagasi mobil.


Saat Akio hendak masuk kedalam rumah, si supir mobil online menahan langkahnya.


" Maaf Mas... bukan maksud saya mau ikut campur, tapi kalau boleh saya beri saran, sebaiknya Mas kasih waktu sama ceweknya buat sendiri dulu".


" Kadang orang marah itu butuh waktu untuk merenung sendirian, dan berpikir jernih Mas".


" Itu cuma saran saja Mas, saya perhatikan sepanjang perjalanan ceweknya manyun terus, jadi mending diberi waktu untuk sendirian dulu, besok pas bangun tidur bisa di deketin lagi".


Si supir mobil online ternyata diam-diam memperhatikan keadaan mereka berdua dan memberikan saran pada Akio untuk memberi waktu pada Alma untuk menyendiri dan merenung.


Akio hanya mengangguk, mungkin ada benarnya juga ucapan supir itu.


***


Alma POV


Banu mengatakan bahwa dirinya sangat bersedih, karena mengira aku sangat marah padanya, ternyata tadi ia hendak menemuiku, dan sudah mengetuk pintu kamarku berkali-kali, Banu juga mengatakan bahwa dia menungguku cukup lama di depan pintu, namun tentu saja aku tak akan keluar dan membukakan pintu untuknya, karena aku sedang tidur, dan aku tidak di kamarku saat itu.


Aku juga merasa bersalah karena beberapa panggilan telepon dari Banu tidak ku jawab. Saat itu padahal ponselku ada di sebelahku, namun sayangnya aku tidur begitu nyenyak, hingga tidak mendengar suara telepon yang berbunyi.


Tapi bukankah saat itu Akio sudah bangun?, tapi mengapa Akio tidak membangunkan aku?. Apa Akio sengaja membuat Banu menunggu di depan pintu tanpa hasil.


Se-cemburu itukah Akio pada Banu?, padahal Dia tahu jika aku tidak pernah macam-macam dengan pria lain. Ataukah mungkin Akio demikian karena dia sendiri sudah melakukan kesalahan?, dia takut akan hukum karma?.


Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku.


Yang jelas aku masih marah pada Akio. Dia tidak memperbolehkan aku bertemu dan mengucapkan salam perpisahan dengan Banu, tapi dia sendiri bertemu dengan Lidia, bahkan bukan hanya salam perpisahan, dia juga melakukan ciuman perpisahan. Benar-benar menyebalkan !.


Sepanjang perjalanan aku tetap diam, bahkan sampai dirumah aku pun masih diam sebagai bentuk kemarahan ku pada Akio. Dia menyebalkan, karena aku tahu Akio. Dia paling mawas diri dan waspada di setiap situasi, jadi saat dia mengatakan sedang tidak fokus dan tidak sempat menghindar saat Lidia mencium bibirnya, aku tidak percaya sedikitpun.


Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan mengirim pesan pada Ibuku, ya ibuku sudah punya smartphone sejak beberapa waktu lalu. Karena katanya agar bisa menghubungiku saat beliau merasa rindu padaku.


***


Author POV


Pagi hari Alma terbangun dari tidurnya, tidak menjumpai Akio berada di sampingnya, ternyata semalam Akio sengaja tidak tidur dikamar mereka. Akio memberi waktu Alma untuk sendiri, mungkin itu akan membuat emosi Alma sedikit mereda, tapi justru Alma merasa aneh karena semenjak menikah, baru kali ini di rumah sendiri Akio tidak tidur bersama dengannya, padahal biasanya saat Alma marah Akio akan tetap tidur sekamar dengannya.


Alma yang kemarin sudah disajikan pemandangan tidak mengenakan saat Lidia mencium bibir Akio jadi berpikir negatif.


" Jangan-jangan Akio sengaja tidur pisah kamar agar leluasa ngobrol dan bertelepon ria dengan Lidia", pikir Alma.


Padahal Akio hanya melakukan sesuai saran si supir mobil online kemarin malam.


Dan entah kebetulan atau memang mereka berdua sedang ditakdirkan untuk bertengkar, Alma yang sedang berjalan pelan-pelan menuju kamar dimana Akio tidur, mendengar Akio ngobrol dengan seseorang dengan berbisik. Pintu kamar sudah terbuka sedikit, dan bisa terlihat Akio sedang duduk di tepian ranjang sambil bertelepon.


Alma semakin buruk sangka, padahal Akio bukan sedang bertelepon dengan Lidia, tapi karena pikirannya sedang dikotori ingatan tentang kejadian kemarin, membuatnya berpikir jika Akio sedang bertelepon dengan Lidia.


Ditambah lagi Akio terlihat gugup dan terkejut saat mengetahui Alma diam-diam sedang berdiri didepan kamarnya. Akio langsung menghampiri Alma dan mengikuti langkah Alma yang berjalan kembali menuju kamarnya.


Sebenarnya Akio terkejut karena ternyata Alma mencarinya, apa itu pertanda bahwa Alma sudah tidak marah lagi pada Akio?, dalam hatinya Akio pun berterima kasih kepada si supir mobil online. Sepertinya saran darinya sangat efektif membuat kemarahan Alma sedikit reda.


" Sayang sudah bangun?".


" Mau mandi dulu atau sarapan dulu?, hari ini kita langsung berangkat ke sekolah, karena liburan tengah semester sudah berakhir, dan kita juga ada jadwal bertemu dengan pak Bupati siang nanti".


Akio terus mengikuti langkah Alma dan berhenti di kamar saat Alma duduk dan meminum segelas susu yang sudah disiapkan oleh si bibi 10 menit yang lalu.


" Masih marah sama aku?, padahal sudah aku kasih waktu semalaman buat sendiri dan berpikir jernih, kamu bisa bedakan kan mana yang ciuman dan mana yang dicium".


" Aku bener-bener nggak siap dan lagi nggak fokus waktu diajak ngobrol sama Lidia kemarin, aku lagi kepikiran kamu yang lagi tidur didalam kamarku dan belum pakai apa-apa, kemarin aku khawatir kalau kamu tiba-tiba keluar dan Lidia tahu kamu tidur di kamarku".


Akio masih terus saja memberi penjelasan pada Alma. Mungkin sedikit demi sedikit emosi Alma sudah tidak terlalu parah lagi pada Akio.


Mereka sarapan bersama usai mandi dan bersiap-siap menggunakan seragam sekolah. Untung ini hari rabu, setidaknya Akio dan Alma tidak perlu mengikuti upacara bendera dan maju kedepan, menjadi pusat perhatian lagi seperti saat mereka menjadi juara di Olimpiade Sains Nasional sebelumnya.


Alma dan Akio turun dari mobil yang sama, namun Alma berjalan terlebih dahulu, tidak seperti biasanya berjalan beriringan dengan Akio hingga sampai kelas.


Seperti biasa mereka berdua sampai di sekolah tepat saat bel masuk berbunyi. Alma langsung menuju ke kelas, diikuti Akio yang berjalan dibelakangnya.


Dan betapa terkejutnya Alma, saat dia membuka pintu kelas yang terlihat aneh karena sangat sunyi, ternyata lagi-lagi mereka berdua mendapatkan kejutan dari teman-teman sekelas dan juga Pak Bayu, wali kelas mereka.


" Selamat Alma dan Akio..!!".


" Kalian memang hebat, kalian berdua adalah yang terbaik !".


Sorakan dan ucapan selamat dari teman-teman sekelas membuat Alma sangat terharu.