
" Waaaah..... mau makan enak kok nggak ajak-ajak", Akio ternyata sudah berada di ruang tengah, entah kapan dia datang, karena ibu, Alma dan Bara tengah asyik mengobrol.
" Loh, kok sudah disini A...., apa urusannya sudah beres?, aku kira lama, makanya aku nggak ikut. Kalau tahu urusannya cuma sebentar, tadi aku ikut ke sana, nemenin".
Alma berdiri mengambilkan piring bersih untuk Akio, mengambilkan nasi dan sup ayam untuk suaminya itu.
" Coba deh sup ayam buatan ibu, rasanya asli enaaak banget A...".
" Ini sambel terasinya juga top banget".
Alma masih saja memuji masakan Ibunya.
Maemunah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Ayo di makan, mumpung masih hangat, Alma terlalu berlebihan memuji masakan ibu. Sebenarnya nggak se enak itu, tapi karena Alma lagi lapar, jadi makan apa saja dibilang enak". Maemunah merendah, karena memang menurutnya rasa sup ayam buatannya biasa saja.
Akio duduk di samping Alma, dan menyuap nasi dan sup ayam ke dalam mulutnya.
" Ibu terlalu merendah, benar yang Alma katakan, sup ayam sama sambel terasi ini menjadi satu perpaduan yang sangat lezat".
Akio makan dengan lahap, bahkan sampai nambah nasi.
Setelah makan siang bersama selesai, Bara membantu Alma membereskan piring kotor dan dibawanya ke belakang untuk di cuci.
" Bagaimana progres kios loundry nya Bu?, apa setelah menambah karyawan sudah tidak keteter lagi pekerjaannya?", Akio menyenderkan tubuhnya di senderan kursi.
" Semua pekerjaan sudah bisa di handle , dan semakin banyak juga yang mempercayakan cuciannya di sini".
" Ternyata saran kamu untuk buka usaha laundry sangat efektif dan efisien, memang di daerah sini belum banyak tempat loundry, jadi nggak banyak pesaing", ucap Maemunah bersemangat.
Maemunah menatap Akio yang terlihat lelah karena menyandarkan punggungnya ke kursi.
" Istirahatlah di kamar Alma, tiap hari ibu bereskan kamarnya, jadi masih bersih".
Akio memang merasa lelah, dan juga ingin rebahan, namun dia baru saja selesai makan, jadi tidak boleh langsung tiduran, bisa jadi buncit perutnya.
" Iya makasih Bu, nanti nunggu nasi sama supnya turun ke perut dulu, baru Akio ke kamar. Kalau ibu mau kembali ke kios nggak apa-apa, Akio nanti bisa bermain-main dengan Bara".
Maemunah memang sudah meninggalkan kios cukup lama, karena tadi masak dahulu.
" Ya sudah ibu tinggal ya, maaf nggak bisa ngobrol santai lebih lama".
Akio mengangguk sambil tersenyum, " nggak papa Bu, maaf nggak bisa bantu-bantu di kios", ucap Akio sambil menatap kepergian mertuanya.
" Apa ibu sudah ke kios Kak ?", Bara keluar dari dapur setelah selesai membantu Alma mencuci piring.
" Iya, baru saja keluar, ada perlu apa?, di susul saja ke depan", Akio berdiri dan pindah ke kamar, namun Bara mengikutinya.
" Kenapa?, apa mau main sama kakak?", Akio menunduk menatap Bara.
" Ada yang ingin kutanyakan, ini hanya kita berdua yang tahu", ucap Bara lirih.
" Aduh, sudah mulai rahasia-rahasia an nih.... kak Alma nggak di kasih tahu, ada apa sih?".
Bara hanya meringis saat mengetahui Alma sudah berada di belakangnya.
" Ini adalah urusan laki-laki, jadi kakak jangan ikut ikutan".
Ucapan Bara membuat Alma tertawa lepas karena begitu gemas mendengar kalimat yang di sampaikan adik kecilnya itu.
" Ooh... jadi kakak nggak boleh ikut-ikutan, oke lah kalau begitu. Kakak ke kamar dulu ya, mau istirahat". Alma masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya, tapi dia menempelkan telinganya di pintu kamar, agar bisa mendengarkan percakapan adik dan suaminya itu.
Akio pura-pura tidak tahu dan bertanya. Padahal dia sudah tahu apa yang hendak Bara tanyakan, dengan membaca pikirannya.
" Ini tentang Ibu, aku tidak mau membahas dengan kak Alma, karena setiap kali membahas masalah ini, dia jadi sangat sensitif, dan bisa-bisa dia kabur dan tiba-tiba pergi dari rumah lagi seperti sebelumnya".
Ucapan Bara sungguh seperti orang dewasa, tidak sesuai dengan usianya
" Memangnya Ibu kenapa?, tapi kalau kakak Akio boleh kasih saran, kamu harus tetap cerita sama kakakmu, meski itu kabar yang tidak menyenangkan". Akio duduk di kursi yang berada dekat dengan pintu kamar Alma.
" Baiklah, kak Alma pasti aku kasih tahu, tapi nanti ".
" Sebenarnya kemarin ibu mengatakan padaku, jika beliau merasa kesepian semenjak Kak Alma tinggal bersama kak Akio".
" Ibu ingin menikah lagi, katanya agar rumah ini tidak terlalu sepi ".
Akio tersenyum dan mengusap kepala Bara dengan lembut. " Kalau menurutmu sendiri, apa sudah siap punya ayah tiri?", Akio membalikkan pertanyaan.
Bara langsung menggeleng, " Sebenarnya aku kasihan sama ibu, karena harus capek mencari penghasilan agar bisa mencukupi kebutuhan kami. Bahkan untuk mengurusku saja, ibu sampai tidak punya waktu".
" Karena itulah aku lebih dekat dengan kak Alma, daripada dengan ibuku, aku juga tahu jika kak Alma tidak pernah setuju ada yang menggantikan posisi ayah yang sudah meninggal".
" Tapi aku juga kasihan sama ibu, karena harus bisa menjaga diri sendiri dan aku, tanpa perlindungan seorang suami".
" Ibu juga harus menolak beberapa tamu laki-laki yang datang, dan bahkan beberapa suami dari ibu-ibu komplek yang sering datang karena ingin mendekati ibu".
" Kadang ibu juga harus menerima cacian, hinaan, bahkan kekerasan yang dilakukan ibu-ibu komplek yang cemburu karena suaminya datang bertamu kemari".
" Bara kasihan melihat ibu diperlakukan seperti itu".
Alma yang masih menguping pembicaraan Bara dan Akio kini tak bisa lagi menahan air matanya.
Ternyata Bara yang masih sangat kecil sudah memikirkan bagaimana perasaan ibunya selama ini. Bahkan dirinya sendiri masih belum bisa bersikap se-dewasa Bara. Dan kini ucapan Bara membuka pikirannya untuk bisa bersikap lebih dewasa, dan tidak egois.
Namun Alma tetap berdiri di balik pintu kamar. Karena tidak mau membuat Bara kaget, jika tiba-tiba dia keluar.
" Sebaiknya kamu bahas ini dengan kakakmu, kalau kak Akio setuju dengan apapun keinginan kamu". Akio membuka pintu kamar, membuat Alma kaget karena ketahuan sedang menguping.
" Kak Alma !", Bara menatap Alma yang sedang meringis malu karena ketahuan menguping.
Alma langsung berlari menghambur, memeluk Bara. " Maafkan kak Alma selama ini. Kakak hanya memikirkan dari sisi kakak saja, tidak memikirkan bagaimana perasaan ibu selama ini".
" Kak Alma tidak akan melarang ibu lagi, jika ibu sudah ada calon dan ingin serius".
" Kakak juga akan merasa bahagia dan tenang di rumah kak Akio, jika ibu dan kamu sudah ada yang melindungi".
Bara membalas pelukan Alma dengan erat.
" Nanti akan ku sampaikan pada ibu apa yang barusan kakak ucapkan".
" Ibu pasti akan sangat senang, karena akhirnya mendapatkan restu dari kak Alma".
Alma dan Akio akhirnya pamit terlebih dahulu, pulang ke rumah Akio, namun saat ke kios untuk berpamitan pulang, Maemunah ternyata tidak berada di kios, sedang mengambil cucian ke rumah pelanggan nya.
" Nanti tolong pamit kan ke ibu kalau aku pulang ", pesan Alma pada salah satu pekerja di loundry.
" Siap mba Alma, nanti saya sampaikan pada Ibu. Sebenarnya driver pengantar cucian sedang berhalangan masuk, karena itu ibu Maemunah mewakili mengantar dan mengambil cucian ke rumah langganan", terang salah satu pegawai Maemunah.
Alma mengangguk mengerti. " Kalau begitu kami permisi dulu mba". Alma berjalan keluar kios, diikuti Akio yang berjalan disampingnya, menyusuri gang menuju tempat dimana mobil Akio di parkir.