
Alma POV
Akio kini berada di kamarnya sendiri, begitu juga denganku, jam menunjukkan pukul 8 malam, rasanya malam menjadi begitu lama, apalagi tadi siang aku sudah tidur sangat lama, jadi malam ini mungkin akan susah untuk tidur.
Ku kirim pesan pada Akio untuk dibukakan pintu kamarnya, agar aku dengan mudah bisa masuk ke dalam kamarnya.
Akio pun langsung membalas dengan mengatakan sudah membuka kunci kamarnya.
Ku buka pintu kamarku dan mengintip keluar, suasana lorong hotel nampak sepi, aku pun keluar dan menutup pintu kamarku, tidak lupa langsung ku kunci, aku berniat tidur di kamar Akio malam ini.
" Malam-malam begini mau kemana?", suara seorang pemuda yang baru saja keluar dari kamar sebelah membuatku kaget.
" Aku....", kucoba untuk berpikir cepat mencari alasan yang tepat.
" Aku mau ke minimarket, ada yang harus ku beli", kilahku, itu hanya alasan saja, tidak lucu kan jika aku mengatakan mau ke kamar Akio.
" Boleh aku temani?, ini sudah cukup malam loh, pencahayaan menuju minimarket juga tidak terlalu terang, jadi kalau kamu nggak keberatan biar aku temani".
" Oh iya, perkenalkan namaku Banu Mahardika, aku dari Bandung, kita satu team loh, senang bisa berkenalan dengan gadis secantik dan sepintar kamu", bahkan pemuda itu mengajak berkenalan, sungguh momen yang sangat tidak aku inginkan. Di awal perkenalan saja dia sudah terlalu berlebihan.
" Aku Alma, tapi maaf aku bisa pergi sendiri, aku sudah terbiasa sendirian", seharusnya aku masuk kamar Akio, tapi kenapa sekarang justru aku harus pergi ke minimarket karena kebohongan yang kulakukan.
Ku kirim pesan pada Akio
~ Cepatlah keluar, aku butuh bantuan ~
Dan Akio langsung membuka pintu kamarnya, menatap ke arahku sambil tersenyum, dan saat aku menunjukkan keberadaan Banu dengan lirikan mataku, Akio pun menatapnya dengan tatapan penuh amarah. Aku tahu dia pasti sangat marah karena ada pria lain yang mendekatiku. Aku juga tahu, Akio pasti bisa langsung tahu apa tujuan Banu, karena dia bisa membaca isi dari pikiran dan hatinya.
" Mau kemana Al?, aku mau ke minimarket, apa kamu butuh sesuatu? biar aku belikan sekalian".
Akio sudah lebih dulu membaca pikiranku, dan mengetahui kemana tujuanku saat ini.
" Benar juga, aku titip saja sama kamu, tolong belikan beberapa snack dan juga roti, aku biasanya kelaparan di malam hari".
" Kalau sudah beli letakkan saja di depan pintu, kemudian ketuk saja pintu kamarku, akan aku ambil secepatnya".
Aku pun kembali masuk ke dalam kamar.
" Nggak jadi ke minimarket nya, aku masuk kedalam dulu ya", ucapku sambil menatap Banu.
Dan setelah aku masuk, Akio berjalan melewati Banu yang menatap Akio dengan sengit. Ku tutup dan ku kunci kembali pintu kamarku. Saat itu Banu masih berdiri di depan kamar.
Selang beberapa waktu kemudian, kurang lebih 30 menit Akio sudah kembali, dan mengetuk pintu sesuai pesanku tadi, padahal dia bisa saja langsung masuk ke dalam kamar, karena pintu kamar sengaja tidak aku kunci. Aku juga sudah memberi tahu hal itu pada Akio melalui pesan singkat
Dan jawaban dari kecurigaan ku ternyata benar, saat kubuka pintu kamar aku melihat Akio membawa kantong belanjaan, Akio benar-benar membelanjakan aku snack dan roti.
Namun rencana untuk tidur bersama dengan Akio malam ini mungkin akan gagal, ada-ada saja kendala yang tiba-tiba muncul. Karena ternyata tidak sampai disitu. Saat Akio mengetuk pintu kamarku dan aku berharap dia bisa masuk ke dalam kamarku, ternyata Akio tetap berdiri didepan kamar sambil mengulurkan kantong belanjaan yang dibawanya.
Singkat cerita, ternyata saat di minimarket Akio bertemu dengan Lidia dan saat ini Lidia sedang ikut berdiri di depan kamarku sambil membawa kantong belanjaan yang terisi penuh.
" Andai aku tahu kamu hendak ke minimarket, pasti tadi aku ajak bareng", Lidia tersenyum lebar dan sok akrab. Aku hanya meringis, memaksakan diri untuk tersenyum.
" Tadi Akio bilang mau ke minimarket juga, makanya aku titip sekalian".
" Sudah malam aku tidur duluan ya, makasih Akio".
" Selamat malam semuanya", aku menyapa mereka dan menutup pintu kamar, tentu saja aku tidak benar-benar akan tidur, karena saat ini mataku belum merasa ngantuk sedikitpun.
***
Author POV
Alma merebahkan diri diatas kasur, sambil menatap kantong bertuliskan nama sebuah minimarket yang didalamnya berisi banyak snack dan roti. Dia sudah terlalu banyak berbohong hari ini. Karena sebenarnya Alma tidak pernah tiba-tiba terbangun di malam hari karena lapar, dan makan roti ataupun snack seperti yang dikatakannya tadi pada Banu.
Apalah daya, dia yang tidak terbiasa untuk berbohong otaknya menjadi buntu saat harus mencari alasan dan terpaksa berbohong agar Banu tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan olehnya.
Dan ternyata di kamar satunya, Akio pun memikirkan cara agar dia bisa keluar dan langsung masuk ke kamar Alma tanpa dipergoki oleh tetangga kamar yang lain.
Akio pun melakukan obrolan melalui video call.
" Apa kamu sudah ngantuk?", Akio menatap Alma yang sedang rebahan di atas kasurnya sambil menggelengkan kepalanya.
" Aku tidur terlalu lama siang tadi, makanya aku tidak merasa ngantuk sama sekali".
" Aku akan membuka kunci pintu kamarku, dan kau bisa masuk kesini, tapi lihat situasi dan kondisi disekitar ya".
" Jangan sampai ada yang melihat".
Akio pun mengakhiri obrolan dengan Alma dan langsung membuka pintu kamar. Saat mengintip keluar lorong hotel terlihat sepi. Akio pun langsung keluar, mengunci pintu kamarnya dan hendak masuk kedalam kamar Alma. Namun lagi-lagi seperti sebelumnya, Banu keluar dari kamar nya. Akio langsung berpura-pura berjalan dan menuju keluar hotel.
Sambil berjalan Akio mengirim pesan untuk Alma.
~ Sekarang aku ada di luar hotel, laki-laki yang menempati sebelah kamarmu itu seperti seorang satpam yang tiba-tiba saja muncul tiap kali aku hendak masuk ke kamarmu, tunggulah beberapa saat lagi, mungkin aku akan masuk ke kamarmu saat mereka semua sudah tidur~
Alma hanya bisa menggelengkan kepalanya, merasa lucu, tapi juga geram dengan keadaannya sendiri saat ini.
Sambil menunggu Akio datang ke kamarnya Alma pun mendengarkan lagu dari ponsel miliknya. Untuk menghilangkan jenuh dan juga suntuk yang tengah dirasakannya saat ini.
Lagu yang sering sekali diputar oleh ibunya saat tape recorder peninggalan ayahnya belum rusak.
... *Aku masih seperti yang dulu*
*Menunggumu sampai akhir hidupku*
*Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban*
*Demi keutuhan kau dan aku*
… *Biarkanlah aku memiliki*
*Semua cinta yang ada di hatimu*
*Apapun kan kuberikan cinta dan kerinduan*
*Untukmu dambaan hatiku*
… *Malam ini tak ingin aku sendiri*
*Kucari damai bersama bayanganmu*
*Hangat pelukan yang masih kurasa*
*Kau kasih, kau sayang*
… *Aku masih seperti yang dulu*
*Menunggumu sampai akhir hidupku*
*Kesetiaanku tak luntur hati pun rela berkorban*
*Demi keutuhan kau dan aku*
… *Malam ini tak ingin aku sendiri*
*Kucari damai bersama bayanganmu*
*Hangat pelukan yang masih kurasa*
*Kau kasih kau sayang*
… *Malam ini tak ingin aku sendiri*
*Kucari damai bersama bayanganmu*
*Hangat pelukan yang masih kurasa*
*Kau kasih kau sayang*
… *Malam ini tak ingin aku sendiri*
*Kucari damai bersama bayanganmu*