
POV Alma
Karena tadi kami sudah makan siang bersama saat menunggu juri mengakumulasi penilaian lomba, jadi usai pengumuman hasil lomba di bacakan, kami langsung kembali ke sekolahan.
Saat kami sampai di sekolah jam sudah menunjukan pukul 1 lewat 20 menit. Berarti 10 menit lagi bel pulang berbunyi. Kami serombongan langsung dipersilahkan masuk ke ruang kepala sekolah.
Kali ini kepala sekolah tidak menampakkan wajah seceria tahun lalu, bahkan beliau tidak menyambut kami dengan suka cita, mungkin karena hanya satu mapel saja yang berhasil meraih juara 1, tidak seperti tahun lalu yang meraih dua juara pertama.
Salah siapa tidak memilih Akio menjadi perwakilan sekolah lagi, Akio yang sudah jelas dulu meraih juara 1 malah tidak diikut sertakan, tapi ya sudahlah, semua sudah terjadi, jika sebelumnya aku protes pun mungkin tidak akan ada yang mendengar.
Bahkan mungkin akan dikira aku mengajukan pacarku ikut menjadi peserta agar aku bisa selalu pergi kemana-mana berdua dengan pacarku. Dan itu akan membuat semuanya menjadi semakin tidak nyaman.
Kami dipersilahkan duduk oleh Pak Bayu dengan memberi kode kepada kami . Hanya saja pak kepala sekolah masih terdiam, dan itu membuat kami semakin bingung untuk tetap berdiri atau duduk seperti perintah Pak Bayu.
Suasana hening di dalam ruang kepala sekolah membuat suara langkah kaki mengenakan sepatu pantofel yang sedang melewati ruang kepala sekolah menjadi terdengar begitu keras.
" Duduklah, kenapa masih berdiri saja", kalimat pertama yang pak kepala sekolah ucapkan pada kami. Kami semua akhirnya duduk di sofa panjang yang ada di ruang kepala sekolah.
Pak kepala sekolah berjalan ke arahku.
" Selamat Alma, bapak memang sudah yakin kamu akan menang". Pak kepala sekolah hanya memberi selamat kepadaku, Aku melihat Pak Bayu mengernyitkan keningnya menatap kepala sekolah yang berdiri membelakangi kami sambil mengambil sesuatu di mejanya.
" Awalnya aku sudah mempersiapkan hadiah dari uang pribadiku untuk yang bisa menjadi juara, dan karena hanya Alma yang berhasil meraih juara pertama, maka uang sejumlah dua juta yang harusnya dibagi berlima, hanya aku serahkan pada Alma saja".
Pak kepala sekolah memberikan amplop coklat padaku berisi uang tunai dua juta rupiah.
" Tidak usah Pak, karena saya sudah mendapatkan uang pembinaan dari perlombaan tadi", tolak ku secara halus.
Aku bisa melihat ekspresi tidak suka dari Pak Bayu dan juga teman-teman yang lain, tentu saja ekspresi itu bukan ditujukan padaku, namun pada sikap pak kepala sekolah yang pilih kasih. Dan aku tidak mau hanya karena uang sejumlah dua juta rupiah, akan membuat hubungan baikku dengan yang lain menjadi tidak baik lagi.
Mungkin dulu uang dua juta sangat besar nilainya untukku, tapi sekarang tidak lagi, bahkan tabunganku dari yang pembinaan pemenang olimpiade tahun lalu sudah terkumpul hingga puluhan juta.
Namun lagi-lagi aku dibuat tidak bisa menolak oleh pak Bayu.
" Niat baik jangan ditolak, terima saja Al", gumam Pak Bayu, bertepatan dengan bel pulang berbunyi.
" Karena sudah saatnya pulang, kami semua juga ingin ijin pamit pulang Pak kepala sekolah", aku bisa melihat ekspresi Pak Bayu yang tidak seceria tadi.
Pak Bayu mengambil amplop coklat dan memasukkan ke tas yang masih aku bawa.
" Baiklah, terimakasih untuk semuanya, semoga kalian bisa belajar dari pengalaman hari ini untuk menjadi lebih baik lagi".
Pesan pak kepala sekolah tidak di respon oleh Pak Bayu maupun ke empat peserta lainnya.
Kami berenam keluar dari ruang kepala sekolah. Diluar masih rame karena murid yang lain sedang keluar dari kelas masing-masing.
" Pak Bayu!", panggilku ketika pak Bayu akan kembali ke ruang guru.
" Kenapa ?".
" Titip ini, untuk dibagi ke teman-teman yang lain, bagaimanapun mereka juga sudah mengusahakan yang terbaik", ku serahkan amplop coklat yang tadi Pak Bayu masukkan kedalam tasku. Uang dua juta yang diberi oleh pak kepala sekolah.
" Kamu memang sangat pengertian Alma, ini juga tujuanku segera memasukkan uang itu ke tas kamu, dari pada diambil lagi oleh pak kepala sekolah, kan sayang.
" Baiklah, akan bapak sampaikan ke empat peserta lainnya. Apa kamu sudah mengambil bagianmu?".
Aku mengangguk, " saya permisi pak, mau pulang sekarang". Aku pamit pada Pak Bayu karena melihat Akio di ujung lorong melambaikan tangan padaku, mengajak pulang bareng.
Pak Bayu tersenyum, " hati-hati dijalan, dan terimakasih", ucapnya.
Aku pun mengangguk sambil berlari menuju tempat Akio berdiri.
" Selamat ya, kamu memang bisa diandalkan, dan tidak pernah mengecewakan", Akio mengusap rambutku. Beberapa murid tersenyum-senyum melihat adegan so sweet yang di lakukan Akio padaku. Termasuk Pak Bayu yang masih berdiri di depan ruang guru.
" Kita pulang sekarang", ucapku sambil menggandeng tangan Akio menuju mobil kami di parkiran" hari ini hari kamis, jadi tidak ada jadwal les tambahan, dan Akio sengaja membawa mobil sendiri karena tadi pagi Pak supir sedang kurang sehat.
" Tadi... apa ada kejadian yang berkesan?", Akio memulai percakapan di dalam mobil, matanya masih menatap ke depan sambil menyetir.
" Nggak ada sih.... semuanya biasa saja, hanya saja sekolahan SMA Budi Utomo itu kurang terawat, tidak seperti sekolah kita yang bersih dan rapi, membuat nyaman untuk belajar", ucapku.
" Maksud kamu disana sekolahannya kotor dan tidak terawat, begitu?".
Aku mengangguk, " bahkan selokan pembuangan airnya saja bau tidak enak, belum lagi sampah daun dan lainnya berserakan, semakin membuat tidak nyaman, makanya aku minta untuk tidak berlama-lama di sana".
" Tadi.... melihat dari ekspresi pak kepala sekolah, sepertinya dia kecewa, karena hanya satu murid saja yang menjadi juara 1, lebih buruk dari tahun kemarin".
" Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah berusaha yang terbaik. Seharusnya beliau tidak memperlihatkan kekecewaan terlalu jelas seperti itu".
" Salah siapa tidak mengikutsertakan pacarku yang jenius ini, yang jelas-jelas tahun kemarin menjadi juara pertama. Entah apa yang ada dipikiran para guru, sehingga kamu tidak lagi masuk menjadi perwakilan sekolah kita".
Akio tetap diam, entah apa yang sedang dipikirkannya.
" Apa tidak ada kejadian menarik lainnya yang harus kamu ceritakan?", aku masih bingung dengan pertanyaan Akio, maksudnya kejadian apa?.
Aku pun menggelengkan kepalaku, " tidak ada kejadian yang menarik sih, semuanya biasa saja", terang ku.
Akio tak lagi berkomentar, lagi-lagi aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya, awalnya aku khawatir mungkin Akio akan marah dan mendiamkan aku usai lomba. Tapi justru dia memberi selamat dan bersikap tenang, dan baik-baik saja. Tidak menampakkan jelous, ataupun cemburu.
Apa mungkin Akio begini karena dia sudah percaya sepenuhnya padaku?, atau mungkin Akio punya mata-mata yang mengikuti ku disana, sehingga dia tidak marah-marah karena mata-matanya menyampaikan semuanya baik-baik saja. Entahlah... hanya Akio dan Tuhan yang tahu.
Kami pun sampai di rumah dan ada pemandangan berbeda di depan rumah. Ada beberapa polisi yang berdiri di depan rumah kami. Apa yang terjadi?, apa penelpon gelap itu benar-benar melaporkan Akio ke polisi?, atau ada maling dirumah kami?. Mungkin juga teman-teman Akio di penjara membuat kegaduhan.
Begitu banyak kemungkinan yang aku pikirkan, dan saat turun dari mobil, kami berdua langsung menghampiri tiga orang polisi yang tengah mengobrol dengan tukang kebun kami.
" Selamat siang Pak, ada keperluan apa bapak ke rumah kami?", Akio langsung menyapa dan menanyakan apa keperluan para anggota kepolisian tersebut.
" Selamat siang, Mas, apa ini Mas Akio yang tinggal disini?".
" Benar saya Akio....".
" Begini Mas, ke enam teman Anda yang beberapa waktu lalu mendapat jaminan dari Anda, menghilang dari sel tahanan. Jadi kami melakukan pemeriksaan di rumah Anda, tapi hasilnya nihil".
" Maksud bapak, mereka berenam kabur dari penjara?", Akio nampak terkejut dengan kabar yang disampaikan pihak kepolisian.
" Benar sekali Mas Akio. Kami sedang melakukan pencarian. Karena Anda yang menjamin mereka, maka tempat pertama yang kami periksa adalah rumah Anda. Mohon maaf jika mengganggu kenyamanan Anda".
" Namun karena tidak ada yang mencurigakan di rumah ini, maka kami permisi dulu Mas Akio. Jika nanti mereka datang kemari, mohon kerjasamanya, hubungi saja nomor ini ", Pak polisi menyerahkan kartu namanya dan pamit untuk kembali ke kantornya.
Akio hanya mengangguk, aku merasa kasihan karena dia harus terus bermasalah karena teman-temannya itu. Kadang aku merasa masih lebih baik keadaan dahulu, dimana tidak ada alien lain yang berada di bumi ini.
Cukup Akio saja, agar tidak menimbulkan masalah-masalah seperti saat ini.