My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 56 : Nightmare



Tak terasa waktu sudah semakin larut malam, jam dinding menunjukkan pukul 00.00 dini hari, karena merasa bosan dan jenuh, Alma akhirnya mengirim pesan pada Akio.


~ Apa masih diluar?, atau sudah kembali ke kamar? ~


5 menit, 10 menit, 15 menit berlalu, namun pesan yang Alma kirim tak kunjung dibalas, bahkan belum juga dibaca oleh Akio.


Alma merasa khawatir karena Akio tidak memberi kabar sejak pesan terakhirnya yang mengatakan bahwa dirinya keluar hotel.


Dengan sangat terpaksa Alma keluar dari kamar, saat mencoba membuka pintu kamar Akio ternyata pintunya terkunci.


" Dia sudah didalam atau masih diluar", ucap Alma dalam hatinya, saat ini suasana lorong hotel sangat sepi. Tidak ada satupun orang yang berlalu lalang.


Saat ini Alma merasa bimbang, mau mencari keluar takut sendirian, namun jika tidak mencari, rasanya begitu khawatir, takut terjadi sesuatu pada Akio.


Alma pun mencoba menelepon Akio lagi, nyambung, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Alma berinisiatif meminta kunci duplikat di resepsionis, dengan alasan kawannya di telepon tidak menjawab, dan khawatir terjadi sesuatu padanya.


Pihak hotel pun meminjamkan duplikat kunci kamar Akio. Alma langsung bergegas menuju kamar Akio, namun saat berjalan menuju lift, Alma melihat Akio bersama Lidia, dan anehnya Lidia menggelayut di lengan Akio dengan sangat manja. Mereka berdua berjalan sambil tertawa-tawa, bahkan sesekali Akio mengecup kening Lidia.


Alma mengikuti mereka berdua hingga dilantai 7, dimana kamar mereka berada. Dan ternyata Akio merangkul Lidia dan mengajaknya masuk kedalam kamar. Alma semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alma pun mengikuti dan berdiri didepan pintu, suara-suara aneh mirip ******* dan juga rintihan pun terdengar dari dalam kamar, Alma masih tetap berdiri mematung di depan pintu.


Dengan pelan Alma berusaha membuka pintu kamar Akio, namun ternyata pintunya dikunci. Alma semakin berpikir sesuatu yang tidak-tidak sedang terjadi di dalam kamar. Alma baru teringat jika dirinya sedang menggenggam duplikat kunci kamar Akio, Alma pun membuka pintu itu menggunakan kunci duplikat.


Dan saat Alma masuk ke kamar itu betapa terkejutnya Alma, melihat pemandangan yang membuat hatinya tercabik-cabik.


Akio sedang tiduran di atas ranjang dan ada Lidia yang juga tidur di ranjang yang sama. Kepala Lidia bersandar di dada polos Akio yang putih dan bidang.


Tubuh Alma mendadak menjadi lemas, rasanya seluruh tulang rontok dan tidak berdaya untuk tegak menopang berat tubuhnya. Pandangan berubah menjadi gelap.


Untung saja ada seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam kamar itu dan menangkap tubuh Alma yang tiba-tiba roboh tak sadarkan diri. Tak lama kemudian Alma bisa mendengar suara Akio memanggil- manggil namanya. Semakin lama suara itu semakin keras, dan tubuhnya serasa digucang- guncang.


" Alma...Alma....Alma...", Alma pun membuka matanya, nampak Akio sedang menatap ke arahnya, namun entah mengapa justru Alma merasa begitu sedih dan sakit hati mengetahui Akio yang menyadarkannya.


Seketika itu emosi Alma memuncak dan memukuli dada Akio saat itu juga, namun anehnya saat ini Akio sudah mengenakan pakaian. " Apa aku pingsan sangat lama?", pikir Alma.


" Kamu jahat, kamu bilang hanya mencintaiku, kamu bilang hanya menginginkanku, tapi kenyataannya apa?, kamu tidur dengan perempuan lain, aku benci kamu, aku sangat membencimu!", seketika itu tangis Alma pecah, air mata mengucur begitu saja bagai mata air yang sangat deras.


Namun justru Akio mendekap erat tubuh Alma yang masih tetap meronta-ronta. " Kamu mimpi buruk?, itu hanya di mimpimu saja Al, lihatlah, dari tadi aku berada disini, disamping mu, bagaimana bisa aku tidur dengan perempuan lain?".


Saat mendengar perkataan Akio Alma langsung melihat sekitar, kini dia berada di kamarnya, bukan kamar Akio, dan saat menatap jam dinding, ternyata baru jam 11 malam.


" Jadi apa yang tadi aku lihat itu cuma mimpi?", Alma masih seperti orang linglung.


" Aku masuk kesini tadi jam 10, dan kamu sudah tidur dengan nyenyak, jadi tidak aku bangunkan, katanya nggak bisa tidur dan nggak ngantuk sama sekali, tapi kok malah tidur begitu pules, sampai mimpi buruk begitu".


" Sejak tadi aku berada disini, disamping kamu".


" Minum ini dulu, biar lebih tenang", Akio menyodorkan gelas berisi air putih untuk Alma. Alma pun langsung meneguknya hingga tandas.


" Sekarang kita tidur saja, kamu masih ngantuk kan?, besok kita ada kelas pagi, jadi sekarang lebih baik kita tidur, biar besok bangunnya nggak kesiangan". Akio meletakkan gelas yang sudah kosong diatas nakas, kemudian membimbing Alma merebahkan diri di kasur, dan dia pun ikut merebahkan diri di samping Alma.


" Sudah jangan terus dipikirkan, tadi cuma mimpi, dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, hanya kamu wanita yang ada di hatiku, dan hanya kamu wanita yang aku inginkan".


Akio menepuk-nepuk bahu Alma yang ada di dekapannya, agar kembali melanjutkan tidurnya.


***


Pagi hari semua peserta olimpiade sains perwakilan Indonesia sudah berkumpul di lobi hotel, mereka akan berangkat ke kampus merah putih, dimana mereka akan menerima kelas khusus bersama dosen-dosen terbaik, sebagai bekal pengetahuan untuk berangkat lomba ke Almaty, Kazakhstan minggu depan.


Mobil yang mengantar kesembilan peserta sampai di kampus merah putih. Mereka semua masuk ke ruang dekan, dan dari sana mereka semua berpencar dan mempunyai guru pembimbing masing-masing dan menuju ruang yang berbeda-beda.


Alma yang maju di lomba matematika bersama seorang profesor muda yang terlihat begitu bersemangat setelah membaca profil Alma terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan mereka.


" Saya berharap besar atas kemenangan mu, entah mengapa saat ini bapak sangat optimis, setelah melihat dan mengetahui kemampuanmu sebelumnya".


" Sekarang kita langsung mulai saja, nama saya Panji, panggil saja Pak Panji".


Pak Panji menyerahkan selembar kertas dengan beberapa buah soal yang dibuatnya sendiri. Pertanyaan dan soal yang dibuat sengaja menggunakan bahasa Inggris, sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam olimpiade nanti.


Satu lembar berisi 10 soal yang menurut Panji adalah bab tersulit dan ter rumit di pelajaran matematika. Namun ternyata soal itu bisa diselesaikan Alma dalam waktu setengah jam.


Panji langsung mengoreksi hasil jawaban Alma, dan dia dibuat kagum dengan cara pemecahan masalah yang Alma gunakan, bahkan itu belum pernah digunakan sebagai rumus selama ini, namun Alma bisa menemukan rumus sendiri sehingga lebih mudah dan lebih cepat waktu pengerjaannya.


" Kamu memang pantas menjadi wakil dari Indonesia, bapak yakin kamu bisa mendapatkan juara lagi".


" Sekarang kerjakan beberapa soal selanjutnya, jika ada yang menurutmu masih sulit, kamu boleh bertanya pada bapak, tapi dilihat dari soal pertama yang kamu kerjakan begitu cepat, bapak yakin kamu tidak butuh bertanya lagi".


" Bapak akan terus memberikan padamu soal lagi dan lagi, jika ada yang tidak kamu mengerti tanyakan langsung".


Alma mengangguk setuju, tapi seperti dugaan Panji sebelumnya, jika Alma mengerjakan semuanya dengan cepat dan tepat, tidak ada pertanyaan dan Panji semakin semangat memberikan soal.


Waktu selama 4 jam, dihabiskan Alma untuk mengerjakan ratusan soal yang menurut Panji sangat sulit. Namun justru Alma tidak merasa ada yang sulit, semua bisa dijawab dengan cepat dan tepat.


" Bagus jika sudah tidak ada kendala, dan tidak adan yang perlu ditanyakan, jadi selama seminggu kamj hanya akan mengerjakan soal-soal yang aku buat sendiri".


" Semakin banyak kamu mengerjakan soal dengan benar, maka kamu akan semakin pandai".


Pak Panji menatap kagum Alma, karena hanya Alma dan Akio peserta yang masih kelas 10, peserta yang lain sudah berada di kelas 11, bahkan ada yang sudah kelas 12. Itu artinya, ada kemungkinan tahun depan Alma bisa mengikuti olimpiade sains kembali. Dan justru itu lebih menguntungkan bagi semua pihak, karena Alma sudah mempunyai pengalaman sebelumnya.