My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 43 : VVIP



Maemunah kembali menghampiri Bara, dan mengajaknya untuk kembali ke rumah.


" Kita pulang saja, ibu baru tahu kalau di rumah sakit tidak diperbolehkan anak kecil untuk menjenguk pasien".


" Tidak apa kamu tidak ketemu sama kak Alma, ibu sudah sampaikan salam darimu dan kak Alma bilang akan berusaha untuk segera sembuh, agar bisa bertemu dengan kamu lagi".


Ekspresi Bara masih tetap cemberut karena rencananya bertemu dengan Alma tidak terealisasi. Dan dengan terpaksa berjalan pulang mengikuti langkah ibunya.


Memang sudah sangat lama Maemunah tidak pernah lagi masuk ke rumah sakit. Baik untuk menjenguk tetangga atau berobat saat dia dan anak-anaknya sakit. Meski memiliki kartu BPJS dan bisa gratis, Maemunah lebih memilih meminum obat yang dibelinya di warung, dari pada berobat jauh-jauh ke kota.


" Jaman sekarang ada-ada saja peraturan di rumah sakit, yang pakai jam besuk lah, yang melarang anak kecil jenguk orang sakit, dan lagi ibu baca di peraturan bahwa yang boleh menjaga pasien hanya boleh dua orang saja".


" Padahal jaman dulu waktu ayahmu masih ada, jaman ibu melahirkan Alma di rumah sakit, hampir semua tetangga boleh besuk, bebas nggak ada batasan jam berapa saja boleh besuknya, bahkan kadang teman-teman ayahmu ikut nemenin di rumah sakit rame-rame".


Sepanjang jalan Maemunah terus ngomel-ngomel merasa kecewa dan marah karena tidak bisa menemani Alma di rumah sakit.


Putrinya jarang sekali sakit, hampir tidak pernah, dan sekalinya dia sakit dan harus opname karena keguguran, justru Maemunah tidak bisa menemaninya. Itu membuatnya merasa emosi.


" Ibu besok bisa datang lagi ke rumah sakit, saat siang hari, Bara kan ke sekolah, dan pulang sekolah Bara akan ke rumah Bang Ipul".


Sejak Alma mengikuti kegiatan olimpiade sains di Jakarta, memang kegiatan les di limpahkan pada salah satu teman Alma yang juga lumayan cerdas, meski tidak se pintar Alma, namun bisa mengajari adik-adik kelas.


Dia lah Bang Ipul, kakak kelas Alma, namun tidak satu sekolah. Alma langsung memasrahkan kegiatan les pada Bang Ipul, awalnya tetap dilaksanakan di rumah Alma, namun hanya berselang 3 hari, akhirnya kegiatan les pindah di rumah Bang Ipul.


Berlanjut hingga saat ini, karena Alma harus pindah ke rumah Akio, akhirnya les terus dilaksanakan di rumah Bang Ipul.


Maemunah mengangguk, " benar juga, besok ibu akan ke rumah sakit sehabis masak".


" Pasti Akio akan pergi ke sekolah juga, jadi sekalian ibu bawakan sarapan untuknya".


Maemunah tersenyum lega karena ada solusi untuk besok. Hari senin kios loundry tutup, jadi bisa ke rumah sakit pagi-pagi sekali.


_


_


Hari ini sesuai rencana, Maemunah datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali, dia sempat terkejut melihat Akio yang tidur seranjang dengan Alma, dan mereka saling berpelukan.


Padahal kan di kamar VVIP masih ada satu tempat tidur lagi, yang sengaja di sediakan pihak rumah sakit, untuk tempat tidur keluarga pasien.


" Mereka tidak melakukan hal-hal yang aneh kan?", batin Maemunah, merasa khawatir Alma dan Akio tidak mengetahui aturan jika wanita yang nifas dilarang berhubungan badan.


Maemunah menyingkap sedikit selimut yang menutupi tubuh mereka, dan merasa begitu lega karena mereka berdua masih berpakaian lengkap. " Syukurlah, kalian tidak melakukan hal yang dilarang".


Setelah meletakkan kantong plastik yang berisi bungkusan kertas minyak di meja, Maemunah membangunkan Akio dan Alma.


Akio bangun dan langsung berjalan ke kamar mandi, melakukan rutinitas pagi di kamar mandi.


Sedangkan Alma duduk dan mengikat rambutnya yang terurai.


" Ibu bawa apa?, makanan?".


Alma tahu maksudnya pasti untuk Akio, namun Alma tidak yakin Akio akan menyukai masakan Ibunya itu. Hanya nasi goreng dan telor ceplok.


" Iya, ibu masak nasi goreng, nasi kemarin masih banyak, jadi ibu goreng untuk sarapan Bara, dia senang sekali karena di tambah telor ceplok. Ibu harap Akio juga akan menyukainya".


Akio keluar kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.


" Nak Akio nanti berangkat ke sekolah saja, biar ibu yang jagain Alma di sini, kan kios loundry hari ini tutup, jadi ibu nggak ada kerjaan, dan bisa jagain Alma seharian".


" Lagian kalau kalian sama-sama tidak berangkat sekolah hari ini, mungkin teman-teman kalian akan semakin bertanya-tanya dan penasaran dengan hubungan kalian".


" Lucu juga kan kalau pas teman kalian jenguk, terus Akio yang jagain Alma".


Akio yang awalnya sudah berniat untuk tidak berangkat sekolah akhirnya merubah rencananya. Ada benarnya juga yang dikatakan Ibu mertuanya. Sementara waktu mereka harus tetap merahasiakan pernikahan mereka.


" Sekarang sarapan dulu saja Nak Akio, ibu bawakan nasi goreng pakai telor ceplok, Bara sangat menyukainya".


Akio menatap nasi goreng yang sudah dibuka dan diletakkan dimeja. Kemudian duduk di depan nasi goreng, dan mulai menyuapkan sendok demi sendok kedalam mulutnya.


Dan benar dugaan Alma, hanya tiga sendok nasi goreng dan menghabiskan telor ceplok Akio menyudahi sarapannya.


" Akio sudah kenyang Bu, makasih sarapannya. Akio berangkat ke sekolah dulu", pamit Akio pada Maemunah. Kemudian menghampiri Alma, memeluk sebentar dan mencium keningnya dengan lembut, dan saat Maemunah sedang membereskan sisa nasi goreng, dengan cepat Akio mengecup bibir Alma, saat Maemunah tidak melihatnya.


" Aku berangkat dulu sayang, jaga diri baik-baik ya, kalau ada apa-apa langsung telepon saja", pesan Akio saat meninggalkan Alma.


Sampai di sekolah Akio langsung bertemu dengan Pak Bayu, wali kelasnya, mengatakan jika Alma sakit dan sedang opname dan ijin untuk beberapa hari tidak berangkat sekolah.


Kabar sakitnya Alma langsung menyebar ke seluruh sekolah. Apalagi sekarang Alma menjadi salah satu gadis populer di sekolahan. Jadi berita tentangnya cepat sekali menyebar.


" Fen, kamu tahu nggak dimana Alma di rawat?", tanya Ronal si ketua kelas. Setahu Ronal sahabatnya Alma adalah Feni.


Bukannya menjawab, justru Feni menatap ke Akio. " Aku nggak tahu, tanya sama ayang babe nya saja tuh", ucap Feni sambil menunjuk Akio dengan dagunya.


" Dimana Alma di rawat apa kamu tahu?", kali ini Ronal menatap ke Akio.


" Rumah sakit Medika", jawab Akio singkat.


Namun buru-buru keluar kelas saat mendengar bel istirahat berbunyi.


Padahal Ronal dan yang lain juga ingin menanyakan kamar Alma di mana, namun keburu Akio menghilang di lorong kelas.


" Itu cowok ekspresinya datar terus, padahal kan ceweknya lagi sakit, tapi nggak ada raut sedih-sedih nya", gumam Feni.


" Mungkin memang begitu caranya berekspresi, jangan ngegosip ah, nanti kita jenguk Alma rame-rame yuk".


" Dia kan sudah banyak bantu kita ngasih contekan tiap kali ada PR yang kita nggak bisa ngerjain", ajak Ronal pada teman-teman sekelasnya.


" Oke, aku setuju, kita iuran kelas saja yuk, buat bantu meringankan biaya rumah sakit Alma, kasihan kan pasti ibunya bingung nyari duit buat bayar biaya rumah sakit kemana".


" Kecuali kalau cowoknya yang tajir itu bersedia membayar semua tagihan rumah sakit Alma". Feni menerawang jauh memikirkan Akio sebagai pacarnya Alma.


***


Siang hari sepulang sekolah Akio langsung ke rumah sakit. Tepat saat dokter sedang melakukan visit di ruang Alma.


" Bagaimana keadaan Alma Dok?".


Akio langsung berdiri mendekat di samping pak dokter setelah selesai melakukan pemeriksaan.


" Keadaannya sudah mulai membaik, dan stabil. Beruntung kemarin mba Alma dibawa ke sini tepat waktu, jika terlambat sebentar saja, mungkin akan membahayakan rahimnya juga ". Pak dokter berhenti sejenak, menatap Akio dan akhirnya memberanikan diri bertanya.


" Maaf Mas Akio, kemarin ibu mertua Anda menemui saya, dan beliau memohon pada saya untuk memasang alat kontrasepsi pada tubuh Alma, namu saya tidak bisa langsung melakukan tindakan medis begitu saja, karena ada Anda suaminya, yang mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan".


Maemunah langsung menunduk, merasa tidak enak pada Akio.


" Tapi kalau boleh saya menyampaikan pendapat saya, mungkin memang tindakan itu diperlukan, selain karena usia Alma yang masih sangat muda, juga kondisi janin setelah mengalami keguguran sebaiknya diberi waktu untuk pemulihan terlebih dahulu".


" Maaf, bukan maksud saya ikut campur Mas Akio. Kecuali jika Mas Akio bisa melakukan KB mandiri, atau memakai kon dom mungkin Mba Alma tidak perlu untuk memasang alat kontrasepsi di tubuhnya".


Akio mengangguk-anggukan kepalanya,.


" Kalau begitu lakukan yang terbaik saja Dok. Pasangkan alat kontrasepsi yang bisa bertahan sampai 5 tahun, dan tidak ribet".


Dokter tersenyum lega, merasa seperti sudah menyelamatkan nyawa seseorang dari ambang kematian.


" Baiklah kalau Mas Akio sebagai suaminya sudah setuju, besok hari selasa akan segera saya pasangkan KB implan untuk mba Alma, setelah saya pikir-pikir, mungkin itu yang paling efisien".


Dokter pun keluar dari kamar Alma, dan berpapasan dengan serombongan anak SMA dengan logo Pelita Jaya di lengan kanan seragam sekolahnya. Mereka teman-teman Alma.


Teman-teman Alma menyapa dokter dan bertanya pada suster yang berada di belakang pak dokter.


" Maaf Sus, kamar pasien atas nama Almahyra Elshanum yang mana ya?", Ronal bertanya mewakili teman-temannya.


" Owh, kalian temannya Mba Alma ya, kamarnya yang itu", Suster menunjukkan kamar VVIP di ujung lorong.


Semua saling memandang tidak percaya. Bayangan mereka yang mengira Alma di rawat di ruang yang begitu banyak pasien dan berjajar-jajar dan sumpek.


Ternyata justru Alma menempati kamar VVIP dengan fasilitas lengkap.


" Terimakasih banyak Sus....".


Mereka semua berjalan menuju kamar yang dimaksud, dan begitu terkejut saat masuk kamar dan mendapati Akio sudah berada di kamar itu, sedang menyuapi Alma bubur kacang hijau yang diberi dari rumah sakit.


" Akio...!", serempak semua mata menatap sosok berwajah dingin dan tampan itu.


Alma dan Akio menatap ke arah pintu dengan begitu terkejut, mendapati teman-teman sekelasnya datang menjenguk.